Tuesday, November 26, 2013

Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 1)

Dan tibalah hari kami mau nge-bolang. Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke, jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.


Setelah dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang katanya itu jamu awet muda. Hehehe~

Secara singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha

Ada beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu, Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.

Kemudian ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.

Pakubuwono XII jaman muda
Kemudian ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya adalah BRM Suryo Guritno atau lebih dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan di internet ini.
Saya coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945, karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan” kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan, tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)

Selanjutnya Putri Tinneke yang merupakan saudara Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah  GRAj Koes Sapariyam. Di Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget (jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh.. menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang kalau itu dilakukan jaman sekarang.

Tokoh lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil dari internet yaa..
Dan beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul (gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum ada ruang khusus Putri Dambaan yang isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
Pintu Masuk Ullen Sentalu
Pintu Keluar Ullen Sentalu
Masih banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong disini. Hehehe


Dari Kalimilk tadinya kita mau ke Raminten ternyata penuh banget, apalagi malam minggu. Alhasil kita merubah haluan mampir ke Bakmi Jawa Kadin dulu sebelum siap-siap nonton Ramayana. Yeay!

Web Pendukung:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg
2. www.ullensentalu.com
3. http://fitri2boys2.blogspot.com/2013/08/museum-ullen-sentalu-kaliurang.html
4. http://primbondonit.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

0 comments:

Tuesday, November 26, 2013

Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 1)

Dan tibalah hari kami mau nge-bolang. Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke, jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.


Setelah dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang katanya itu jamu awet muda. Hehehe~

Secara singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha

Ada beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu, Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.

Kemudian ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.

Pakubuwono XII jaman muda
Kemudian ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya adalah BRM Suryo Guritno atau lebih dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan di internet ini.
Saya coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945, karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan” kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan, tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)

Selanjutnya Putri Tinneke yang merupakan saudara Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah  GRAj Koes Sapariyam. Di Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget (jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh.. menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang kalau itu dilakukan jaman sekarang.

Tokoh lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil dari internet yaa..
Dan beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul (gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum ada ruang khusus Putri Dambaan yang isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
Pintu Masuk Ullen Sentalu
Pintu Keluar Ullen Sentalu
Masih banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong disini. Hehehe


Dari Kalimilk tadinya kita mau ke Raminten ternyata penuh banget, apalagi malam minggu. Alhasil kita merubah haluan mampir ke Bakmi Jawa Kadin dulu sebelum siap-siap nonton Ramayana. Yeay!

Web Pendukung:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg
2. www.ullensentalu.com
3. http://fitri2boys2.blogspot.com/2013/08/museum-ullen-sentalu-kaliurang.html
4. http://primbondonit.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

No comments:

 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates