Thursday, July 31, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - Day 2

Melanjutkan postingan sebelumnya disini , hari kedua di Zhongguo kami ke Gugong (Forbidden City) dan Niu Jie Mosque. Kami ke tujuan pertama kami, Forbidden City! Akhirnyaaaa… keinginan terpendam semenjak nonton Putri Huan Zhu pengen kesini kesampean juga. Forbidden City adalah sebutan untuk Istana tempat Kaisar China jaman dahulu tinggal dan memerintah. Yang namanya forbidden city ini gedeee banget, kalau mau masuk kesana harus sudah prepare jalan jauh, karena pintu masuk beda dengan pintu keluar, jadi sekali masuk susah untuk balik lagi ke depan. Sebagai penggemar Putri Huan Zhu, sebenernya saya mengharapkan bisa lihat spot spot  seperti yang digambarkan dalam novel maupun filmnya, tapi sayang banyak yang nggak boleh masuk, paling melongok aja dari luar lihat ruangannya. Hahaha..

Forbidden City !!!

Danau di bagian belakang Forbidden CIty


Di beberapa spot di forbidden city bisa ditemui 2 patung singa yang masing-masing mencengkeram bola dunia dan anak singa, filosofinya sih konon katanya seorang kepala Negara/kaisar harus bisa “berkuasa menaklukkan dunia”, tapi juga menyayangi rakyatnya seperti anaknya. Di beberapa tangga menuju bangunan bisa ditemui lintasan/tangga yang dirantai/nggak bisa dilewati, biasanya di bagian tengah. Bagian itu dulunya adalah tangga khusus untuk dilewati kaisar. Sekarang bisa dilihat di bagian yang ditutup itu ada beberapa koin tersebar, ya, orang zhongguo yang lempar koin kesitu mungkin semacam mengharap keberuntungan ya, mereka kan banyak percaya yang seperti itu.
Patung singa yang mencengkeram anak singa

Jalan tempat Kaisar, banyak koin yang dilempar kesitu

Setelah dari Forbidden City, lanjut ke Niujie Mosque. Sudah sedari niatan awal memang saya dan Dewi pingin banget mampir ke masjid di Zhongguo, untungnya teman-teman Chinese kita mau nganterin. Niujie Mosque merupakan masjid tertua di Beijing, dibangun tahun 996 SM. Jadi, daerah sekitar masjid situ memang daerah muslim, ada beberapa restaurant muslim juga. Berhubung kami kemarin sudah ditraktir sama Yuna dan Qiushi, kali ini giliran kami yang traktir mereka ke salah satu restoran muslim disitu.

Makan di salah satu resto muslim di Beijing

Waktu masuk ke Niujie Mosque, niat saya dan Dewi sekaligus sholat Dhuhur dan Ashar. Kami ketemu ibu penjaga masjid nya yang langsung ngomong zhongwen mengarahkan kami tempat wudhu, tempat sholat, dan toilet. Karena zhongwen kami yang pas-pas an dan Ibu itu ngomong super cepet, mulai oon deh, saya dan Dewi liat-liatan sambil bilang iya ngangguk ngangguk, tapi si Ibu tetap ngomong sambil menunjukkan tempat wudhu. Belakangan si Yuna yang abis dari toilet ngomong ke si Ibu, sepintas sempet kedengeran kayanya Yuna bilang “Mereka (saya dan Dewi) gak ngerti”. Hahaha..Entah deh. Yang jelas saya dan Dewi akhirnya wudhu sambil menebak-nebak, apakah tadi maksudnya kami gak perlu lepas sepatu dulu? *secara di Indonesia mau wudhu pasti lepas sepatu dulu* mungkin karena waktu itu lagi winter jadi dingin banget sehingga kami lepas sepatunya di dalem aja. Waktu kena air wudhu rasanya brrrrrrr… kaya wudhu pake es batu.
Setelah Sholat iseng ngajak foto si Ibu penjaga masjid tadi, buat kenang-kenangan aja ketemu sodara sesama muslim di negeri seberang. Hehehe…

Masjid Niujie berbentuk seperti kelenteng. I found "Laa ilaha illallahu" writing there! :)

Di dalam masjid

Foto Bareng Ibu penjaga Masjid
Malamnya, kami mencoba jajanan pinggir jalan zhongguo, namanya jianping dan malatang. Jianping ini kalo di indonesia semacam martabak, kalo malatang ini semacam...hmmm.. shabu-shabu gitu kali ya, tapi ini makannya di tenda pinggir jalan, kuahnya pedes banget tapi bukan pedes cabe, lebih kaya pedes nya merica. Malatang ini dijual harganya per 1 tusuk, waktu itu 1 tusuk 1 kuai (1 yuan). Rasanya enak bangettt dan bikin nagih.


Penjual Jian Ping

Malatang

Next: Tripto Beijing-Shanghai - Day 3

Tuesday, July 08, 2014

Just a random thought



I’ve never ask for this task, I don’t have ambition on it either. So I have nothing to lose, just (surely) wanna do my best. Let Allah assess you.

Dari awal, sampai sekarang, dan insya Allah kedepannya itu niatan saya J
Iya, saya memang orangnya plegmatis dan sering nrimo an, walaupun kadang juga keras kepala. Lagipula saya termasuk penganut faham “jabatan itu amanah, gak boleh diminta.” Lain halnya kalo situ yang ditugasi atau diminta, yaa.. walaupun naluri plegmatis saya juga beberapa kali ragu diawal dengan pikiran-pikiran macam “bisa nggak ya”, “kenapa gue?”, “aduh jangan gue deh”. Pesimis? Kind of ~ haha.. tapi begitulah biasanya reaksi awal saya, setelah sesudah nya pikir-pikir lagi barulah biasanya “Oke, bismillah aja, mudah-mudahan Allah kasih kemudahan.”

Just a random thought about this task..
Per awal tahun ini saya mendapat amanah baru dan bos baru. Yang pasti itu berarti tantangan baru, apalagi kalau menilik secara historikal, posisi atau amanah yang saya emban ini dulunya antara ada dan tiada *halah. Ada sih, tapi nggak rutin begitu lho. Jadi kendala pertama saya adalah saya nggak punya cukup benchmark untuk tugas ini. Terlebih juga pendahulu saya yang mengemban tugas ini tuntutan intensitas nya bisa dikatakan berbeda dengan saya, ibarat dahulu dia attach dengan si bos –katakanlah- 70%, kali ini tuntutan untuk saya harus lebih dari itu. Sempat ada keraguan juga “sebenernya si Beliau bener-bener butuh gue/posisi yang saya emban sekarang ini nggak sih? Kayaknya dulu-dulu juga nggak terlalu butuh ya”. Tapi balik lagi, saya tekankan lagi niat saya diawal tadi, dan juga saya meyakinkan diri saya seperti ini “terserah deh Yus, butuh atau nggak, bagaimanapun skenario nya, yang jelas elo sekarang diberi amahan ini, berarti ini udah rencananya Allah bikin kaya gini. Kalo gak dengan izin dia gak bakal juga lo diminta”. Oke.
Kini sudah hampir 7 bulan saya mengemban amanah ini *abaikan bahasanya yang berasa politis banget mentang-mentang lagi tahun pemilu*. Banyak hal yang saya pelajari. Meminjam istilah salah satu bos saya, saya belajar technical skill maupun behavior skill. Mungkin orang merasa apa sih gitu doang,lebay. Tapi buat saya yang selama ini lebih banyak kerja di belakang meja dan belum pernah menangani nasabah langsung, saya setidaknya mendapat gambaran gimana ketemu nasabah (walaupun memang levelnya beda dan kalau nanti saya kelak handle nasabah sendiri pasti bakal harus banyak belajar lagi). Tapi diambil positifnya aja.

Tantangannya? Banyak. Saya belajar memahami karakter si Beliau, berusaha menyesuaikan dengan keinginan dan kebiasaan Beliau. Kadang kalau saya membandingkan dengan teman-teman yang posisi nya sama dengan saya, bagaimana hubungannya dengan “Beliau” yang lain, campur aduk rasanya. Hahaha… diawal-awal saya banyak merasa sedih kalau membandingkan yang lain terlihat sangat attach sementara saya, lagi-lagi, meraba-raba saya harus ke arah mana, harus sejauh apa yang saya lakukan. Tapi itu proses. Saya belajar untuk itu, saya belajar untuk inisiatif dan tidak hanya menunggu. Saya ngerasain dari mulai di awal Beliau (bahkan) hanya melihat saya sepersekian detik ketika saya samperin, tetap “batu” kirim report atau apa yang kira-kira Beliau butuh, “muka badak” tiba-tiba muncul di acara yang Beliau hadir hanya untuk memastikan semua berjalan baik-baik saja dan Beliau tidak butuh suatu apapun. Yah~ capek? Mana ada kerja yang gak capek =P.
Hampir 7 bulan saya menjalankan tugas ini, saya belum bisa bilang sudah memahami Beliau. Sama sekali belum. Saya masih meraba sana-sini, tapi perlahan saya mulai menyesuaikan dengan Beliau. Kadang pengen juga sih minta dievaluasi kinerja saya selama ini gimana, yang jelas I’ve tried my best.
Lucunya juga, beberapa orang terkadang menanyakan hal –hal tertentu seolah saya sudah memahami Beliau. Beberapa bisa saya jawab, beberapa juga saya sendiri masih meraba. Kalo udah gitu saya cuma bisa senyum, i might have not undesrtand him so well, but I try to. Sampai kapan? Sampai amanah ini berakhir. Kalimat pembuka diatas selalu saya ingat-ingat kalau saya lagi merasa butuh re-charge energi. Tugas saya kan cuma menjalankan sebaik-baiknya :)

Anyway, terlepas dari hal tersebut adalah tugas, saya pribadi sebenarnya menyayangi Beliau seperti Bapak saya sendiri. Ini beneran dan bukan maksud apa-apa. Hahaha.. Sometimes he just reminds me of my own dad. Pernah suatu kali Beliau sakit dan tetap disibukkan oleh pekerjaannya, saya bener-bener ngerasa nggak tega sampai mau nangis. Pengen rasanya saya larang Beliau memforsir diri dan suruh istirahat. *yakalik tapi apalah saya ini*. Saya cuma bisa sekali dua kali menyampaikan agar Beliau istirahat. Sampai saya berfikir, kalau ini Bapak kandung saya sendiri pasti udah saya suruh istirahat aja sampe sembuh. :)

There are still few months to go.. dari awal, sekarang, dan insya Allah sampai amanah itu selesai diberikan pada saya, saya berulangkali camkan di pikiran saya:
I’ve never ask for this task, I don’t have ambition on it either. So I have nothing to lose, just (surely) wanna do my best. Let Allah assess you.

Thursday, July 31, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - Day 2

Melanjutkan postingan sebelumnya disini , hari kedua di Zhongguo kami ke Gugong (Forbidden City) dan Niu Jie Mosque. Kami ke tujuan pertama kami, Forbidden City! Akhirnyaaaa… keinginan terpendam semenjak nonton Putri Huan Zhu pengen kesini kesampean juga. Forbidden City adalah sebutan untuk Istana tempat Kaisar China jaman dahulu tinggal dan memerintah. Yang namanya forbidden city ini gedeee banget, kalau mau masuk kesana harus sudah prepare jalan jauh, karena pintu masuk beda dengan pintu keluar, jadi sekali masuk susah untuk balik lagi ke depan. Sebagai penggemar Putri Huan Zhu, sebenernya saya mengharapkan bisa lihat spot spot  seperti yang digambarkan dalam novel maupun filmnya, tapi sayang banyak yang nggak boleh masuk, paling melongok aja dari luar lihat ruangannya. Hahaha..

Forbidden City !!!

Danau di bagian belakang Forbidden CIty


Di beberapa spot di forbidden city bisa ditemui 2 patung singa yang masing-masing mencengkeram bola dunia dan anak singa, filosofinya sih konon katanya seorang kepala Negara/kaisar harus bisa “berkuasa menaklukkan dunia”, tapi juga menyayangi rakyatnya seperti anaknya. Di beberapa tangga menuju bangunan bisa ditemui lintasan/tangga yang dirantai/nggak bisa dilewati, biasanya di bagian tengah. Bagian itu dulunya adalah tangga khusus untuk dilewati kaisar. Sekarang bisa dilihat di bagian yang ditutup itu ada beberapa koin tersebar, ya, orang zhongguo yang lempar koin kesitu mungkin semacam mengharap keberuntungan ya, mereka kan banyak percaya yang seperti itu.
Patung singa yang mencengkeram anak singa

Jalan tempat Kaisar, banyak koin yang dilempar kesitu

Setelah dari Forbidden City, lanjut ke Niujie Mosque. Sudah sedari niatan awal memang saya dan Dewi pingin banget mampir ke masjid di Zhongguo, untungnya teman-teman Chinese kita mau nganterin. Niujie Mosque merupakan masjid tertua di Beijing, dibangun tahun 996 SM. Jadi, daerah sekitar masjid situ memang daerah muslim, ada beberapa restaurant muslim juga. Berhubung kami kemarin sudah ditraktir sama Yuna dan Qiushi, kali ini giliran kami yang traktir mereka ke salah satu restoran muslim disitu.

Makan di salah satu resto muslim di Beijing

Waktu masuk ke Niujie Mosque, niat saya dan Dewi sekaligus sholat Dhuhur dan Ashar. Kami ketemu ibu penjaga masjid nya yang langsung ngomong zhongwen mengarahkan kami tempat wudhu, tempat sholat, dan toilet. Karena zhongwen kami yang pas-pas an dan Ibu itu ngomong super cepet, mulai oon deh, saya dan Dewi liat-liatan sambil bilang iya ngangguk ngangguk, tapi si Ibu tetap ngomong sambil menunjukkan tempat wudhu. Belakangan si Yuna yang abis dari toilet ngomong ke si Ibu, sepintas sempet kedengeran kayanya Yuna bilang “Mereka (saya dan Dewi) gak ngerti”. Hahaha..Entah deh. Yang jelas saya dan Dewi akhirnya wudhu sambil menebak-nebak, apakah tadi maksudnya kami gak perlu lepas sepatu dulu? *secara di Indonesia mau wudhu pasti lepas sepatu dulu* mungkin karena waktu itu lagi winter jadi dingin banget sehingga kami lepas sepatunya di dalem aja. Waktu kena air wudhu rasanya brrrrrrr… kaya wudhu pake es batu.
Setelah Sholat iseng ngajak foto si Ibu penjaga masjid tadi, buat kenang-kenangan aja ketemu sodara sesama muslim di negeri seberang. Hehehe…

Masjid Niujie berbentuk seperti kelenteng. I found "Laa ilaha illallahu" writing there! :)

Di dalam masjid

Foto Bareng Ibu penjaga Masjid
Malamnya, kami mencoba jajanan pinggir jalan zhongguo, namanya jianping dan malatang. Jianping ini kalo di indonesia semacam martabak, kalo malatang ini semacam...hmmm.. shabu-shabu gitu kali ya, tapi ini makannya di tenda pinggir jalan, kuahnya pedes banget tapi bukan pedes cabe, lebih kaya pedes nya merica. Malatang ini dijual harganya per 1 tusuk, waktu itu 1 tusuk 1 kuai (1 yuan). Rasanya enak bangettt dan bikin nagih.


Penjual Jian Ping

Malatang

Next: Tripto Beijing-Shanghai - Day 3

Tuesday, July 08, 2014

Just a random thought



I’ve never ask for this task, I don’t have ambition on it either. So I have nothing to lose, just (surely) wanna do my best. Let Allah assess you.

Dari awal, sampai sekarang, dan insya Allah kedepannya itu niatan saya J
Iya, saya memang orangnya plegmatis dan sering nrimo an, walaupun kadang juga keras kepala. Lagipula saya termasuk penganut faham “jabatan itu amanah, gak boleh diminta.” Lain halnya kalo situ yang ditugasi atau diminta, yaa.. walaupun naluri plegmatis saya juga beberapa kali ragu diawal dengan pikiran-pikiran macam “bisa nggak ya”, “kenapa gue?”, “aduh jangan gue deh”. Pesimis? Kind of ~ haha.. tapi begitulah biasanya reaksi awal saya, setelah sesudah nya pikir-pikir lagi barulah biasanya “Oke, bismillah aja, mudah-mudahan Allah kasih kemudahan.”

Just a random thought about this task..
Per awal tahun ini saya mendapat amanah baru dan bos baru. Yang pasti itu berarti tantangan baru, apalagi kalau menilik secara historikal, posisi atau amanah yang saya emban ini dulunya antara ada dan tiada *halah. Ada sih, tapi nggak rutin begitu lho. Jadi kendala pertama saya adalah saya nggak punya cukup benchmark untuk tugas ini. Terlebih juga pendahulu saya yang mengemban tugas ini tuntutan intensitas nya bisa dikatakan berbeda dengan saya, ibarat dahulu dia attach dengan si bos –katakanlah- 70%, kali ini tuntutan untuk saya harus lebih dari itu. Sempat ada keraguan juga “sebenernya si Beliau bener-bener butuh gue/posisi yang saya emban sekarang ini nggak sih? Kayaknya dulu-dulu juga nggak terlalu butuh ya”. Tapi balik lagi, saya tekankan lagi niat saya diawal tadi, dan juga saya meyakinkan diri saya seperti ini “terserah deh Yus, butuh atau nggak, bagaimanapun skenario nya, yang jelas elo sekarang diberi amahan ini, berarti ini udah rencananya Allah bikin kaya gini. Kalo gak dengan izin dia gak bakal juga lo diminta”. Oke.
Kini sudah hampir 7 bulan saya mengemban amanah ini *abaikan bahasanya yang berasa politis banget mentang-mentang lagi tahun pemilu*. Banyak hal yang saya pelajari. Meminjam istilah salah satu bos saya, saya belajar technical skill maupun behavior skill. Mungkin orang merasa apa sih gitu doang,lebay. Tapi buat saya yang selama ini lebih banyak kerja di belakang meja dan belum pernah menangani nasabah langsung, saya setidaknya mendapat gambaran gimana ketemu nasabah (walaupun memang levelnya beda dan kalau nanti saya kelak handle nasabah sendiri pasti bakal harus banyak belajar lagi). Tapi diambil positifnya aja.

Tantangannya? Banyak. Saya belajar memahami karakter si Beliau, berusaha menyesuaikan dengan keinginan dan kebiasaan Beliau. Kadang kalau saya membandingkan dengan teman-teman yang posisi nya sama dengan saya, bagaimana hubungannya dengan “Beliau” yang lain, campur aduk rasanya. Hahaha… diawal-awal saya banyak merasa sedih kalau membandingkan yang lain terlihat sangat attach sementara saya, lagi-lagi, meraba-raba saya harus ke arah mana, harus sejauh apa yang saya lakukan. Tapi itu proses. Saya belajar untuk itu, saya belajar untuk inisiatif dan tidak hanya menunggu. Saya ngerasain dari mulai di awal Beliau (bahkan) hanya melihat saya sepersekian detik ketika saya samperin, tetap “batu” kirim report atau apa yang kira-kira Beliau butuh, “muka badak” tiba-tiba muncul di acara yang Beliau hadir hanya untuk memastikan semua berjalan baik-baik saja dan Beliau tidak butuh suatu apapun. Yah~ capek? Mana ada kerja yang gak capek =P.
Hampir 7 bulan saya menjalankan tugas ini, saya belum bisa bilang sudah memahami Beliau. Sama sekali belum. Saya masih meraba sana-sini, tapi perlahan saya mulai menyesuaikan dengan Beliau. Kadang pengen juga sih minta dievaluasi kinerja saya selama ini gimana, yang jelas I’ve tried my best.
Lucunya juga, beberapa orang terkadang menanyakan hal –hal tertentu seolah saya sudah memahami Beliau. Beberapa bisa saya jawab, beberapa juga saya sendiri masih meraba. Kalo udah gitu saya cuma bisa senyum, i might have not undesrtand him so well, but I try to. Sampai kapan? Sampai amanah ini berakhir. Kalimat pembuka diatas selalu saya ingat-ingat kalau saya lagi merasa butuh re-charge energi. Tugas saya kan cuma menjalankan sebaik-baiknya :)

Anyway, terlepas dari hal tersebut adalah tugas, saya pribadi sebenarnya menyayangi Beliau seperti Bapak saya sendiri. Ini beneran dan bukan maksud apa-apa. Hahaha.. Sometimes he just reminds me of my own dad. Pernah suatu kali Beliau sakit dan tetap disibukkan oleh pekerjaannya, saya bener-bener ngerasa nggak tega sampai mau nangis. Pengen rasanya saya larang Beliau memforsir diri dan suruh istirahat. *yakalik tapi apalah saya ini*. Saya cuma bisa sekali dua kali menyampaikan agar Beliau istirahat. Sampai saya berfikir, kalau ini Bapak kandung saya sendiri pasti udah saya suruh istirahat aja sampe sembuh. :)

There are still few months to go.. dari awal, sekarang, dan insya Allah sampai amanah itu selesai diberikan pada saya, saya berulangkali camkan di pikiran saya:
I’ve never ask for this task, I don’t have ambition on it either. So I have nothing to lose, just (surely) wanna do my best. Let Allah assess you.

 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates