Nggak terasa udah tepat setahun lalu saya dan teman saya
pergi ke Zhongguo. Kesulitan move on gara-gara tetiba inget momen pergi ke
zhongguo ini kembali menyemangati saya melanjutkan tulisan di blog yang udah
lama banget nggak update. Jam 11 malam.. oke nggak papa.. keburu hilang moodnya
kalo nggak buru-buru ditulis..hahaha..~
Jadi hari ketiga ini saya dan Dewi pengalaman yang cukup
seru. Plan kami adalah ke Yiheyuan (Summer Palace) dan apalagi kalo bukan Great
Wall yang jadi mascot itu! Pagi-pagi kami telat bangun, begitu bangun langsung
gradak gruduk dan ternyata si kokoh guide sudah menunggu di ruang tunggu
hostel. Ohya, khusus untuk greatwall + summer palace ini kami memutuskan pakai
tur lokal dengan pertimbangan efisiensi waktu dan biaya. Greatwall itu jauh
bo..udah hampir di luar kota Beijing. Kami udah book dari jauh hari sebelum
tiba di Zhongguo.
Nah, waktu saya dan Dewi bertemu dengan si kokoh yang
memperkenalkan diri bernama Toni itu, kami langsung menuju ke kendaraan. Si kokoh
Toni ini berbahasa Inggris yang…ya..gitu deh. Inggris saya emang nggak expert,
tapi kalo denger si kokoh ini ngomong Inggris pokoknya harus extra
konsentrasi.Hehehehe..
*sayangnya nggak ada foto bareng kokoh Toni*
Akhirnya kami sampai di ujung jalan. Celingukan cari bis
turnya, ternyata yang nyamperin kita malah sedan. Loh..?? kita tur grup kan? Ternyata kokoh Toni menjelaskan kalo
peserta tur hari itu Cuma kita berdua, jadi cukup pake mobil. Saya sempet
lirik-lirikan sama Dewi, agak takut diculik…tapi..yaudahlahya, khusnudzon aja. Sepanjang
perjalanan ke Greatwall, kokoh Toni banyak cerita *ya secara dia guide nya*,
tapi dengan extra konsentrasi jadi agak capek juga dengerinnya *maaf koh*, dan
dengan teganya Dewi membiarkan saya yang terus-terusan ngobrol dengan si kokoh.
Diselingi tebakan-tebakan yang diberikan seputar neil amstrong yang
garing..sungguh saya lelah. Kami sengaja nggak ngomong zhongwen apapun karena
makin males kalo diajak ngobrol panjang lebar, kemampuan zhongwen kami belum
selihai itu jadi daripada makin bikin capek. Hahaha..
Akhirnya kami sampai di Changcheng alias Greatwall! Yeay!
Finally.
Kami masuk dari pintu Badaling *standar banget ya*. Dan saat
itu suhu di greatwall adalah -6°C! untuk ukuran rakyat biasa yang belum pernah
keluar negri pas winter cukup shock juga. Meler udah nggak usah ditanya. Saya sampai
pake warm pad yang sehari sebelumnya saya beli. Penderitaan selanjutnya juga
pas mau foto pake handphone dan touch
screen nya nggak bisa kalo nggak pake lepas sarung tangan. Dan pas lepas
sarung tangan itu rasanya kaya tangan mau mati rasa.
| Senyum sambil nahan dingin |
![]() |
| Ini asli dingin banget |
Setelah puas foto-foto di greatwall, kami pergi ke summer
palace. Summer palace adalah istana yang dibangun kaisar untuk Cixi, ratu yang
terkenal itu. Bagusnya memang pas musim panas atau gugur dimana danaunya nggak
beku. Kalau di musim winter danaunya kabarnya bisa dipakai ice skating. Nah pas
kami kesana, menariknya danaunya setengah beku setengah air, seperti terihat di
foto.
| Danaunya setengah air setengah es |
| Ci Xi yang punya selera seni tinggi jaman dulu udah kepikir bikin kaca model gini yang langsung pemandangannya ke danau |
| Ada kakek-kakek yang tulis kaligrafi di jalanan Summer Palace. Keren |
Setelah dari greatwall dan summer palace, agenda nya adalah
kami akan dibawa ke toko giok dan teh. Ehm, udah tau sih pasti bakal ditawarin
dan agak dipaksa untuk beli. Makanya kami udah sempet melobi si kokoh supaya
balik pulang aja dengan alasan kami besok ke shanghai subuh dan belum
siap-siap. Tapi si kokoh dengan kekeuh bilang mampir sebentar aja. *Yaiyalah
pasti mereka udah kerjasama dan harus mampir kesana* yowes..
Pas kami di tempat giok, kami disambut Bapak usia 30 atau
40an mungkin, dan dengan sumringah menyambut serta mengajak “tour” keliling
museum dan dijelasin panjang lebar tentang giok. Berdua aja sama dewi, iya,
jadi berasa agak awkward, terlebih karena kami sudah tau nanti ujungnya disuruh
beli jadi agak nggak terlalu antusias. Beberapa ruangan kami lewati sampai
benarlah kami dibawa ke ruang pameran besar yang isinya banyak barang. Dan yang
menyebalkan si bapak ini nggak pergi tapi mulai agresif nawarin untuk beli
barang disitu. Saya dan Dewi menolak secara halus. Si Bapak ga menyerah, tetap
membujuk beli dengan alasan ini untuk kesehatan keluarga lah, oleh oleh lah,
bla blabla. Kami masih kekeuh menolak dengan bilang kami masih harus ke
Shanghai besok jadi kami nggak punya uang untuk beli barang semahal itu (dan
buat apaan juga). Si Bapak masih ngeyel bujuk bujuk bilang masa ngga ada
sedikit aja. Karena kesal, saya ulangin lagi bahwa kami beneran nggak punya
budget dan kami mau ke Shanghai, kami nggak bohong.
Puncak dari kekesalan saya, saya akhirnya bilang pake bahasa
china “mei guan xi ba (nggak apa apa kan)?” dan manjur sodara-sodara! Si Bapak
itu agak shock. Si Bapak langsung teralihkan dan bilang “ni keyi shuo zhongwen?
(kamu bisa bahasa china?)” / “yi dian dian (sedikit2)”. Dan dia kemudian malah
nanya-nanya apakah kami mahasiswa yang sekolah di Shanghai. Hahahhhaha..Jurus
tadi cukup berhasil. Si bapak nggak lagi memaksa dan Cuma bilang ke kami
silahkan kalo masih mau lihat lihat dan menunjukkan tempat makan siangnya nanti
dimana, dia langsung pergi meninggalkan kami.
Setelah dari tempat giok, kami masih dibujuk ke tempat teh.
Yaudahlahya kasihan dan ngikut aja deh. Si kokoh Toni tiba-tiba di mobil nanya
kami “nimen hui shuo zhongwen ya (kalian bisa bahasa china ya)”.
Nah! Kenapa dia bisa tau? Kami bahkan sama sekali nggak
ngomong zhongwen dari tadi pas sama dia. Kami langsung membayangkan mungkin si
Bapak giok tadi lapor ke kokoh Toni apa yang terjadi. Dan mungkin jadi agak
segan. Biarin aja.
Sampai di tempat teh, kami diantar kokoh Toni ke cici
penjaga toko teh. Seperti sudah SOP nya, kami akan diajak mengikuti ritual
minum teh secara singkat. Dan pas kokoh Toni mengantar kami, dia bilang ke cici
itu kalo kami bisa zhongwen. Mhahahahha.. walopun kemampuan pas-pasan biarin
deh biar nggak terlalu dimanfaatkan.
Singkat kata pas ritual minum teh diajarin bagaimana urutan
minum teh yang anggun dan benar *sekarang sih udah lupa, Cuma inget sedikit*
pokoknya dihirup dulu aroma nya sebelum diminum, dengan gerakan tangan membawa
cangkir teh ke samping. Terus juga dikenalin macam-macam teh dan ngerasain beda
nya. Yang aku inget banget salah satunya Pu Er Tea, yang bentuknya nggak cantik
tapi ternyata itu teh yang disimpan paling lama.
Selesai dari ritual minum teh, dapat ditebak kami ditawarin
beli teh. Setelah tawar-menawar *ini harus banget kalo di China* kami deal dan
dikasih hadiah pee pee boy *pee pee boy ini semacam alat untuk mengukur suhu
air yang pas untuk membuat teh. Konon katanya kesempurnaan teh (aroma dan
rasanya) tergantung dari suhu air memasaknya, ada suhu yang pas. Nah pee pee
boy ini bentuknya sinchan sedang pose *maaf* buang air kecil. Jadi kalau pee
pee boy nya kita siram air, kalau suhunya pas dia akan buang air kecil, tapi
kalau nggak pas ya nggak akan gitu. Lucu yaa… sayang punya saya pecah pas jatuh
T_T
![]() |
| Pee Pee Boy |
Oke, sekian bagian kali ini.
Comment welcome.
Next: Tripto Beijing-Shanghai - Day 4




0 comments:
Post a Comment