Monday, April 24, 2017

UK Trip – Day 4 – Hello Edinburgh


Sepanjang perjalanan ke Edinburgh kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Banyak padang rumput ditambah domba-domba tersebar bebas lagi makan. So cute.

Kami sampai di Terminal Bus Edinburgh  Waverley kira-kira pukul 9 pagi. Rencana awal yang sudah kami susun adalah ke tempat rental car bernama Enterprise untuk ambil mobil yang sudah Indra pesan sebelumnya. Ya, kami rencana sewa mobil selama di Edinburgh termasuk untuk ke Scottish Highland keesokan harinya. Jadilah kami berempat menggeret koper kami ke rental car tersebut. Sampai disana, ternyata kami ditolak karena nggak ada SIM internasional. Jeng jeng..!

Indra sudah berusaha menjelaskan bahwa ketika memesan dari branch rental car di London tidak ada masalah walaupun SIM Indra merupakan SIM Indonesia (bukan Internasional). Selain itu Indra pernah sewa mobil juga dari rental car yang sama untuk sewa dari London sampai ke Manchester. Namun mbak petugas tetap kekeuh menolak dan bahkan tidak memberikan solusi lain. They just can’t accept it.
Kami pun bingung karena rencana kami di Scotland sontak berantakan gara-gara hal tersebut. Di tengah kebingungan itu kami memutuskan untuk cari café dulu untuk duduk, mikir, dan sekalian sarapan. Mungkin dengan tubuh kenyang dan hangat bisa dapat jalan keluar lain. Kami keluar ke jalan raya dan akhirnya menemukan Costa di pinggir jalan (saking udah bingungnya kami waktu itu sampai nggak menyadari bahwa pemandangan di sekitar Waverley ternyata bagus! Kami baru menyadari nya ketika akan pulang dari Edinburgh beberapa hari kemudian).

Di café kami memikirkan beberapa alternatif rencana. Mengingat jika kami tetap tidak bisa sewa mobil kami harus memikirkan bagaimana transportasi ke Scottish Highland. Belum lagi kami sudah pesan Airbnb untuk keesokan malamnya di Inverness (sebuah kota kecil di daerah Highland). Kami sempat berpikir apakah tidak jadi ke Scottish Highland dan langsung kembali ke London besok (dimana rencana kami sebelumnya adalah ke Highland keesokan harinya lalu kembali ke London lusa). Ataukah kami langsung ke Liverpool keesokan harinya sebagai ganti tidak jadinya kami ke Highland. Urusan airbnb di Inverness sudah kami ikhlaskan karena nggak mungkin banget kami nginep disana tanpa sewa mobil.

Saat itu kemudian saya menghubungi teman sekolah saya yang sedang sekolah S2 di Edinburgh, Akmal, untuk minta bantuan apakah dia atau temannya punya SIM internasional ataukah ada referensi rental car yang menerima SIM yang tidak internasional. Sementara kami juga mencari info alternatif rental car via internet. Singkat kata kami mendapatkan beberapa nama rental car  untuk dicoba dihubungi. Namun hasilnya nihil, mayoritas mensyaratkan SIM Internasional. Kalaupun ada yang menerima, kami harus deposit sekitar kurang lebih setara Rp.20 juta (lupa persisnya dan nama rentalnya) yang pada akhirnya nggak kami ambil karena nominal nya yang cukup bikin sesak napas.

Akmal akhirnya menawari apabila kami mau titip koper sementara di tempat dia. Jadilah kami mencoba mendatangi satu rental car terakhir, kalau masih nggak bisa juga kami memutuskan untuk titip koper lalu explore Edinburgh dengan jalan kaki, besok ke cari tur ke Highland. Jadwal pulang ke London tidak berubah di lusa, namun kami berpisah. Saya dan Mbak Citra langsung ke Liverpool untuk menghemat waktu.
Kami pun ke tempat Akmal dan merepotkan dia dulu dengan menitip koper-koper kami di flatnya. Udah gitu masih ditawarin minum pula. Thank you very much Akmal for your kindness. Setelah ngobrol sebentar, kami memutuskan untuk lanjut cari makan siang sambil cari tur ke Highland untuk besok dan cari penginapan untuk besok malam, ya..gara-gara kami nggak jadi menginap di Inverness otomatis di malam kedua besok kami belum punya tempat tinggal 😖.
Kami sempat mengajak Akmal untuk ikut makan siang tapi sayang dia nggak bisa karena sedang mengejar deadline pengumpulan disertasi.

Kami menemukan KFC dan akhirnya memutuskan untuk makan siang disitu sekaligus pesan tur dan penginapan. Nggak mau membuang waktu lebih banyak lagi (yang sudah banyak terbuang gara-gara masalah mendadak rental car ini), kami langsung menuju Edinburgh Castle. Kami coba naik bus kesana. Masih harus jalan lagi sih ke castle nya (dan jalannya nanjak). Jadi ketika sampai di atas kami sudah cukup lelah. Kami foto-foto sebentar di depan castle dan kemudian lihat-lihat tartan. Sebenarnya bisa masuk castle tapi bayar. Dan berhubung sedang tidak terlalu antusias, kami memutuskan nggak masuk ke dalam castle.
Di depan Edinburgh Castle

Di depan Edinburgh Castle
Setelah selesai dari Edinburgh Castle dan lihat-lihat tartan, kami menyusuri daerah old town di sekitar Royal Mile. Edinburgh ini kota nya cakep banget! Bangunan-bangunan di tengah kota nya masih bergaya abad pertengahan dan masih terpelihara. Jadi di tengah kencangnya angin dingin di Edinburgh kami berjalan di tengah kota dimana kanan kiri nya dikelilingi bangunan ala kastil. What a lovely view. Suka banget sama kotanya 💗💗💗.

Center of the City

Patung Hume di Edinburgh.
Jempol kakinya banyak dipegang orang makanya warnanya beda sendiri
Di Royal Mile ini, kami sempat lihat seorang Bapak memainkan bagpipes (alat musik khas Scotland) di pinggir jalan. Orang-orang banyak berkerumun dan si Bapak bilang “Kalau mau ambil foto, ambil foto aja! Jangan malu! BE A REAL TOURIST!” Hahaha…
Alhasil kami foto bareng si Bapak sambil kasih beberapa koin ke tempat musiknya.
Pose bareng Bapak yang pakai tartan dan bagpipes.
Tiap motif Tartan di Scotland menunjukkan clan keluarga tertentu
Ketika kami mengunjungi beberapa toko souvenir kami menemukan beberapa hal menarik seperti (sudah pasti) kain tartan yang lucu-lucu dan menggoda untuk dibeli dan sempat kepo liat papan di sebuah toko wine. Di papan yang cukup besar tersebut  ada tombol bertuliskan nama-nama daerah plus nama wine. Jadi misalkan pengen tau daerah highland wine khas nya apa, tinggal pencet, nanti lampu akan menyala di tenpat keterangan wine. Kita bisa lihat apakah wine khas nya beraroma fruity, sweet atau yang lainnya. Berhubung nggak minum wine jadi nggak begitu paham juga sih, tapi lumayan menarik juga untuk dilihat.
Papan Informasi Wine

Setelah itu kami melihat ada toko es krim yang penuh orang antri, ternyata lagi ada sale. Teman saya lantas ikutan antri untuk beli es krim. Kurang debus apalagi coba, di tengah suasana dingin, angin kencang, kedinginan, kami masih juga kepo cobain es krimnya. Yah.. selalu ada excuse lewat kata-kata ‘kapan lagi…mumpung disini’.

Ice cream!

Setelah selesai kami memutuskan untuk mengambil koper yang kami titipkan namun sebelumnya mampir beli snack  yang katanya khas Scotland: Deep Fried Mars Bar (Coklat Mars yang digoreng). Sensasi nya lumayan unik, kaya makan gorengan pisang coklat tapi ini isinya coklat semua. Haha..

Setelah ambil koper kami menuju ke airbnb tempat kami menginap. Naik apa? Naik uber..hahaha.
Berhubung kami sudah cukup lelah dan agak ribet dengan bawaan kami, kami memutuskan naik uber (memanglah ini anugerah Allah banget ada uber di UK. Tiap nyasar atau udah menyerah, langsung klik uber di smartphone) 🙈.

Begitu sampai di airbnb tempat kami menginap, ternyata owner nya masih otw dan sampai kira-kira setengah jam kemudian. Jadi kami sempat berdiri di depan rumah beserta koper kami. Mudah-mudahan nggak ada yang mencurigai kami dengan pemandangan tersebut. Hahaha..
Setengah jam kemudian Sarah, sang owner flat yang kami sewa, datang bersama dua anaknya yang lucu-lucu bangettt… Satu anak perempuannya, Ella, berambut panjang dan sangat cantik. Dan anak keduanya masih di dalam kereta bayi yang dibawa Sarah. Kami pun salut dengan Sarah yang datang tergopoh-gopoh, sambil bawa dua anaknya yang masih kecil, well..tanpa baby sitter atau siapapun yang membantunya, lalu dengan ramah mengajak kami masuk dan menjelaskan fasilitas-fasilitas di flatnya (yang mana lengkap banget). Luar biasa deh ini keren dan recommended banget. Sayang saya nggak hapal alamatnya, karena yang bagian ngurusin pesan airbnb adalah Indra dan Tania 😀.


We really enjoy our 1st day in Edinburgh!

Next: Day 5

Sunday, April 23, 2017

UK Trip – Day 3 – Buckhingham Palace and around


Di hari ketiga ini kami memulai perjalanan dengan niat menonton changing guards di Buckingham Palace. Jadwal pergantian penjaga sekitar jam 12 tapi kami udah sampai kira-kira 1 jam sebelumnya, karena banyak orang antri kepingin lihat. Spot kami memang nggak di paling depan tapi lumayan lah. Dengan muka tembok berusaha merapatkan barisan biar nggak diselak, kami sabar menunggu. Selama menunggu ada 1 polisi yang selalu mewanti-wanti agar orang-orang tertib jalan, kalau mau berhenti mending minggir (dan kalau minggir ini udah dapet posisi di belakang, jadi kebanyakan orang terus jalan berusaha cari spot).

Polisi yang jaga di depan Buckingham Palace


London Police
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, changing guards dimulai. Penjaga pengganti datang memasuki halaman Buckingham Palace, dan entah prosesi di dalam nya bagaimana karena kami nggak dapet spotnya. Ketika dapet posisi lumayan untuk ngintip, mereka lagi main band. Jadi kayanya sembari prosesi tukar jaga, mereka akan memainkan satu lagu populer dengan drumband nya itu. Pas kami ini kebetulan yang dimainkan lagu Tell Me More. Kebetulan itu lagu kesukaan saya ketika kecil! (bahkan ibu saya cerita waktu saya masih balita suka banget lagu ini). Haha..

Guards of Buckingham Palace
 Beranjak dari Buckingham Palace, kami mengarah ke Green Park yang terletak di seberang istana. Seneng deh kalo ke taman liat pohon-pohon bikin seger. Lalu kami menemukan pohon yang berbunga warna pink (entah cherryblossom atau bukan).

Cherryblossom?



Green Park

(pretend to) chatting
Di green park kami Cuma foto-foto sebentar lalu lanjut ke London Business School sekolahnya Indra dan mampir makan di Nando’s Peri Peri Chicken yang terkenal di UK. Nando’s ini ayam bakar dengan bumbu peri-peri asal Afrika Selatan, bisa pilih level pedasnya (walaupun pedas nya tetep beda dari pedas sambel di Indonesia). Makanan disini enak dan porsinya lumayan banyak, jadi puas.

Nando's Peri Peri Chicken

Setelah makan kami ke London Business School sebentar. Kami masuk dari pintu belakang dan Indra nunjukin pintu depan yang justru jarang dibuka. Yah siapa tau kan bisa rejeki sekolah disini.Hehe..

Tempat sekolahnya Indra

Abis foto sebentar di LBS lalu kami mampir ke London Central Mosque yang terletak nggak jauh dari LBS. Saya request untuk bisa sholat sekalian disini, biar tenang juga begitu loh. Masjidnya lumayan besar, walaupun tempat sholat untuk wanita ternyata kecil dan nggak ada tempat pinjam mukena seperti di Indonesia. Tapi berhubung udah pakai baju tertutup semua jadi nggak masalah sih..

London Central Mosque 

Selama perjalanan naik tube/underground, kami sempat foto sebentar waktu berhenti di Stasiun Baker Street. Kenapa? Karena disitu ada bangku yang ada siluet Sherlock Holmes 😎

Siluet Sherlock Holmes

Setelah itu kami sempatkan juga untuk mampir ke souvenir shop di sebelah museum Sherlock Holmes (kami nggak masuk ke museum/rumahnya Sherlock Holmes karena antri lumayan panjang dan kami bukan penggemar beratnya, jadi langsung melipir ke toko). Di toko souvenir yang dijual agak mahal tapi mungkin karena emang khas ya, nggak ada di tempat lain. Jadi saya cuma ambil 2 gantungan kunci aja.

Terakhir kami ke Camden Market yang terkenal itu. Kalo menurut saya Camden ini mirip Cihampelas nya Bandung (temen-temen saya pada ketawa aja pas saya bilang begini, masa disamain sama Cihampelas gitu). Tapi suasana di kanan kiri jalan yang banyak toko-toko bener-bener mirip Cihampelas menurut saya. Ya kerenan Camden sih emang..Haha..
Yang menyenangkan adalah disini harganya murah-murah banget. Kalo mau cari souvenir disini paling pas. Saya sendiri pas beli dikasih bonus sama yang jual, “this is for you, sister” gitu katanya. Hmm, mungkin liat saya pakai jilbab dan yang jual muslim juga (karena panggilan sister disana biasanya ditujukan untuk ke muslimah). Alhamdulillah..
Di Camden ini juga segala ada, mau cari jaket, tas kulit dll juga ada. Tapi kami nggak sampai menelusuri semua mengingat keterbatasan waktu dan kantong 😀.

Jalan menuju Camden Market



Setelah selesai keliling-keliling di hari kedua, kami balik ke flat lebih cepat karena persiapan malamnya kami akan naik bus ke Edinburgh. Ada 2 alternatif bus yang banyak dipakai di UK: Megabus atau National Express. Kali ini kami memilih naik National Express karena harganya waktu itu lebih murah. Bus berangkat sekitar jam 10 malam dan akan memakan waktu perjalanan kurang lebih 8 jam. Waktu di bis kami dapat tempat duduk di belakang dekat toilet, karena kami naik ke bis hamper paling terakhir. Saya dapat kursi persis di sebelah toilet tapi biarin lah demi dapat duduk dekat kaca. Biar bisa liat bagusnya pemandangan ke Edinburgh keesokan harinya.

Ok then, Edinburgh here we come…

UK Trip – Day 2 – Hello London

Previous: Day 1

Setelah menempuh kurang lebih 7 jam lagi perjalanan, kami sampai di London Heathrow. Woww..sampai!
Seperti biasa kami harus melewati imigrasi yang di UK ini namanya “UK Borders”. Kesan pertama ketika sampai di UK Borders ini: rame banget, antriannya panjang. Banyak banget orang ke UK ya..atau entah kabarnya karena lagi spring break juga di daerah Eropa jadi mungkin banyak yang wisata ke Inggris. Kami antri sekitar 1 jam sampai ke petugas imigrasi. Petugas menanyakan pertanyaan standar seperti “kalian ke UK dalam rangka apa? Berdua aja?”. Nggak lama, petugas pun memberikan cap imigrasi di paspor kami. 

Yeay Alhamdulillah! Hello London!

Keluar imigrasi, permasalahan kami selanjutnya adalah nomor hp. Untung di Heathrow wifinya cukup kencang, jadi sementara nunggu imigrasi 1 jam kami pakai wifi dulu. Perihal membeli nomor UK, kami mengikuti saran teman kami untuk beli nomor di bandara saja. Tadinya udah sempat khawatir tapi ternyata mudah. Tinggal pakai kartu kredit lalu pilih paket kartu sim card nya yang mana. Kami beli nomor “three” dengan harga kurang lebih £30 dapat paket 12 GB data internet, dapet bonus telpon dan sms juga. Simcardnya pun sudah disesuaikan ukurannya bisa dipakai untuk sim card biasa, micro simcard ataupun nano simcard. Begitu dipasang simcardnya langsung bisa dipakai, nggak pakai ribet. Keren deh.

Setelah itu kami ke flat teman kami di London. Salah satu alasan kami ke London memang karena ada teman yang sedang sekolah disini, jadi kan lumayan bisa numpang tinggal dan jalan-jalan bareng  😏
Karena kami agak bimbang mau naik apa kesana, jadi kami memutuskan naik taksi (yang mana kami agak menyesal karena ternyata mahalll… tapi yaudahlah ya, agak ribet juga bawa beberapa bawaan). Taksi nya cukup lapang (kalo udah mahal masih sempit juga mah…) jadi koper saya didalam sempat terguling. Alhasil waktu sampai di flat teman kami, begitu pintu taksi terbuka, koper langsung jatuh keluar. Teman saya sambil ketawa bilang “Ya ampuun..maksudnya apa nih baru sampe langsung buang koper?” Well~ percayalah itu nggak seperti kelihatannya.

Teman kami Indra dan Tania ini sangat baik. Udah dikasih tempat nebeng tinggal, pas kami datang langsung disambut turkey yang dibumbu pedas gitu plus nasi hangat. Luar biasa banget kan. Setelah kami istirahat sebentar dan siap-siap, kami berempat mulai explore London, dimulai dengan perjalanan ke trademarknya London: Big Ben.Kami jalan-jalan menggunakan transportasi umum seperti tube dan bus merah khas London itu, jadi pertama-tama kami beli dulu Oyster Card yang bisa didapat dengan harga £38 (£5 untuk kartu dan £33 untuk perjalanan unlimited selama 1 minggu).

Pemandangan sekitar flat tempat kami tinggal
Bus Merah Double Decker Khas London
Big Ben, London Eye, dan Westminster Bridge ini di satu daerah. Jadi kami bisa lihat dan foto-foto sekaligus. Di Westminster Bridge kami bisa lihat beberapa karangan bunga yang diletakkan orang-orang untuk mengenang korban penyerangan di London beberapa waktu lalu (sekitar bulan Maret kalau nggak salah). Yang saya salut, setelah adanya insiden tersebut, suasana di London masih aman terkendali. Saya pun yang notabene berjilbab awalnya agak takut akan dipersulit atau dicurigai orang, yah~ biasanya kan suka ada aja yang salah paham mendiskreditkan dan mengkaitkan Islam dengan terorisme. Nyatanya selama di London dari awal datang sampai kembali pulang ke Indonesia saya nggak merasa kesulitan apapun. Orang-orang pun ramah-ramah aja dan kadang cenderung cuek.
Kami foto-foto di sekitar Westminster Bridge, London Eye, dan nggak lupa di Telephone Box merah yang jadi ciri khas nya London.

That famous Red Telephone Box
Westminster Abbey. Tempat menikahnya Pangeran William dan Kate Middleton
Di-candid waktu lagi selfie

Hi Big Ben!
Setelah cukup puas foto-foto, kami berjalan ke arah Westminster Abbey, tempat nikahnya Pangeran William dan Kate Middleton tahun 2011 yang lalu. Katanya sih bisa masuk ke katedralnya tapi bayar, kami memilih nggak masuk dan lanjut jalan explore yang lain. Selanjutnya kami mampir ke Primark untuk cari sepatu buat dipakai ke Scottish Highland nanti, and I got my best deal! Boots seharga £6 saja (kalau di kurs nggak sampai Rp.100.000) ternyata udah enak dipakai kemana-mana. Such a big deal banget deh buat saya yang senang barang murah tapi berkualitas..haha.. Primark ini terkenal banget di UK. Seenggaknya saya menemukannya di kota yang sempat saya kunjungi: London, Liverpool dan Manchester. Terkenal karena barangnya cukup lengkap, banyak, dan harganya terjangkau. Sebelumnya saya udah baca di blog orang-orang juga banyak yang menyarankan ke Primark. Jadi, kalau ke UK pastikan mampir ke Primark 😀😀.

Setelah cukup lelah keliling-keliling, kami sepakat cari tempat ngopi (emang bener kata orang, kalau di Eropa pengeluaran printilan tapi sering adalah cari tempat duduk untuk sekedar ngopi atau ngeteh). Di UK ada 3 tempat ngopi selain Starbuck yang terkenal dan sering ditemukan di: Costa, Pret A Menger, dan Caffe Nero. Kami memilih ke Costa (maaf nama daerahnya lupa, pokoknya daerah dekat China Town dan ada square nya) karena ada tempat duduk outdoor nya. Suasananya itu bener-bener anugerah banget.. menikmati sore di outdoor, minum kopi/coklat hangat, di tengah suasana dingin, ditemani banyak pepohonan. Ah~ I even can’t describe by words.😍

Lucunya waktu kami lagi cari kursi kosong, teman saya Tania yang pertama dapet kursi. Orang yang baru beranjak dari kursi tersebut pakai jaket berhoodie dan ketika dia mendongak ternyata dia adalah Bambang Pamungkas! Tapi sedih sekali untuk mas Bambang, temen saya nggak mengenali. Dia sempat kaget (mungkin 2 x kaget, kaget pertama ketemu orang Indonesia, dan kaget kedua karena orang Indonesia ini nggak mengenali dia -.-“ ) Malah saya dan Mbak Citra yang heboh saling bilang bahwa itu Bambang Pamungkas. Ternyata, teman saya yang tidak mengenali Bambang Pamungkas ini cerita bahwa dia pernah ketemu Andika Pratama dan lagi-lagi nggak mengenali. Bahkan ketika si Andika udah kode bilang bahwa dia abis pulang shooting. Kayanya emang temen saya ini lebih banyak hapal artis Inggris kali ya.. 😄

Setelah dari Costa, kami lanjut jalan ke Trafalgar Square. Sampai disana sekitar jam setengah delapan malam dan matahari baru terbenam. Jadi dapet suasana senja yang asik. Nggak lama disitu, kami lanjut ke Piccadily Square. Tadinya Indra mau nunjukin bahwa di Piccadilly Square ada billboard-billboard besar menyala seperti suasana di Times Square nya New York, tapi sayang sekali lagi banyak yang diperbaiki jadi suasananya nggak dapet.

Sebelum ke Trafalgar mampir foto di depan Theater nya Harry Potter & the Cursed Child.
Pengen banget nonton apa daya tiket nya mahal banget 😖

Trafalgar Square at 8 p.m.
Akhirnya setelah hari gelap kami balik ke Westminster Bridge dan London Eye, sengaja untuk lihat suasana di malam hari. Dan ternyata baguuuusss bangetttt. Kilau emas dari Gedung Parlement plus Big Ben, beserta warna merah dari lampu London Eye nya sangat memanjakan mata. Untunglah Indra bawa tripod. Dengan penuh kesabaran dan berbekal skill fotografinya dia, jadilah kami punya foto-foto cakep di spot ini untuk kenang-kenangan. Padahal dalam prosesnya anginnya lumayan kencang, dingin, meler, capek, dll.. Tapi demii pemandangan yang indah ini kapan lagi.Hahaha..

Gedung Parlemen di malam hari. Keren bangett
London Eye di malam hari

Selesai foto-foto, kami balik ke flat untuk istirahat. Secara kami belum tidur dengan puas setelah 18 jam perjalanan.

That's all for 2nd day.

Next: Day 3


Saturday, April 22, 2017

UK Trip - Day 1 - Departure

Alhamdulillah salah satu target saya di tahun 2017 teralisasi: berkunjung ke UK!

Nggak pernah nyangka bakal bisa ke UK, kebayang aja nggak. Rasanya itu adalah Negara yang bukan menjadi prioritas untuk dikunjungi mengingat biayanya yang nggak sedikit. Tapi Alhamdulillah Allah SWT kasih jalan. Teman saya kuliah di London jadi saya pikir mumpung mereka belum pulang ke Indonesia, mumpung ada tempat tebengan nginep, mumpung ada yang jadi guide jalan-jalan bareng, bahkan kami berencana ke Scotland bersama, yaudah deh.. kapan lagi. Sempet maju mundur rencananya, akhirnya berbekal niat, harapan dan doa, kami baru mulai beli tiket dan urus visa bulan Februari! Agak mepet emang..haha..~
Tapi akhirnya terealisasi juga kami ke UK.


Saya pergi berdua dengan teman kantor saya, sebut aja Mbak Citra. Kami memutuskan naik Emirates setelah menimbang-nimbang beberapa hal. Berhubung saya belum pernah naik Emirates, jadi inilah pengalaman pertama saya dan saya cukup puas. Sebelumnya saya udah browsing blog-blog traveller lain yang pernah menggunakan Emirates juga, dan cukup sesuai dengan ekspektasi saya. Kursi nya cukup luas, makanannya enak (dapat makan berat dan snack), beberapa kali ditawarin minum juga.


Menu Makanan Emirate

Makanan Emirates
Lalu entertainment nya bagus. Secara saya membandingkan dengan waktu pergi ke China 3 tahun lalu (which is perjalanannya singkat cuma 5 jam dibanding ini total dengan transit sekitar 18 jam), kali ini pilihan film dan musik nya lebih banyak. Kurang apple to apple juga sih ya perbandingannya. Karena saya nggak terlalu update soal lagu dan film barat juga, lagu yang saya denger yang saya tau, misalnya lagu hits 90-an dan penyanyi mandarin or korea yang saya tau. Haha.. Selama perjalanan saya sempat nonton film baru judulnya “Lion” yang diangkat dari kisah nyata dan film mandarin. Sisanya nonton ulang Fantastic Beast dan Harry Potter and the Deathly Hallow *anaknya harry potter banget sih*


Terus yang oke lagi sih air show yang disuguhkan di pesawat. Kita bisa lihat secara live pemandangan diluar pesawat, tergantung kameranya dimana, biasanya ada yang shoot ke bawah (jadi bisa lihat bangunan dari atas) dan dari belakang (jadi bisa lihat landasan di depan). Keren kan! 😁😁



Flight Information

Air show dari kamera pesawat

Air show dari kamera pesawat

Air show dari kamera pesawat
Berhubung ini flight long haul pertama saya, waktu transit di Dubai lumayan berasa juga capeknya. Lumayan lah bisa ngelurusin kaki. Kami sampai di Dubai sekitar jam setengah satu dini hari. Akhirnya kami memutuskan untuk cari kopi. Di bandara Dubai ini Mbak Citra berniat tarik uang Dirham untuk transaksi di bandara, jadi kami ke salah satu ATM StandChart yang di sebelahnya ada money changer. Pilihan paling kecil adalah AED 500, jadilah pilih itu. Ternyata duit nya nggak keluar dong. Udah sempet protes ke mas-mas money changer di sebelahnya dan dia dengan menyebalkannya cuma bilang “oh mungkin duitnya habis” tanpa membantu (ya bukan urusan dia juga sih ya). Untungnya pas di cek saldo rekening nggak kepotong.


Alhasil kami tukar uang di money changer tersebut. Lagi-lagi karena kami belum sempat cari tau butuh tuker berapa dirham untuk di bandara, kami sebut angka minimal yang di ATM tadi : 500. Ternyata 500 itu banyaak..hahahahah…baru ngeh setelah duit nya kita pakai untuk beli kopi.



Perjalanan Jakarta-Dubai sampai transit so far lancar dan tidak ada masalah berarti. Sekitar 3 jam kemudian kami melanjutkan perjalanan ke London Heathrow. Pesawatnya udah pasti lebih besar dan ternyata ada beberapa bangku yang kosong, termasuk sebelah saya. Lumayan bisa taruh tas..


London here we come…! 😎

Monday, April 24, 2017

UK Trip – Day 4 – Hello Edinburgh


Sepanjang perjalanan ke Edinburgh kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Banyak padang rumput ditambah domba-domba tersebar bebas lagi makan. So cute.

Kami sampai di Terminal Bus Edinburgh  Waverley kira-kira pukul 9 pagi. Rencana awal yang sudah kami susun adalah ke tempat rental car bernama Enterprise untuk ambil mobil yang sudah Indra pesan sebelumnya. Ya, kami rencana sewa mobil selama di Edinburgh termasuk untuk ke Scottish Highland keesokan harinya. Jadilah kami berempat menggeret koper kami ke rental car tersebut. Sampai disana, ternyata kami ditolak karena nggak ada SIM internasional. Jeng jeng..!

Indra sudah berusaha menjelaskan bahwa ketika memesan dari branch rental car di London tidak ada masalah walaupun SIM Indra merupakan SIM Indonesia (bukan Internasional). Selain itu Indra pernah sewa mobil juga dari rental car yang sama untuk sewa dari London sampai ke Manchester. Namun mbak petugas tetap kekeuh menolak dan bahkan tidak memberikan solusi lain. They just can’t accept it.
Kami pun bingung karena rencana kami di Scotland sontak berantakan gara-gara hal tersebut. Di tengah kebingungan itu kami memutuskan untuk cari café dulu untuk duduk, mikir, dan sekalian sarapan. Mungkin dengan tubuh kenyang dan hangat bisa dapat jalan keluar lain. Kami keluar ke jalan raya dan akhirnya menemukan Costa di pinggir jalan (saking udah bingungnya kami waktu itu sampai nggak menyadari bahwa pemandangan di sekitar Waverley ternyata bagus! Kami baru menyadari nya ketika akan pulang dari Edinburgh beberapa hari kemudian).

Di café kami memikirkan beberapa alternatif rencana. Mengingat jika kami tetap tidak bisa sewa mobil kami harus memikirkan bagaimana transportasi ke Scottish Highland. Belum lagi kami sudah pesan Airbnb untuk keesokan malamnya di Inverness (sebuah kota kecil di daerah Highland). Kami sempat berpikir apakah tidak jadi ke Scottish Highland dan langsung kembali ke London besok (dimana rencana kami sebelumnya adalah ke Highland keesokan harinya lalu kembali ke London lusa). Ataukah kami langsung ke Liverpool keesokan harinya sebagai ganti tidak jadinya kami ke Highland. Urusan airbnb di Inverness sudah kami ikhlaskan karena nggak mungkin banget kami nginep disana tanpa sewa mobil.

Saat itu kemudian saya menghubungi teman sekolah saya yang sedang sekolah S2 di Edinburgh, Akmal, untuk minta bantuan apakah dia atau temannya punya SIM internasional ataukah ada referensi rental car yang menerima SIM yang tidak internasional. Sementara kami juga mencari info alternatif rental car via internet. Singkat kata kami mendapatkan beberapa nama rental car  untuk dicoba dihubungi. Namun hasilnya nihil, mayoritas mensyaratkan SIM Internasional. Kalaupun ada yang menerima, kami harus deposit sekitar kurang lebih setara Rp.20 juta (lupa persisnya dan nama rentalnya) yang pada akhirnya nggak kami ambil karena nominal nya yang cukup bikin sesak napas.

Akmal akhirnya menawari apabila kami mau titip koper sementara di tempat dia. Jadilah kami mencoba mendatangi satu rental car terakhir, kalau masih nggak bisa juga kami memutuskan untuk titip koper lalu explore Edinburgh dengan jalan kaki, besok ke cari tur ke Highland. Jadwal pulang ke London tidak berubah di lusa, namun kami berpisah. Saya dan Mbak Citra langsung ke Liverpool untuk menghemat waktu.
Kami pun ke tempat Akmal dan merepotkan dia dulu dengan menitip koper-koper kami di flatnya. Udah gitu masih ditawarin minum pula. Thank you very much Akmal for your kindness. Setelah ngobrol sebentar, kami memutuskan untuk lanjut cari makan siang sambil cari tur ke Highland untuk besok dan cari penginapan untuk besok malam, ya..gara-gara kami nggak jadi menginap di Inverness otomatis di malam kedua besok kami belum punya tempat tinggal 😖.
Kami sempat mengajak Akmal untuk ikut makan siang tapi sayang dia nggak bisa karena sedang mengejar deadline pengumpulan disertasi.

Kami menemukan KFC dan akhirnya memutuskan untuk makan siang disitu sekaligus pesan tur dan penginapan. Nggak mau membuang waktu lebih banyak lagi (yang sudah banyak terbuang gara-gara masalah mendadak rental car ini), kami langsung menuju Edinburgh Castle. Kami coba naik bus kesana. Masih harus jalan lagi sih ke castle nya (dan jalannya nanjak). Jadi ketika sampai di atas kami sudah cukup lelah. Kami foto-foto sebentar di depan castle dan kemudian lihat-lihat tartan. Sebenarnya bisa masuk castle tapi bayar. Dan berhubung sedang tidak terlalu antusias, kami memutuskan nggak masuk ke dalam castle.
Di depan Edinburgh Castle

Di depan Edinburgh Castle
Setelah selesai dari Edinburgh Castle dan lihat-lihat tartan, kami menyusuri daerah old town di sekitar Royal Mile. Edinburgh ini kota nya cakep banget! Bangunan-bangunan di tengah kota nya masih bergaya abad pertengahan dan masih terpelihara. Jadi di tengah kencangnya angin dingin di Edinburgh kami berjalan di tengah kota dimana kanan kiri nya dikelilingi bangunan ala kastil. What a lovely view. Suka banget sama kotanya 💗💗💗.

Center of the City

Patung Hume di Edinburgh.
Jempol kakinya banyak dipegang orang makanya warnanya beda sendiri
Di Royal Mile ini, kami sempat lihat seorang Bapak memainkan bagpipes (alat musik khas Scotland) di pinggir jalan. Orang-orang banyak berkerumun dan si Bapak bilang “Kalau mau ambil foto, ambil foto aja! Jangan malu! BE A REAL TOURIST!” Hahaha…
Alhasil kami foto bareng si Bapak sambil kasih beberapa koin ke tempat musiknya.
Pose bareng Bapak yang pakai tartan dan bagpipes.
Tiap motif Tartan di Scotland menunjukkan clan keluarga tertentu
Ketika kami mengunjungi beberapa toko souvenir kami menemukan beberapa hal menarik seperti (sudah pasti) kain tartan yang lucu-lucu dan menggoda untuk dibeli dan sempat kepo liat papan di sebuah toko wine. Di papan yang cukup besar tersebut  ada tombol bertuliskan nama-nama daerah plus nama wine. Jadi misalkan pengen tau daerah highland wine khas nya apa, tinggal pencet, nanti lampu akan menyala di tenpat keterangan wine. Kita bisa lihat apakah wine khas nya beraroma fruity, sweet atau yang lainnya. Berhubung nggak minum wine jadi nggak begitu paham juga sih, tapi lumayan menarik juga untuk dilihat.
Papan Informasi Wine

Setelah itu kami melihat ada toko es krim yang penuh orang antri, ternyata lagi ada sale. Teman saya lantas ikutan antri untuk beli es krim. Kurang debus apalagi coba, di tengah suasana dingin, angin kencang, kedinginan, kami masih juga kepo cobain es krimnya. Yah.. selalu ada excuse lewat kata-kata ‘kapan lagi…mumpung disini’.

Ice cream!

Setelah selesai kami memutuskan untuk mengambil koper yang kami titipkan namun sebelumnya mampir beli snack  yang katanya khas Scotland: Deep Fried Mars Bar (Coklat Mars yang digoreng). Sensasi nya lumayan unik, kaya makan gorengan pisang coklat tapi ini isinya coklat semua. Haha..

Setelah ambil koper kami menuju ke airbnb tempat kami menginap. Naik apa? Naik uber..hahaha.
Berhubung kami sudah cukup lelah dan agak ribet dengan bawaan kami, kami memutuskan naik uber (memanglah ini anugerah Allah banget ada uber di UK. Tiap nyasar atau udah menyerah, langsung klik uber di smartphone) 🙈.

Begitu sampai di airbnb tempat kami menginap, ternyata owner nya masih otw dan sampai kira-kira setengah jam kemudian. Jadi kami sempat berdiri di depan rumah beserta koper kami. Mudah-mudahan nggak ada yang mencurigai kami dengan pemandangan tersebut. Hahaha..
Setengah jam kemudian Sarah, sang owner flat yang kami sewa, datang bersama dua anaknya yang lucu-lucu bangettt… Satu anak perempuannya, Ella, berambut panjang dan sangat cantik. Dan anak keduanya masih di dalam kereta bayi yang dibawa Sarah. Kami pun salut dengan Sarah yang datang tergopoh-gopoh, sambil bawa dua anaknya yang masih kecil, well..tanpa baby sitter atau siapapun yang membantunya, lalu dengan ramah mengajak kami masuk dan menjelaskan fasilitas-fasilitas di flatnya (yang mana lengkap banget). Luar biasa deh ini keren dan recommended banget. Sayang saya nggak hapal alamatnya, karena yang bagian ngurusin pesan airbnb adalah Indra dan Tania 😀.


We really enjoy our 1st day in Edinburgh!

Next: Day 5

Sunday, April 23, 2017

UK Trip – Day 3 – Buckhingham Palace and around


Di hari ketiga ini kami memulai perjalanan dengan niat menonton changing guards di Buckingham Palace. Jadwal pergantian penjaga sekitar jam 12 tapi kami udah sampai kira-kira 1 jam sebelumnya, karena banyak orang antri kepingin lihat. Spot kami memang nggak di paling depan tapi lumayan lah. Dengan muka tembok berusaha merapatkan barisan biar nggak diselak, kami sabar menunggu. Selama menunggu ada 1 polisi yang selalu mewanti-wanti agar orang-orang tertib jalan, kalau mau berhenti mending minggir (dan kalau minggir ini udah dapet posisi di belakang, jadi kebanyakan orang terus jalan berusaha cari spot).

Polisi yang jaga di depan Buckingham Palace


London Police
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, changing guards dimulai. Penjaga pengganti datang memasuki halaman Buckingham Palace, dan entah prosesi di dalam nya bagaimana karena kami nggak dapet spotnya. Ketika dapet posisi lumayan untuk ngintip, mereka lagi main band. Jadi kayanya sembari prosesi tukar jaga, mereka akan memainkan satu lagu populer dengan drumband nya itu. Pas kami ini kebetulan yang dimainkan lagu Tell Me More. Kebetulan itu lagu kesukaan saya ketika kecil! (bahkan ibu saya cerita waktu saya masih balita suka banget lagu ini). Haha..

Guards of Buckingham Palace
 Beranjak dari Buckingham Palace, kami mengarah ke Green Park yang terletak di seberang istana. Seneng deh kalo ke taman liat pohon-pohon bikin seger. Lalu kami menemukan pohon yang berbunga warna pink (entah cherryblossom atau bukan).

Cherryblossom?



Green Park

(pretend to) chatting
Di green park kami Cuma foto-foto sebentar lalu lanjut ke London Business School sekolahnya Indra dan mampir makan di Nando’s Peri Peri Chicken yang terkenal di UK. Nando’s ini ayam bakar dengan bumbu peri-peri asal Afrika Selatan, bisa pilih level pedasnya (walaupun pedas nya tetep beda dari pedas sambel di Indonesia). Makanan disini enak dan porsinya lumayan banyak, jadi puas.

Nando's Peri Peri Chicken

Setelah makan kami ke London Business School sebentar. Kami masuk dari pintu belakang dan Indra nunjukin pintu depan yang justru jarang dibuka. Yah siapa tau kan bisa rejeki sekolah disini.Hehe..

Tempat sekolahnya Indra

Abis foto sebentar di LBS lalu kami mampir ke London Central Mosque yang terletak nggak jauh dari LBS. Saya request untuk bisa sholat sekalian disini, biar tenang juga begitu loh. Masjidnya lumayan besar, walaupun tempat sholat untuk wanita ternyata kecil dan nggak ada tempat pinjam mukena seperti di Indonesia. Tapi berhubung udah pakai baju tertutup semua jadi nggak masalah sih..

London Central Mosque 

Selama perjalanan naik tube/underground, kami sempat foto sebentar waktu berhenti di Stasiun Baker Street. Kenapa? Karena disitu ada bangku yang ada siluet Sherlock Holmes 😎

Siluet Sherlock Holmes

Setelah itu kami sempatkan juga untuk mampir ke souvenir shop di sebelah museum Sherlock Holmes (kami nggak masuk ke museum/rumahnya Sherlock Holmes karena antri lumayan panjang dan kami bukan penggemar beratnya, jadi langsung melipir ke toko). Di toko souvenir yang dijual agak mahal tapi mungkin karena emang khas ya, nggak ada di tempat lain. Jadi saya cuma ambil 2 gantungan kunci aja.

Terakhir kami ke Camden Market yang terkenal itu. Kalo menurut saya Camden ini mirip Cihampelas nya Bandung (temen-temen saya pada ketawa aja pas saya bilang begini, masa disamain sama Cihampelas gitu). Tapi suasana di kanan kiri jalan yang banyak toko-toko bener-bener mirip Cihampelas menurut saya. Ya kerenan Camden sih emang..Haha..
Yang menyenangkan adalah disini harganya murah-murah banget. Kalo mau cari souvenir disini paling pas. Saya sendiri pas beli dikasih bonus sama yang jual, “this is for you, sister” gitu katanya. Hmm, mungkin liat saya pakai jilbab dan yang jual muslim juga (karena panggilan sister disana biasanya ditujukan untuk ke muslimah). Alhamdulillah..
Di Camden ini juga segala ada, mau cari jaket, tas kulit dll juga ada. Tapi kami nggak sampai menelusuri semua mengingat keterbatasan waktu dan kantong 😀.

Jalan menuju Camden Market



Setelah selesai keliling-keliling di hari kedua, kami balik ke flat lebih cepat karena persiapan malamnya kami akan naik bus ke Edinburgh. Ada 2 alternatif bus yang banyak dipakai di UK: Megabus atau National Express. Kali ini kami memilih naik National Express karena harganya waktu itu lebih murah. Bus berangkat sekitar jam 10 malam dan akan memakan waktu perjalanan kurang lebih 8 jam. Waktu di bis kami dapat tempat duduk di belakang dekat toilet, karena kami naik ke bis hamper paling terakhir. Saya dapat kursi persis di sebelah toilet tapi biarin lah demi dapat duduk dekat kaca. Biar bisa liat bagusnya pemandangan ke Edinburgh keesokan harinya.

Ok then, Edinburgh here we come…

UK Trip – Day 2 – Hello London

Previous: Day 1

Setelah menempuh kurang lebih 7 jam lagi perjalanan, kami sampai di London Heathrow. Woww..sampai!
Seperti biasa kami harus melewati imigrasi yang di UK ini namanya “UK Borders”. Kesan pertama ketika sampai di UK Borders ini: rame banget, antriannya panjang. Banyak banget orang ke UK ya..atau entah kabarnya karena lagi spring break juga di daerah Eropa jadi mungkin banyak yang wisata ke Inggris. Kami antri sekitar 1 jam sampai ke petugas imigrasi. Petugas menanyakan pertanyaan standar seperti “kalian ke UK dalam rangka apa? Berdua aja?”. Nggak lama, petugas pun memberikan cap imigrasi di paspor kami. 

Yeay Alhamdulillah! Hello London!

Keluar imigrasi, permasalahan kami selanjutnya adalah nomor hp. Untung di Heathrow wifinya cukup kencang, jadi sementara nunggu imigrasi 1 jam kami pakai wifi dulu. Perihal membeli nomor UK, kami mengikuti saran teman kami untuk beli nomor di bandara saja. Tadinya udah sempat khawatir tapi ternyata mudah. Tinggal pakai kartu kredit lalu pilih paket kartu sim card nya yang mana. Kami beli nomor “three” dengan harga kurang lebih £30 dapat paket 12 GB data internet, dapet bonus telpon dan sms juga. Simcardnya pun sudah disesuaikan ukurannya bisa dipakai untuk sim card biasa, micro simcard ataupun nano simcard. Begitu dipasang simcardnya langsung bisa dipakai, nggak pakai ribet. Keren deh.

Setelah itu kami ke flat teman kami di London. Salah satu alasan kami ke London memang karena ada teman yang sedang sekolah disini, jadi kan lumayan bisa numpang tinggal dan jalan-jalan bareng  😏
Karena kami agak bimbang mau naik apa kesana, jadi kami memutuskan naik taksi (yang mana kami agak menyesal karena ternyata mahalll… tapi yaudahlah ya, agak ribet juga bawa beberapa bawaan). Taksi nya cukup lapang (kalo udah mahal masih sempit juga mah…) jadi koper saya didalam sempat terguling. Alhasil waktu sampai di flat teman kami, begitu pintu taksi terbuka, koper langsung jatuh keluar. Teman saya sambil ketawa bilang “Ya ampuun..maksudnya apa nih baru sampe langsung buang koper?” Well~ percayalah itu nggak seperti kelihatannya.

Teman kami Indra dan Tania ini sangat baik. Udah dikasih tempat nebeng tinggal, pas kami datang langsung disambut turkey yang dibumbu pedas gitu plus nasi hangat. Luar biasa banget kan. Setelah kami istirahat sebentar dan siap-siap, kami berempat mulai explore London, dimulai dengan perjalanan ke trademarknya London: Big Ben.Kami jalan-jalan menggunakan transportasi umum seperti tube dan bus merah khas London itu, jadi pertama-tama kami beli dulu Oyster Card yang bisa didapat dengan harga £38 (£5 untuk kartu dan £33 untuk perjalanan unlimited selama 1 minggu).

Pemandangan sekitar flat tempat kami tinggal
Bus Merah Double Decker Khas London
Big Ben, London Eye, dan Westminster Bridge ini di satu daerah. Jadi kami bisa lihat dan foto-foto sekaligus. Di Westminster Bridge kami bisa lihat beberapa karangan bunga yang diletakkan orang-orang untuk mengenang korban penyerangan di London beberapa waktu lalu (sekitar bulan Maret kalau nggak salah). Yang saya salut, setelah adanya insiden tersebut, suasana di London masih aman terkendali. Saya pun yang notabene berjilbab awalnya agak takut akan dipersulit atau dicurigai orang, yah~ biasanya kan suka ada aja yang salah paham mendiskreditkan dan mengkaitkan Islam dengan terorisme. Nyatanya selama di London dari awal datang sampai kembali pulang ke Indonesia saya nggak merasa kesulitan apapun. Orang-orang pun ramah-ramah aja dan kadang cenderung cuek.
Kami foto-foto di sekitar Westminster Bridge, London Eye, dan nggak lupa di Telephone Box merah yang jadi ciri khas nya London.

That famous Red Telephone Box
Westminster Abbey. Tempat menikahnya Pangeran William dan Kate Middleton
Di-candid waktu lagi selfie

Hi Big Ben!
Setelah cukup puas foto-foto, kami berjalan ke arah Westminster Abbey, tempat nikahnya Pangeran William dan Kate Middleton tahun 2011 yang lalu. Katanya sih bisa masuk ke katedralnya tapi bayar, kami memilih nggak masuk dan lanjut jalan explore yang lain. Selanjutnya kami mampir ke Primark untuk cari sepatu buat dipakai ke Scottish Highland nanti, and I got my best deal! Boots seharga £6 saja (kalau di kurs nggak sampai Rp.100.000) ternyata udah enak dipakai kemana-mana. Such a big deal banget deh buat saya yang senang barang murah tapi berkualitas..haha.. Primark ini terkenal banget di UK. Seenggaknya saya menemukannya di kota yang sempat saya kunjungi: London, Liverpool dan Manchester. Terkenal karena barangnya cukup lengkap, banyak, dan harganya terjangkau. Sebelumnya saya udah baca di blog orang-orang juga banyak yang menyarankan ke Primark. Jadi, kalau ke UK pastikan mampir ke Primark 😀😀.

Setelah cukup lelah keliling-keliling, kami sepakat cari tempat ngopi (emang bener kata orang, kalau di Eropa pengeluaran printilan tapi sering adalah cari tempat duduk untuk sekedar ngopi atau ngeteh). Di UK ada 3 tempat ngopi selain Starbuck yang terkenal dan sering ditemukan di: Costa, Pret A Menger, dan Caffe Nero. Kami memilih ke Costa (maaf nama daerahnya lupa, pokoknya daerah dekat China Town dan ada square nya) karena ada tempat duduk outdoor nya. Suasananya itu bener-bener anugerah banget.. menikmati sore di outdoor, minum kopi/coklat hangat, di tengah suasana dingin, ditemani banyak pepohonan. Ah~ I even can’t describe by words.😍

Lucunya waktu kami lagi cari kursi kosong, teman saya Tania yang pertama dapet kursi. Orang yang baru beranjak dari kursi tersebut pakai jaket berhoodie dan ketika dia mendongak ternyata dia adalah Bambang Pamungkas! Tapi sedih sekali untuk mas Bambang, temen saya nggak mengenali. Dia sempat kaget (mungkin 2 x kaget, kaget pertama ketemu orang Indonesia, dan kaget kedua karena orang Indonesia ini nggak mengenali dia -.-“ ) Malah saya dan Mbak Citra yang heboh saling bilang bahwa itu Bambang Pamungkas. Ternyata, teman saya yang tidak mengenali Bambang Pamungkas ini cerita bahwa dia pernah ketemu Andika Pratama dan lagi-lagi nggak mengenali. Bahkan ketika si Andika udah kode bilang bahwa dia abis pulang shooting. Kayanya emang temen saya ini lebih banyak hapal artis Inggris kali ya.. 😄

Setelah dari Costa, kami lanjut jalan ke Trafalgar Square. Sampai disana sekitar jam setengah delapan malam dan matahari baru terbenam. Jadi dapet suasana senja yang asik. Nggak lama disitu, kami lanjut ke Piccadily Square. Tadinya Indra mau nunjukin bahwa di Piccadilly Square ada billboard-billboard besar menyala seperti suasana di Times Square nya New York, tapi sayang sekali lagi banyak yang diperbaiki jadi suasananya nggak dapet.

Sebelum ke Trafalgar mampir foto di depan Theater nya Harry Potter & the Cursed Child.
Pengen banget nonton apa daya tiket nya mahal banget 😖

Trafalgar Square at 8 p.m.
Akhirnya setelah hari gelap kami balik ke Westminster Bridge dan London Eye, sengaja untuk lihat suasana di malam hari. Dan ternyata baguuuusss bangetttt. Kilau emas dari Gedung Parlement plus Big Ben, beserta warna merah dari lampu London Eye nya sangat memanjakan mata. Untunglah Indra bawa tripod. Dengan penuh kesabaran dan berbekal skill fotografinya dia, jadilah kami punya foto-foto cakep di spot ini untuk kenang-kenangan. Padahal dalam prosesnya anginnya lumayan kencang, dingin, meler, capek, dll.. Tapi demii pemandangan yang indah ini kapan lagi.Hahaha..

Gedung Parlemen di malam hari. Keren bangett
London Eye di malam hari

Selesai foto-foto, kami balik ke flat untuk istirahat. Secara kami belum tidur dengan puas setelah 18 jam perjalanan.

That's all for 2nd day.

Next: Day 3


Saturday, April 22, 2017

UK Trip - Day 1 - Departure

Alhamdulillah salah satu target saya di tahun 2017 teralisasi: berkunjung ke UK!

Nggak pernah nyangka bakal bisa ke UK, kebayang aja nggak. Rasanya itu adalah Negara yang bukan menjadi prioritas untuk dikunjungi mengingat biayanya yang nggak sedikit. Tapi Alhamdulillah Allah SWT kasih jalan. Teman saya kuliah di London jadi saya pikir mumpung mereka belum pulang ke Indonesia, mumpung ada tempat tebengan nginep, mumpung ada yang jadi guide jalan-jalan bareng, bahkan kami berencana ke Scotland bersama, yaudah deh.. kapan lagi. Sempet maju mundur rencananya, akhirnya berbekal niat, harapan dan doa, kami baru mulai beli tiket dan urus visa bulan Februari! Agak mepet emang..haha..~
Tapi akhirnya terealisasi juga kami ke UK.


Saya pergi berdua dengan teman kantor saya, sebut aja Mbak Citra. Kami memutuskan naik Emirates setelah menimbang-nimbang beberapa hal. Berhubung saya belum pernah naik Emirates, jadi inilah pengalaman pertama saya dan saya cukup puas. Sebelumnya saya udah browsing blog-blog traveller lain yang pernah menggunakan Emirates juga, dan cukup sesuai dengan ekspektasi saya. Kursi nya cukup luas, makanannya enak (dapat makan berat dan snack), beberapa kali ditawarin minum juga.


Menu Makanan Emirate

Makanan Emirates
Lalu entertainment nya bagus. Secara saya membandingkan dengan waktu pergi ke China 3 tahun lalu (which is perjalanannya singkat cuma 5 jam dibanding ini total dengan transit sekitar 18 jam), kali ini pilihan film dan musik nya lebih banyak. Kurang apple to apple juga sih ya perbandingannya. Karena saya nggak terlalu update soal lagu dan film barat juga, lagu yang saya denger yang saya tau, misalnya lagu hits 90-an dan penyanyi mandarin or korea yang saya tau. Haha.. Selama perjalanan saya sempat nonton film baru judulnya “Lion” yang diangkat dari kisah nyata dan film mandarin. Sisanya nonton ulang Fantastic Beast dan Harry Potter and the Deathly Hallow *anaknya harry potter banget sih*


Terus yang oke lagi sih air show yang disuguhkan di pesawat. Kita bisa lihat secara live pemandangan diluar pesawat, tergantung kameranya dimana, biasanya ada yang shoot ke bawah (jadi bisa lihat bangunan dari atas) dan dari belakang (jadi bisa lihat landasan di depan). Keren kan! 😁😁



Flight Information

Air show dari kamera pesawat

Air show dari kamera pesawat

Air show dari kamera pesawat
Berhubung ini flight long haul pertama saya, waktu transit di Dubai lumayan berasa juga capeknya. Lumayan lah bisa ngelurusin kaki. Kami sampai di Dubai sekitar jam setengah satu dini hari. Akhirnya kami memutuskan untuk cari kopi. Di bandara Dubai ini Mbak Citra berniat tarik uang Dirham untuk transaksi di bandara, jadi kami ke salah satu ATM StandChart yang di sebelahnya ada money changer. Pilihan paling kecil adalah AED 500, jadilah pilih itu. Ternyata duit nya nggak keluar dong. Udah sempet protes ke mas-mas money changer di sebelahnya dan dia dengan menyebalkannya cuma bilang “oh mungkin duitnya habis” tanpa membantu (ya bukan urusan dia juga sih ya). Untungnya pas di cek saldo rekening nggak kepotong.


Alhasil kami tukar uang di money changer tersebut. Lagi-lagi karena kami belum sempat cari tau butuh tuker berapa dirham untuk di bandara, kami sebut angka minimal yang di ATM tadi : 500. Ternyata 500 itu banyaak..hahahahah…baru ngeh setelah duit nya kita pakai untuk beli kopi.



Perjalanan Jakarta-Dubai sampai transit so far lancar dan tidak ada masalah berarti. Sekitar 3 jam kemudian kami melanjutkan perjalanan ke London Heathrow. Pesawatnya udah pasti lebih besar dan ternyata ada beberapa bangku yang kosong, termasuk sebelah saya. Lumayan bisa taruh tas..


London here we come…! 😎
 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates