Sunday, May 28, 2017

UK Trip – Day 8 – Back to London


Di hari ke-8 kaki kami cukup lemas dan capek, alhasil kami keluar dari flat baru tengah hari (sayang sih waktu nya tapi mau gimana lagi..^^).
Di hari ini kami mampir ke Harrods, sebuah pusat perbelanjaan mewah di London yang konon katanya dimiliki oleh Bapaknya alm.Dody Al Fayed (tau dong siapa). Jangan salah, kami ke Harrods ini bukan mau belanja mewah ala sosialita, tapi langsung melipir ke bagian merchandise store nya. 😋 (atas saran teman saya). Cukup melipir ke bagian souvenir dan sambil melipir sambil liat barang-barang mewah yang dijual, tapi nice to know aja. Salah satu barang mewah yang saya nggak ngerti lagi apakah ada yang beli adalah catur seharga £2000 dari Kristal 😲.
Melipir ke Harrods!

Pintu Masuk Harrods
Waktu di Harrods ini ada spot foto dan patung Lady Di & Dodi Al Fayed plus tulisan “innocent victim”. Jadi kita foto disini sebentar. Setelah puas di Harrods dan perut mulai terasa lapar, kami memutuskan untuk cari makan. Di Harrods ada sih tempat makan, tapi udah pasti kami nggak beli disitu karena masalah harga (bahkan ada jual makanan kaviar yang kaya telur ikan warna item itu.. 🙈)
Patung Lady Di & Dody Al Fayed  bertuliskan "Innocent Victim"

Berhubung hari-hari awal kami di London belum sempat makan bebek di Chinatown, jadinya kali ini kami ke sana, ke tempat makan rekomendasinya Indra yang katanya bebeknya enak, namanya Gerrard’s Corner. Sebenernya ada satu tempat lagi yang kata Indra orang Indonesia sering banget kesitu (sorry I forgot the name), tapi karena Indra bilang lebih enak di Gerrard ini yawes ngikutt..
Setelah berhari-hari akhirnya ketemu makanan Asia. Senangnyaa..kami pesan nasi+bebek+ sayur dan dumpling. Oiya saya baru tau ternyata bahasa inggrisnya kangkung itu “morning glory”, lucu yaa.. hmm..kenapa ya dinamain morning glory? Entahlah..~
Tempat makan bebek enak di Chinatown London
Oke lanjut.

Jadi setelah kami kenyang, kami lanjut ke St.Paul Cathedral dan foto-foto di sekitarnya.
St.Paul Cathedral
In front of St.Paul Cathedral
Lucunya, pas kami lagi mau foto-foto, kami agak rempong dengan kresek bawaan kami hasil dari Harrods tadi. Jadi kalo nggak gantian foto (tentu difotoin Indra yang baik hati) jadi yang lagi nggak foto megangin kresek, pas sekalinya kami foto barengan dan menaruh sebentarrr aja kresek di pinggir jalan (well tadinya karena mikir ini di Inggris sih, ga akan dicuri lah ya kresek doang), ternyata kresek kami hampir diangkut orang!

Ya bukan pencuri sih emang, tapi petugas kebersihan gitu..disangka sampah kali ya..Ahahaha..
Dan mungkin mereka mikir jorok banget ini yang buang kresek disini.

Untungnya kami lihat dan tepat sebelum mereka ambil, kami langsung nyamperin dan bilang kresek itu punya kami. Kami minta maaf ke Bapak petugas kebersihan dan Bapak nya pun minta maaf 😀.

Sembari lewat kami lihat ada orang berpakaian ala Mr.Bean dan niruin gayanya. Sempet pingin melipir foto juga sih, tapi akhirnya urung.
"Mr. Bean"

Deket St Paul kami melewati sekolah nya Daniel Radcliffe dulu, City of London School, dan Millenium Bridge. Pas sunset disini keren banget warna nya emas gitu. Subhanallah.. pas dapet langit yang bagus.
Sekolah nya Daniel Radcliffe 😎

Millenium Bridge with background of St.Paul
Sunset at Millenium Bridge
Berhubung kami belum sekalipun ke museum di London padahal di London itu banyak banget museum yang bagus dan free entry, jadi kami sempetin untuk mampir ke museum. Salah satu museum yang baru adalah Tate Modern Museum, dimana kata Indra dan Tania isinya adalah “modern art”. Saking modernnya, kita kadang nggak bisa paham dimana art nya. Semisal cuma kanvas putih doang dipajang. Jadi Indra dengan gaya nyinyir nya bilang “yaitulah modern art”. Konon temennya Indra pernah bilang gini “lo harus mengosongkan pikiran sebelum masuk ke museum itu. Jadi nggak ada persepsi tentang art dan bisa menangkap art nya dimana.” Oke deh. Oke aja.
Waktu kami sampe di Tate Modern, bener aja.. ada atraksi kabut yang kita semua gak paham maksudnya apa. But still… that’s art 😂. Lumayan juga keren buat foto-foto. Jadinya kami malah foto-foto ala gaya fierce dulu disitu.
Pas ada atraksi kabut di Tate Modern. Foto ala-ala fierce 😂
Selesai foto baru kami masuk dan bener yang dibilang tadi, saya menemukan beberapa lukisan (bahkan bukan lukisan, literally.. cuma kain yang dikasih pigura, lalu dipajang). Sungguh, saya belum bisa menyelami isi pikiran seniman yang membuat ini 😆.
Kanvas putih doang. Salah satu modern art 😂
Kanvas putih doang. Salah satu modern art😂

Kanvas putih dengan titik hitam. Salah satu "modern art" 😂
Salah satu isi Tate Modern Museum
Salah satu isi Tate Modern Museum

Selesai dari Tate Modern sudah cukup malam dan berhubung saya dan Mbak Citra harus bangun pagi besok untuk ikut tour Harry Potter, jadi kami memutuskan pulang dan siap-siap ketemu Harry! 😎😍

Next: Day 9

Sunday, May 21, 2017

UK Trip – Day 7 – Liverpool & Manchester Day

Previous: Day 6

Di hari ke 7 ini sebenernya saya nemenin trip partner saya yang fans berat bola (terutama Liverpool).  A very quick trip to Liverpool and Manchester. Pagi-pagi setelah sarapan kami ke stadionnya Liverpool alias Stadion Anfield. Sampai disana kami tanya apakah ada tour dan masih bisa beli tiketnya, ternyata masih bisa, dan tur nya ada setiap jam. Sempat mempertimbangkan waktu yang mepet karena siang kami harus ke Manchester, akhirnya saya bilang mending merelakan nggak ke tempat The Beatles tapi ikut tur di Liverpool AFC ini, secara ya Mbak Citra fans beratnya (kebayang aja sebagai fans berat pasti nyesel banget kalo udah jauh-jauh nyamperin tapi nggak ikut tour nya). Tour nya sebenernya “cuma” jalan kaki ke dalam stadion, ruang makan, dan dengerin penjelasan dari tour guide nya gitu, harga tour nya kalo nggak salah ingat sekitar £10.Berhubung saya bukan fans sepak bola, jadi selama tour nice to know aja. Hahaha… Foto-foto di depan stadion, terus lihat ruang makan tempat para pemain makan, dan di tiap kursi nya ada nama beberapa pemain yang terkenal, terus ditunjukin tempat konferensi persnya. Sayang nggak ke tempat ganti baju nya. Setelah tur selesai, kami melipir ke merchandise store yang terletak persis di sebelah stadion. Bisa ditebak ya.. temen saya belanja banyak banget disini. Ya kan fans berat yaa.. dan banyak titipan atau oleh-oleh untuk sesama penggemar juga 😋

We were here!



We're in Liverpool!

Tulisan "This is Anfield" yang katanya selalu dipegang oleh pemain Liverpool sebelum mereka bertanding
Kursi makan para pemain
Pers Room

Liverpool AFC

Liverpool AFC
Selesai dari Liverpool AFC, kami mengarah balik ke penginapan tapi melipir dulu ke toko-toko di sekitar penginapan. Seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya, daerah sekitar penginapan ini kaya’ Orchard Road nya Singapore (nama daerahnya sekitar Liverpool One) jadi banyak toko-toko menggoda, tapi kami langsung ke tempat tujuan: Sniggle (yang mana jadi incaran teman saya karena dititipin anaknya dan passss banget nemu disini) dan ke Cath Kidston (ini saya suka aja liat barang-barang lucu).Nggak kerasa waktu udah agak mepet dan kami harus buru-buru ke stasiun kereta untuk ngejar kereta ke Manchester. Dengan agak gradak gruduk kami cari uber dan harap-harap cemas mudah-mudahan keburu. Untungnya kami bisa cek di internet kereta kami di platform berapa. Real time. Bener-bener deh teknologi itu memudahkan banget.Kami bahkan udah menyiapkan mental kalau ketinggalan kereta yaudah deh cari kereta selanjutnya.

Sampai di Stasiun Liverpool Lime Street kami langsung masuk, nggak lihat kiri-kanan langsung cari platform yang udah kami googling sebelumnya. Untungnya lagi, papan informasi cukup jelas dan kami pas lihat, jadi langsung buru-buru mengejar kereta. Begitu lihat kereta nya, kami bahkan nggak pikir panjang lihat gerbongnya, yang penting kami naik dan keangkut di dalam kereta dulu.😓Untunglah kami masih sempat naik kereta (dan ternyata dari pintu masuk gerbong yang kami naiki ke tempat duduk kami lumayan jauh..haha..jadilah di dalam kereta kami grasak grusuk dengan bawaan kami ke tempat duduk. Maaf ya Mas/Mbak bule… *pasang muka tembok*).

Perjalanan dari Liverpool ke Manchester memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, nama kereta nya saya lupa tapi bukan Virgin Trains sih.

Sooo..this is Manchester! Ngapain ya kita disini..haha..~Kami sampai di Stasiun Manchester Piccadilly dan langsung mencari tempat penitipan koper. Sebelumnya saya udah googling  dan lagi-lagi baca di blog orang (thanks to them) bahwa di stasiun Manchester Piccadilly ini ada fasilitas titip koper berbayar. Kami tanya ke petugas dimanakah tempat penitipan tersebut, lalu kami diarahkan. Kalo nggak salah posisinya dekat platform 10 atau 11 gitu (agak lupa, tapi yang jelas setelah platform 9 deh). Tadinya di bayangan saya tempat penitipannya ada loker semacam di stasiun bus Waverley Edinburgh waktu itu, tapi ternyata kami salah. Tempat penitipannya cuma ditaruh di tempat aja gitu dan ada yang jagain tentunya.Harga yang dipatok untuk penitipan disini dihitung per item sebesar £8. Ini yang kami nyesek banget…Kami masing-masing bawa 3 tas (which is sebenernya 1 koper, 1 tas yang nggak terlalu besar, dan 1 kresek belanjaan) tapi tetep kena harga sama. Tau gitu bawa 1 koper gede aja sekalian..Hiksss…
Mbak citra sempet kepikir apa beli koper disitu sekalian jadi biaya titipnya bisa dihemat, tapi setelah lihat harga koper nya kok kayanya nggak sepadan ya.. Akhirnya kami memilih mengikhlaskan saja dan kalau mau beli koper mending di Primark aja deh. Di Manchester kayanya ada primark.

Dari stasiun kami langsung menuju ke Old Trafford. Ceritanya kami iseng nyobain pake bus dan mengikuti arah google map. Tapi kami kurang beruntung karena ketika di dalam bis kami dan goggle map nya seperti re-route, kami baru menyadari kami malah menjauh dari arah Old Trafford. Udah gitu di dalam bis nya nggak seperti bis di London yang ada pengeras suara dan tulisan yang memberi tanda bus stop selanjutnya. Jadi kami harus sangat jeli lihat nama bus stop (yang mana tulisannya kecil, dan iya kalo pas berhenti, kalo pas nggak berhenti ya bablas wassalam).. 😛
Akhirnyaa… kami menyerah lagi pada: Uber .. wkwkwkw

Sesampainya kami di Old Trafford, aka stadionnya Manchester, kami tanya masih bisa ikut tour nya nggak. Sayang, nggak seperti di Liverpool, tiket hari itu sudah sold out. Mungkin karena di Manchester ini lebih besar dan lebih banyak orang yang mau kesana kali ya (MU gitu loh). Mbak Citra sempat ditawari paket yang hanya denger penjelasan dari guide (bukan tour), tapi menimbang harganya dan kami yang nggak ngefans amat sama klubnya, jadi kami urung. Akhirnya saya ajak Mbak Citra makan di café nya aja, alias Red Café (udah jauh-jauh sampai sini kan sayaang.. dan pas juga saya laper berat karena terakhir kami makan adalah sarapan pas di penginapan Liverpool pagi tadi, bahkan sebelum ke AFC).
Red Cafe @ Old Trafford
Old Trafford

Selesai makan di Red Café, kami foto-foto, lalu ke merchandise store nya, dan setelah bingung mau kemana lagi, kami memutuskan balik ke arah stasiun aja. Setelah sampai stasiun dan menyadari masih punya cukup waktu, kami jalan lihat-lihat ke sekitar stasiun daaaan berlabuh ke Primark. Ngapain? Lihat-lihat koper ^^. Begitulah.
Akhirnya kami beli koper medium yang super ringan dengan harga yang terjangkau (kalo ga salah harganya £27).Ketika kami balik ke stasiun dan mengambil barang yang kami titipkan di stasiun, kami sambil memasukkan barang-barang tersebut ke koper (dan lagi-lagi sambil sedih membayangkan coba kalo kami beli kopernya di Liverpool jadi pas nitip disini bisa menghemat biaya.. tapi..yasudahlah)

Perjalanan dari Manchester ke London memakan waktu kurang lebih 2 jam dan kali ini kami naik Virgin Train lagi. Tiga kali naik kereta kami duduk berhadapan, karena kami memang pesan dekat jendela dan dekat stop kontak. Jadi secara otomatis kami dicarikan tempat duduk yang sama-sama samping jendela tapi jadinya berhadapan. Begitu sampai dan duduk di dalam kereta ada momen beberapa detik ketika kami sama-sama menghela napas panjang, terdiam dan liat-liatan beberapa detik dan tertawa. Menyadari betapa lelah nya kami hari ini melewati 2 kota dalam trip yang super singkat. Selain itu menyadari juga bahwa kaki kami mulai pegel banget setelah tak terasa sudah seminggu di UK dan “memaksa” jalan lebih banyak dibanding ketika di Indonesia.Saking lelahnya kami juga nggak ngajak ngobrol teman samping tempat duduk kami di kereta yang ternyata muslim juga (entah muslim eropa atau timur tengah, yang jelas cantik mancung gitu..haha). 
Salah satu operator kereta yang bisa jadi pilihan di UK
Interior Kereta

2 jam kemudian kami sampai di Stasiun London Euston, kira-kira jam 10 malam. Sempat terpikir untuk cari patung Matthew Flinder di stasiun tersebut karena tour Harry Potter kami 2 hari lagi meeting point nya disitu. Tapi karena kami nggak kunjung menemukan, sudah lelah dan udah larut malam, kami memutuskan untuk langsung cari uber balik ke flat teman kami di London. Kami dapat uber pertama mobil mercy yang sayangnya dia kebablasan (atau mungkin setelah liat penampakan kami yang bawa banyak koper langsung enggan juga kali ya). Gak jadi deh naik mobil bagus 😁


Sampai di daerah flat teman kami, lagi-lagi kami bingung karena gelap dan kami belum begitu hapal harus berhenti di bangunan yang mana, secara bentuk tower flat nya sama semua. Untung Indra, teman kami belum tidur dan kasih arah dari jendela flat nya.Kombinasi lelah dan lapar membuat kami berpikir hal yang sama ketika itu: sampai flat kami mau langsung makan indomie walopun udah tengah malam! Hahaha…

P.S: Oiya, pas di Manchester saya sempet kontak anaknya mantan bos saya yang kebetulan lagi kuliah di Manchester (sebenernya sok kenal aja sih, karena sebelum nya juga ga pernah komunikasi. Awalnya kontak bapak nya dulu alias mantan bos saya. Ya kali aja pas bisa ketemuan dan main bareng..haha.Ternyata telisipan banget, pas kami di Manchester dia pas di luar kota, dan balik ke Manchester pas kami udah balik ke London. Gapapa deh, seenggaknya nambah kenalan ^^.


Next: Day 8

Saturday, May 06, 2017

UK Trip – Day 6 – Fall in Love with Edinburgh


Nggak kerasa hari ini udah hari ke-6 trip kami di UK dan juga hari terakhir trip di Edinburgh.

Sambil niat awalnya cari sarapan, kami jalan-jalan di sekitar airbnb yang kami tempati. Bener-bener deh jatuh cinta sama Edinburgh, sepanjang jalan di sebelah kanan ada bukit dengan bunga-bunga kuning dan di puncaknya ada Arthur’s Seat. Ditambah suasana dingin dan kota yang lengang, bikin betah banget. Setelah tau ternyata Holyrood Palace tidak jauh dari tempat kami, kami pun memutuskan untuk kesana. Holyrood Palace ini Istana yang didatangi kalau Ratu Elizabeth dan keluarganya lagi datang ke Scotland. *pingin cari tau lebih lanjut tentang istana ini dan sejarah silsilah kerajaan Inggris sih tapi belum sempat 😀*
Arthur's Seat dan bukit di sisi jalan raya

Gedung Parlemen di deket Holyrood Palace, dekorasi di depannya pakai bambu *entah kenapa*

Setelah jalan kurang lebih 20 menit berbekal google map kami sampai di Holyrood Palace, kira-kira jam 9 pagi. Sampai disana ternyata belum buka, masih kira-kira setengah jam lagi. Karena udah jauh-jauh kesini yaudah deh kami nunggu aja. Jam 9.30 barulah kompleks istana dibuka dan kami langsung menuju tempat beli tiket untuk bisa masuk palace nya. Ketika kami beli tiket ditanya apakah ke palace nya aja atau sekalian ke Queen’s Gallery? Kami memutuskan ke palace nya aja. Oya, kalau punya kartu pelajar lumayan loh dapet diskon. Kami pakai kartu pelajar Indra tentu saja 😏

Setelah beli tiket, di gerbang masuk halaman istana kami diberikan headset dan audio guide (yang menurut saya keren karena baru pertama masuk museum ato tempat wisata yang mana guide nya tinggal pencet tombol di alat audio guide nya itu. Di dalam istananya sudah dibuat jelas alur jalan yang dilewati di tiap ruang dan audio guide otomatis memberikan informasi sesuai ruang yang sedang kita kunjungi. Keren deh pokoknya. Sayang di dalam istana nggak boleh difoto (mirip kaya pas ke Ulen Sentalu di Jogja yang gak boleh foto didalem museumnya).
Di depan Holyrood Palace,
kayanya ini air mancur tapi lagi nggak nyala

Secara garis besar ruang-ruang yang dikunjungi di dalam istana tersebut adalah ruang tamu tempat Raja menerima tamu kerajaan, ruang tamu tempat Raja menerima tamu yang lebih privat dan dekat hubungannya dengan Raja, ruang tidur Raja, ruang tempat menyimpan baju dan barang-barang nya Raja, semacam ruang keluarga kali ya.. ada piano tua nya gitu, dan yang paling sentimental adalah ruang tidur nya Queen Mary Scot dengan suasana yang lebih gelap, beratap rendah, hmm..gimana ya.. suasananya agak lebih suram dan spooky disitu 😶.
Lanjut dari ruang tidur Queen Mary kita melewati tangga batu spiral yang lagi-lagi atapnya rendah banget jadi harus agak menunduk lewat situ.
Kabarnya Queen Mary ini meninggalnya dipenggal, dan cerita tentang hidupnya dia cukup menyedihkan. Karena belum sempat googling lebih lanjut, yang penasaran sama kisah hidup dan sejarahnya bisa dicari sendiri ya..haha..~ I’ll do the same, or maybe will ask my friend, Martinus-si wikipedia berjalan-, for a shortcut! 😎

Bagian belakang Holyrood Palace

Masih di kompleks Holyrood Palace ada reruntuhan gereja.
Kayanya namanya Holyrood Abbey. Keren.

Holyrood Abbey

Selesai mengelilingi Holyrood Palace, kami cari sarapan di café nya Holyrood. Khas bule banget, makanan yang ada cuma macemnya roti sandwich dan cake. Pas disini Mbak Citra udah ambil sandwich dengan sangat yakin katanya isi tuna, padahal ternyata label tuna di etalase ternyata menunjuk ke sandwich di baris bawah, yang diambil ternyata isi bacon 😑 untung ngeh sebelum sampe kasir..
Pas kami makan, di sebelah kami ada anjing putih lucu ngeliatin dengan ekspresi nya yang memelas seolah minta dibagi. Lucu dehh… *lucu diliat aja asal anjingnya nggak nyamperin sih*
Si anjing lucu yang ngeliatin kami pas makan

Dari Holyrood Palace kami menentukan rencana kami selanjutnya karena hari sudah mendekati siang dan kami belum beres-beres. Itupun kami sudah mengajukan late checkout sebelumnya ke pemilik airbnb tempat kami menginap. Sebelumnya kami sempat terpikir untuk ke Arthur’s Seat tapi mempertimbangkan tempatnya yang tinggi banget dan waktu kami yang terbatas, kami berpikir ulang. Salah satu dari kami sempat nyeletuk “tapi bener kan tempat nya yang bagus itu Arthur’s Seat.. entar udah kesana nanjak tinggi dan lama ternyata bukan..” lalu kami googling lagi…
Daaan… kami menemukan bahwa Calton Hill sepertinya lebih cantik dan tempat nya juga nggak setinggi Arthur’s Seat. Kami pun memutuskan kembali dulu ke penginapan untuk siap-siap sekaligus checkout. 

Sesampainya kami di airbnb kami kaget karena pintu terbuka dan nggak terkunci. Shock. Seingat kami waktu kami tinggal tadi pagi sudah kami kunci. Begitu masuk ternyata ada ibu petugas cleaning service yang sepertinya nggak tau kalau kami sudah minta late check out dan sudah di-iya-kan oleh yang punya kamar. Kami langsung cek barang-barang kami ada yang hilang apa nggak, ternyata nggak. Orang ini pure mau bersihin kamar. Walaupun sempet awkward juga kita siap-siap sambil ada orang lain yang kerja, ditambah temennya dia sempat protes bilang harusnya jam 1 itu jam datang bukan jam pergi, tapi mereka menjelaskan bukan mereka nggak senang kami tinggal disitu. Yaudahlah.. Singkat cerita setelah kami checkout, kami menuju Edinburgh Waverley Station, ke terminal bus tempat kami pertama kali sampai di Edinburgh. Kami titip koper kami dulu disitu. Indra dan Tania memang akan naik bus ke London dari terminal itu, sementara saya dan Mbak Citra nantinya langsung ke Liverpool pakai Virgin Trains. Stasiun kereta nya sendiri tinggal jalan kira-kira 10 menit jadi kami memutuskan titip koper di terminal bus nya juga.
Dari Waverley Station kami ke Calton Hill, jalan kira-kira 15 menit. Ternyata keputusan kami tepat. Jalan naiknya nggak terlalu ekstrem (itu aja udah berasa capek) dan pemandangannya waktu di puncak bener-bener bikin kagum. Subhanallah.. keren banget bisa lihat Edinburgh dari atas. Cantik banget pemandangannya! Lalu tentu saja kami jadi foto-foto disini.. walaupun anginnya kenceng banget. Makin cinta deh sama Edinburgh..😍😍😍 Hahaha..
I'm falling in love with Edinburgh!

Calton Hill and Edinburgh City

So in love with the view
Betah deh duduk disini lama-lama

Kami di Calton Hill kira-kira 1 jam dan masih betah banget sebetulnya. Kalau nggak harus ngejar kereta ke Liverpool kayanya bakalan di Calton Hill terus. Indra dan Tania beruntung banget bisa balik ke Calton Hill lagi pas senja.

Dari Calton Hill kami ambil koper lalu ke stasiun kereta. Cari makan sebentar sambil nunggu kereta dateng dan akhirnya kami pun berpisah. Kami berdua melanjutkan perjalanan ke Liverpool. Kami nantinya harus ganti kereta di Preston dengan waktu kurang lebih 15 menit. Agak deg-degan juga secara kami harus cari platform nya, plus cari tahu harus ganti tiket apa nggak. Tapi subhanallah deh stasiun di sana informatif banget (dan lagi-lagi teknologi internet memudahkan banget, kami udah bisa tau platform yang harus kami cari ketika kami googling selama di kereta menuju Preston). Begitu turun dari kereta kami nggak lihat kiri-kanan langsung cari platform yang dituju. Pas lihat petugas kereta setelah masuk platform, kami langsung Tanya harus tuker tiket nggak (untungnya nggak). Masuklah kami ke dalam kereta dan di kereta kedua modelnya lebih kaya KRL gitu, nggak ada nomor tempat duduk khusus.  Total waktu perjalanan Edinburgh-Liverpool kurang lebih 5 jam.

Papan informasi Stasiun Edinburgh Waverley

Sampai di Stasiun Liverpool Lime Street, kami sok-sok an nggak mau pakai uber ceritanya, dan menurut google map nggak jauh kok jalan kaki. Oke akhirnya kami jalan kaki dari stasiun ke penginapan kami sambil geret koper dan tas. Ternyata lumayan jauh juga..😪 tapi berhubung daerahnya kaya orchard di Singapore jadi sedikit terhibur bisa sambil lihat kanan-kiri.
Hotel tempat kami menginap katanya konsepnya lebih seperti apartemen dan papan penunjuknya tidak besar, yang jadi tanda hanya Donut Krispy Kreme. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga (dan benar, kalau nggak baca info dulu di internet bahwa penunjuknya adalah Krispy Kreme pasti kami bingung). Terima kasih deh buat traveler yang kasih info itu di salah satu website yang kami baca (lupa apakah di trip advisor atau pas random googling).
Suasana sekitar penginapan di Liverpool

Menjejakkan kaki juga di Liverpool!


Monday, May 01, 2017

UK Trip – Day 5 – Scottish Highland



Melanjutkan postingan sebelumnya tentang UK Trip kami, di hari ke-5 ini kami ke Scottish Highland. Sesuai postingan sebelumnya, rencana kami yang semula akan ke Highland pakai mobil jadi batal gara-gara insiden rental car yang menolak kami. Setelah browsing apa aja tour yang menyediakan paket ke Highland akhirnya kami dapat dengan Haggis Tour. Tour nya termasuk makan siang berupa sandwich.

Kira-kira jam 8 pagi kami udah sampai di tempat tour nya untuk konfirmasi keikutsertaan dan menuju bis yang akan kami naiki.Persiapan pakaian hari itu sengaja pakai jaket yang lebih tebal kaya waktu saya ke Great Wall Beijing, takut lebih dingin karena di gunung.
Singkat kata, berangkatlah kami dengan bis berwarna kuning terang dengan driver yang merangkap pemandu bernama Dave. Sepanjang perjalanan dia menerangkan tempat-tempat yang dilewati plus kadang-kadang ngelawak. Tapi saya banyak kelewatan nyimaknya *gara-gara kemampuan Bahasa Inggris belum tingkat dewa dan logat orang Scotland yang beda, yaudahlah ya..😌

Di jalan menuju Highland kami menemukan papan penunjuk jalan selalu ditulis menggunakan dua bahasa: versi bahasa inggris dan bahasa lama Scotland (gak yakin nama bahasanya apa). Menarik. Kaya kalau di daerah Jawa biasanya juga ada ejaan jawa dan ejaan Bahasa Indonesia nya gitu.
Bahasa Inggris vs Bahasa lama Scotland
Selama tour nggak banyak perhentian yang disambangi (berhubung saya juga belum sempet banyak googling soal Scottish Highland jadi seneng-seneng aja). Seinget saya cuma sempat mampir di Glencoe, terus ke Monumen dan taman  tempat mengenang pahlawan Scotland dan tentara yang gugur demi negara, dan pastinya mampir ke Loch Ness. Beberapa loch sempat kami lewati tapi kami nggak berhenti. Lalu apa istimewa nya Loch Ness ini? Legenda nya!

Glencoe
Pemandangan ke Highland
Pemandangan ke Highland
Monumen pahlawan Scotland



Karangan bunga di sekitar monumen pahlawan Scotland
Ya, jadi di Loch Ness ini terkenal ada hewan raksasa yang tinggal di dasarnya, namanya Nessie (atau sering disebut monster Loch Ness). Nessie digambarkan awalnya mirip kuda tapi kemudian seiring berjalannya waktu wujud Nessie digambarkan reptil mirip dinosaurus. Sampai saat ini keberadaan Nessie sendiri masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi legenda tentang dia menjadi daya tarik wisatawan ke Loch Ness. Di Loch Ness kami naik kapal mengitari loch selama kurang lebih 1 jam. Selama 1 jam itu sebenernya kegiatannya ya cuma lihat pemandangan di kanan kiri loch yang berupa tebing-tebing, dan sisanya dengerin penjelasan guide nya soal Nessie.

Again, seperti kata guide nya juga, loch ini bukan yang terbesar, bukan yang terdalam, tapi terbanyak volume air nya, dan lihat! Mungkin ada Nessie di dalamnya. Terlepas dari kisahnya yang cuma legenda, yang penting udah nggak penasaran lagi karena udah pernah tau yang namanya Loch Ness.Haha..

Loch Ness
Loch Ness
Sepanjang perjalanan balik ke Edinburgh kami melewati kota kecil cantik bernama Inverness. Sayangnyaaa bis tur nggak berhenti disitu dan Dave cuma bilang ‘kalau lain kali ke Highland pastikan kalian mampir ke Inverness guys..’ 😐


Kami sampai di Edinburgh sekitar jam 8, pas matahari terbenam dan kami langsung ke airbnb tempat kami menginap di hari kedua di Edinburgh. Airbnb di hari kedua nggak selengkap hari sebelumnya tapi lumayan lah buat nginep semalem aja.

That’s all for Day 5.

Next: Day 6

Sunday, May 28, 2017

UK Trip – Day 8 – Back to London


Di hari ke-8 kaki kami cukup lemas dan capek, alhasil kami keluar dari flat baru tengah hari (sayang sih waktu nya tapi mau gimana lagi..^^).
Di hari ini kami mampir ke Harrods, sebuah pusat perbelanjaan mewah di London yang konon katanya dimiliki oleh Bapaknya alm.Dody Al Fayed (tau dong siapa). Jangan salah, kami ke Harrods ini bukan mau belanja mewah ala sosialita, tapi langsung melipir ke bagian merchandise store nya. 😋 (atas saran teman saya). Cukup melipir ke bagian souvenir dan sambil melipir sambil liat barang-barang mewah yang dijual, tapi nice to know aja. Salah satu barang mewah yang saya nggak ngerti lagi apakah ada yang beli adalah catur seharga £2000 dari Kristal 😲.
Melipir ke Harrods!

Pintu Masuk Harrods
Waktu di Harrods ini ada spot foto dan patung Lady Di & Dodi Al Fayed plus tulisan “innocent victim”. Jadi kita foto disini sebentar. Setelah puas di Harrods dan perut mulai terasa lapar, kami memutuskan untuk cari makan. Di Harrods ada sih tempat makan, tapi udah pasti kami nggak beli disitu karena masalah harga (bahkan ada jual makanan kaviar yang kaya telur ikan warna item itu.. 🙈)
Patung Lady Di & Dody Al Fayed  bertuliskan "Innocent Victim"

Berhubung hari-hari awal kami di London belum sempat makan bebek di Chinatown, jadinya kali ini kami ke sana, ke tempat makan rekomendasinya Indra yang katanya bebeknya enak, namanya Gerrard’s Corner. Sebenernya ada satu tempat lagi yang kata Indra orang Indonesia sering banget kesitu (sorry I forgot the name), tapi karena Indra bilang lebih enak di Gerrard ini yawes ngikutt..
Setelah berhari-hari akhirnya ketemu makanan Asia. Senangnyaa..kami pesan nasi+bebek+ sayur dan dumpling. Oiya saya baru tau ternyata bahasa inggrisnya kangkung itu “morning glory”, lucu yaa.. hmm..kenapa ya dinamain morning glory? Entahlah..~
Tempat makan bebek enak di Chinatown London
Oke lanjut.

Jadi setelah kami kenyang, kami lanjut ke St.Paul Cathedral dan foto-foto di sekitarnya.
St.Paul Cathedral
In front of St.Paul Cathedral
Lucunya, pas kami lagi mau foto-foto, kami agak rempong dengan kresek bawaan kami hasil dari Harrods tadi. Jadi kalo nggak gantian foto (tentu difotoin Indra yang baik hati) jadi yang lagi nggak foto megangin kresek, pas sekalinya kami foto barengan dan menaruh sebentarrr aja kresek di pinggir jalan (well tadinya karena mikir ini di Inggris sih, ga akan dicuri lah ya kresek doang), ternyata kresek kami hampir diangkut orang!

Ya bukan pencuri sih emang, tapi petugas kebersihan gitu..disangka sampah kali ya..Ahahaha..
Dan mungkin mereka mikir jorok banget ini yang buang kresek disini.

Untungnya kami lihat dan tepat sebelum mereka ambil, kami langsung nyamperin dan bilang kresek itu punya kami. Kami minta maaf ke Bapak petugas kebersihan dan Bapak nya pun minta maaf 😀.

Sembari lewat kami lihat ada orang berpakaian ala Mr.Bean dan niruin gayanya. Sempet pingin melipir foto juga sih, tapi akhirnya urung.
"Mr. Bean"

Deket St Paul kami melewati sekolah nya Daniel Radcliffe dulu, City of London School, dan Millenium Bridge. Pas sunset disini keren banget warna nya emas gitu. Subhanallah.. pas dapet langit yang bagus.
Sekolah nya Daniel Radcliffe 😎

Millenium Bridge with background of St.Paul
Sunset at Millenium Bridge
Berhubung kami belum sekalipun ke museum di London padahal di London itu banyak banget museum yang bagus dan free entry, jadi kami sempetin untuk mampir ke museum. Salah satu museum yang baru adalah Tate Modern Museum, dimana kata Indra dan Tania isinya adalah “modern art”. Saking modernnya, kita kadang nggak bisa paham dimana art nya. Semisal cuma kanvas putih doang dipajang. Jadi Indra dengan gaya nyinyir nya bilang “yaitulah modern art”. Konon temennya Indra pernah bilang gini “lo harus mengosongkan pikiran sebelum masuk ke museum itu. Jadi nggak ada persepsi tentang art dan bisa menangkap art nya dimana.” Oke deh. Oke aja.
Waktu kami sampe di Tate Modern, bener aja.. ada atraksi kabut yang kita semua gak paham maksudnya apa. But still… that’s art 😂. Lumayan juga keren buat foto-foto. Jadinya kami malah foto-foto ala gaya fierce dulu disitu.
Pas ada atraksi kabut di Tate Modern. Foto ala-ala fierce 😂
Selesai foto baru kami masuk dan bener yang dibilang tadi, saya menemukan beberapa lukisan (bahkan bukan lukisan, literally.. cuma kain yang dikasih pigura, lalu dipajang). Sungguh, saya belum bisa menyelami isi pikiran seniman yang membuat ini 😆.
Kanvas putih doang. Salah satu modern art 😂
Kanvas putih doang. Salah satu modern art😂

Kanvas putih dengan titik hitam. Salah satu "modern art" 😂
Salah satu isi Tate Modern Museum
Salah satu isi Tate Modern Museum

Selesai dari Tate Modern sudah cukup malam dan berhubung saya dan Mbak Citra harus bangun pagi besok untuk ikut tour Harry Potter, jadi kami memutuskan pulang dan siap-siap ketemu Harry! 😎😍

Next: Day 9

Sunday, May 21, 2017

UK Trip – Day 7 – Liverpool & Manchester Day

Previous: Day 6

Di hari ke 7 ini sebenernya saya nemenin trip partner saya yang fans berat bola (terutama Liverpool).  A very quick trip to Liverpool and Manchester. Pagi-pagi setelah sarapan kami ke stadionnya Liverpool alias Stadion Anfield. Sampai disana kami tanya apakah ada tour dan masih bisa beli tiketnya, ternyata masih bisa, dan tur nya ada setiap jam. Sempat mempertimbangkan waktu yang mepet karena siang kami harus ke Manchester, akhirnya saya bilang mending merelakan nggak ke tempat The Beatles tapi ikut tur di Liverpool AFC ini, secara ya Mbak Citra fans beratnya (kebayang aja sebagai fans berat pasti nyesel banget kalo udah jauh-jauh nyamperin tapi nggak ikut tour nya). Tour nya sebenernya “cuma” jalan kaki ke dalam stadion, ruang makan, dan dengerin penjelasan dari tour guide nya gitu, harga tour nya kalo nggak salah ingat sekitar £10.Berhubung saya bukan fans sepak bola, jadi selama tour nice to know aja. Hahaha… Foto-foto di depan stadion, terus lihat ruang makan tempat para pemain makan, dan di tiap kursi nya ada nama beberapa pemain yang terkenal, terus ditunjukin tempat konferensi persnya. Sayang nggak ke tempat ganti baju nya. Setelah tur selesai, kami melipir ke merchandise store yang terletak persis di sebelah stadion. Bisa ditebak ya.. temen saya belanja banyak banget disini. Ya kan fans berat yaa.. dan banyak titipan atau oleh-oleh untuk sesama penggemar juga 😋

We were here!



We're in Liverpool!

Tulisan "This is Anfield" yang katanya selalu dipegang oleh pemain Liverpool sebelum mereka bertanding
Kursi makan para pemain
Pers Room

Liverpool AFC

Liverpool AFC
Selesai dari Liverpool AFC, kami mengarah balik ke penginapan tapi melipir dulu ke toko-toko di sekitar penginapan. Seperti yang saya tuliskan di postingan sebelumnya, daerah sekitar penginapan ini kaya’ Orchard Road nya Singapore (nama daerahnya sekitar Liverpool One) jadi banyak toko-toko menggoda, tapi kami langsung ke tempat tujuan: Sniggle (yang mana jadi incaran teman saya karena dititipin anaknya dan passss banget nemu disini) dan ke Cath Kidston (ini saya suka aja liat barang-barang lucu).Nggak kerasa waktu udah agak mepet dan kami harus buru-buru ke stasiun kereta untuk ngejar kereta ke Manchester. Dengan agak gradak gruduk kami cari uber dan harap-harap cemas mudah-mudahan keburu. Untungnya kami bisa cek di internet kereta kami di platform berapa. Real time. Bener-bener deh teknologi itu memudahkan banget.Kami bahkan udah menyiapkan mental kalau ketinggalan kereta yaudah deh cari kereta selanjutnya.

Sampai di Stasiun Liverpool Lime Street kami langsung masuk, nggak lihat kiri-kanan langsung cari platform yang udah kami googling sebelumnya. Untungnya lagi, papan informasi cukup jelas dan kami pas lihat, jadi langsung buru-buru mengejar kereta. Begitu lihat kereta nya, kami bahkan nggak pikir panjang lihat gerbongnya, yang penting kami naik dan keangkut di dalam kereta dulu.😓Untunglah kami masih sempat naik kereta (dan ternyata dari pintu masuk gerbong yang kami naiki ke tempat duduk kami lumayan jauh..haha..jadilah di dalam kereta kami grasak grusuk dengan bawaan kami ke tempat duduk. Maaf ya Mas/Mbak bule… *pasang muka tembok*).

Perjalanan dari Liverpool ke Manchester memakan waktu kurang lebih 1,5 jam, nama kereta nya saya lupa tapi bukan Virgin Trains sih.

Sooo..this is Manchester! Ngapain ya kita disini..haha..~Kami sampai di Stasiun Manchester Piccadilly dan langsung mencari tempat penitipan koper. Sebelumnya saya udah googling  dan lagi-lagi baca di blog orang (thanks to them) bahwa di stasiun Manchester Piccadilly ini ada fasilitas titip koper berbayar. Kami tanya ke petugas dimanakah tempat penitipan tersebut, lalu kami diarahkan. Kalo nggak salah posisinya dekat platform 10 atau 11 gitu (agak lupa, tapi yang jelas setelah platform 9 deh). Tadinya di bayangan saya tempat penitipannya ada loker semacam di stasiun bus Waverley Edinburgh waktu itu, tapi ternyata kami salah. Tempat penitipannya cuma ditaruh di tempat aja gitu dan ada yang jagain tentunya.Harga yang dipatok untuk penitipan disini dihitung per item sebesar £8. Ini yang kami nyesek banget…Kami masing-masing bawa 3 tas (which is sebenernya 1 koper, 1 tas yang nggak terlalu besar, dan 1 kresek belanjaan) tapi tetep kena harga sama. Tau gitu bawa 1 koper gede aja sekalian..Hiksss…
Mbak citra sempet kepikir apa beli koper disitu sekalian jadi biaya titipnya bisa dihemat, tapi setelah lihat harga koper nya kok kayanya nggak sepadan ya.. Akhirnya kami memilih mengikhlaskan saja dan kalau mau beli koper mending di Primark aja deh. Di Manchester kayanya ada primark.

Dari stasiun kami langsung menuju ke Old Trafford. Ceritanya kami iseng nyobain pake bus dan mengikuti arah google map. Tapi kami kurang beruntung karena ketika di dalam bis kami dan goggle map nya seperti re-route, kami baru menyadari kami malah menjauh dari arah Old Trafford. Udah gitu di dalam bis nya nggak seperti bis di London yang ada pengeras suara dan tulisan yang memberi tanda bus stop selanjutnya. Jadi kami harus sangat jeli lihat nama bus stop (yang mana tulisannya kecil, dan iya kalo pas berhenti, kalo pas nggak berhenti ya bablas wassalam).. 😛
Akhirnyaa… kami menyerah lagi pada: Uber .. wkwkwkw

Sesampainya kami di Old Trafford, aka stadionnya Manchester, kami tanya masih bisa ikut tour nya nggak. Sayang, nggak seperti di Liverpool, tiket hari itu sudah sold out. Mungkin karena di Manchester ini lebih besar dan lebih banyak orang yang mau kesana kali ya (MU gitu loh). Mbak Citra sempat ditawari paket yang hanya denger penjelasan dari guide (bukan tour), tapi menimbang harganya dan kami yang nggak ngefans amat sama klubnya, jadi kami urung. Akhirnya saya ajak Mbak Citra makan di café nya aja, alias Red Café (udah jauh-jauh sampai sini kan sayaang.. dan pas juga saya laper berat karena terakhir kami makan adalah sarapan pas di penginapan Liverpool pagi tadi, bahkan sebelum ke AFC).
Red Cafe @ Old Trafford
Old Trafford

Selesai makan di Red Café, kami foto-foto, lalu ke merchandise store nya, dan setelah bingung mau kemana lagi, kami memutuskan balik ke arah stasiun aja. Setelah sampai stasiun dan menyadari masih punya cukup waktu, kami jalan lihat-lihat ke sekitar stasiun daaaan berlabuh ke Primark. Ngapain? Lihat-lihat koper ^^. Begitulah.
Akhirnya kami beli koper medium yang super ringan dengan harga yang terjangkau (kalo ga salah harganya £27).Ketika kami balik ke stasiun dan mengambil barang yang kami titipkan di stasiun, kami sambil memasukkan barang-barang tersebut ke koper (dan lagi-lagi sambil sedih membayangkan coba kalo kami beli kopernya di Liverpool jadi pas nitip disini bisa menghemat biaya.. tapi..yasudahlah)

Perjalanan dari Manchester ke London memakan waktu kurang lebih 2 jam dan kali ini kami naik Virgin Train lagi. Tiga kali naik kereta kami duduk berhadapan, karena kami memang pesan dekat jendela dan dekat stop kontak. Jadi secara otomatis kami dicarikan tempat duduk yang sama-sama samping jendela tapi jadinya berhadapan. Begitu sampai dan duduk di dalam kereta ada momen beberapa detik ketika kami sama-sama menghela napas panjang, terdiam dan liat-liatan beberapa detik dan tertawa. Menyadari betapa lelah nya kami hari ini melewati 2 kota dalam trip yang super singkat. Selain itu menyadari juga bahwa kaki kami mulai pegel banget setelah tak terasa sudah seminggu di UK dan “memaksa” jalan lebih banyak dibanding ketika di Indonesia.Saking lelahnya kami juga nggak ngajak ngobrol teman samping tempat duduk kami di kereta yang ternyata muslim juga (entah muslim eropa atau timur tengah, yang jelas cantik mancung gitu..haha). 
Salah satu operator kereta yang bisa jadi pilihan di UK
Interior Kereta

2 jam kemudian kami sampai di Stasiun London Euston, kira-kira jam 10 malam. Sempat terpikir untuk cari patung Matthew Flinder di stasiun tersebut karena tour Harry Potter kami 2 hari lagi meeting point nya disitu. Tapi karena kami nggak kunjung menemukan, sudah lelah dan udah larut malam, kami memutuskan untuk langsung cari uber balik ke flat teman kami di London. Kami dapat uber pertama mobil mercy yang sayangnya dia kebablasan (atau mungkin setelah liat penampakan kami yang bawa banyak koper langsung enggan juga kali ya). Gak jadi deh naik mobil bagus 😁


Sampai di daerah flat teman kami, lagi-lagi kami bingung karena gelap dan kami belum begitu hapal harus berhenti di bangunan yang mana, secara bentuk tower flat nya sama semua. Untung Indra, teman kami belum tidur dan kasih arah dari jendela flat nya.Kombinasi lelah dan lapar membuat kami berpikir hal yang sama ketika itu: sampai flat kami mau langsung makan indomie walopun udah tengah malam! Hahaha…

P.S: Oiya, pas di Manchester saya sempet kontak anaknya mantan bos saya yang kebetulan lagi kuliah di Manchester (sebenernya sok kenal aja sih, karena sebelum nya juga ga pernah komunikasi. Awalnya kontak bapak nya dulu alias mantan bos saya. Ya kali aja pas bisa ketemuan dan main bareng..haha.Ternyata telisipan banget, pas kami di Manchester dia pas di luar kota, dan balik ke Manchester pas kami udah balik ke London. Gapapa deh, seenggaknya nambah kenalan ^^.


Next: Day 8

Saturday, May 06, 2017

UK Trip – Day 6 – Fall in Love with Edinburgh


Nggak kerasa hari ini udah hari ke-6 trip kami di UK dan juga hari terakhir trip di Edinburgh.

Sambil niat awalnya cari sarapan, kami jalan-jalan di sekitar airbnb yang kami tempati. Bener-bener deh jatuh cinta sama Edinburgh, sepanjang jalan di sebelah kanan ada bukit dengan bunga-bunga kuning dan di puncaknya ada Arthur’s Seat. Ditambah suasana dingin dan kota yang lengang, bikin betah banget. Setelah tau ternyata Holyrood Palace tidak jauh dari tempat kami, kami pun memutuskan untuk kesana. Holyrood Palace ini Istana yang didatangi kalau Ratu Elizabeth dan keluarganya lagi datang ke Scotland. *pingin cari tau lebih lanjut tentang istana ini dan sejarah silsilah kerajaan Inggris sih tapi belum sempat 😀*
Arthur's Seat dan bukit di sisi jalan raya

Gedung Parlemen di deket Holyrood Palace, dekorasi di depannya pakai bambu *entah kenapa*

Setelah jalan kurang lebih 20 menit berbekal google map kami sampai di Holyrood Palace, kira-kira jam 9 pagi. Sampai disana ternyata belum buka, masih kira-kira setengah jam lagi. Karena udah jauh-jauh kesini yaudah deh kami nunggu aja. Jam 9.30 barulah kompleks istana dibuka dan kami langsung menuju tempat beli tiket untuk bisa masuk palace nya. Ketika kami beli tiket ditanya apakah ke palace nya aja atau sekalian ke Queen’s Gallery? Kami memutuskan ke palace nya aja. Oya, kalau punya kartu pelajar lumayan loh dapet diskon. Kami pakai kartu pelajar Indra tentu saja 😏

Setelah beli tiket, di gerbang masuk halaman istana kami diberikan headset dan audio guide (yang menurut saya keren karena baru pertama masuk museum ato tempat wisata yang mana guide nya tinggal pencet tombol di alat audio guide nya itu. Di dalam istananya sudah dibuat jelas alur jalan yang dilewati di tiap ruang dan audio guide otomatis memberikan informasi sesuai ruang yang sedang kita kunjungi. Keren deh pokoknya. Sayang di dalam istana nggak boleh difoto (mirip kaya pas ke Ulen Sentalu di Jogja yang gak boleh foto didalem museumnya).
Di depan Holyrood Palace,
kayanya ini air mancur tapi lagi nggak nyala

Secara garis besar ruang-ruang yang dikunjungi di dalam istana tersebut adalah ruang tamu tempat Raja menerima tamu kerajaan, ruang tamu tempat Raja menerima tamu yang lebih privat dan dekat hubungannya dengan Raja, ruang tidur Raja, ruang tempat menyimpan baju dan barang-barang nya Raja, semacam ruang keluarga kali ya.. ada piano tua nya gitu, dan yang paling sentimental adalah ruang tidur nya Queen Mary Scot dengan suasana yang lebih gelap, beratap rendah, hmm..gimana ya.. suasananya agak lebih suram dan spooky disitu 😶.
Lanjut dari ruang tidur Queen Mary kita melewati tangga batu spiral yang lagi-lagi atapnya rendah banget jadi harus agak menunduk lewat situ.
Kabarnya Queen Mary ini meninggalnya dipenggal, dan cerita tentang hidupnya dia cukup menyedihkan. Karena belum sempat googling lebih lanjut, yang penasaran sama kisah hidup dan sejarahnya bisa dicari sendiri ya..haha..~ I’ll do the same, or maybe will ask my friend, Martinus-si wikipedia berjalan-, for a shortcut! 😎

Bagian belakang Holyrood Palace

Masih di kompleks Holyrood Palace ada reruntuhan gereja.
Kayanya namanya Holyrood Abbey. Keren.

Holyrood Abbey

Selesai mengelilingi Holyrood Palace, kami cari sarapan di café nya Holyrood. Khas bule banget, makanan yang ada cuma macemnya roti sandwich dan cake. Pas disini Mbak Citra udah ambil sandwich dengan sangat yakin katanya isi tuna, padahal ternyata label tuna di etalase ternyata menunjuk ke sandwich di baris bawah, yang diambil ternyata isi bacon 😑 untung ngeh sebelum sampe kasir..
Pas kami makan, di sebelah kami ada anjing putih lucu ngeliatin dengan ekspresi nya yang memelas seolah minta dibagi. Lucu dehh… *lucu diliat aja asal anjingnya nggak nyamperin sih*
Si anjing lucu yang ngeliatin kami pas makan

Dari Holyrood Palace kami menentukan rencana kami selanjutnya karena hari sudah mendekati siang dan kami belum beres-beres. Itupun kami sudah mengajukan late checkout sebelumnya ke pemilik airbnb tempat kami menginap. Sebelumnya kami sempat terpikir untuk ke Arthur’s Seat tapi mempertimbangkan tempatnya yang tinggi banget dan waktu kami yang terbatas, kami berpikir ulang. Salah satu dari kami sempat nyeletuk “tapi bener kan tempat nya yang bagus itu Arthur’s Seat.. entar udah kesana nanjak tinggi dan lama ternyata bukan..” lalu kami googling lagi…
Daaan… kami menemukan bahwa Calton Hill sepertinya lebih cantik dan tempat nya juga nggak setinggi Arthur’s Seat. Kami pun memutuskan kembali dulu ke penginapan untuk siap-siap sekaligus checkout. 

Sesampainya kami di airbnb kami kaget karena pintu terbuka dan nggak terkunci. Shock. Seingat kami waktu kami tinggal tadi pagi sudah kami kunci. Begitu masuk ternyata ada ibu petugas cleaning service yang sepertinya nggak tau kalau kami sudah minta late check out dan sudah di-iya-kan oleh yang punya kamar. Kami langsung cek barang-barang kami ada yang hilang apa nggak, ternyata nggak. Orang ini pure mau bersihin kamar. Walaupun sempet awkward juga kita siap-siap sambil ada orang lain yang kerja, ditambah temennya dia sempat protes bilang harusnya jam 1 itu jam datang bukan jam pergi, tapi mereka menjelaskan bukan mereka nggak senang kami tinggal disitu. Yaudahlah.. Singkat cerita setelah kami checkout, kami menuju Edinburgh Waverley Station, ke terminal bus tempat kami pertama kali sampai di Edinburgh. Kami titip koper kami dulu disitu. Indra dan Tania memang akan naik bus ke London dari terminal itu, sementara saya dan Mbak Citra nantinya langsung ke Liverpool pakai Virgin Trains. Stasiun kereta nya sendiri tinggal jalan kira-kira 10 menit jadi kami memutuskan titip koper di terminal bus nya juga.
Dari Waverley Station kami ke Calton Hill, jalan kira-kira 15 menit. Ternyata keputusan kami tepat. Jalan naiknya nggak terlalu ekstrem (itu aja udah berasa capek) dan pemandangannya waktu di puncak bener-bener bikin kagum. Subhanallah.. keren banget bisa lihat Edinburgh dari atas. Cantik banget pemandangannya! Lalu tentu saja kami jadi foto-foto disini.. walaupun anginnya kenceng banget. Makin cinta deh sama Edinburgh..😍😍😍 Hahaha..
I'm falling in love with Edinburgh!

Calton Hill and Edinburgh City

So in love with the view
Betah deh duduk disini lama-lama

Kami di Calton Hill kira-kira 1 jam dan masih betah banget sebetulnya. Kalau nggak harus ngejar kereta ke Liverpool kayanya bakalan di Calton Hill terus. Indra dan Tania beruntung banget bisa balik ke Calton Hill lagi pas senja.

Dari Calton Hill kami ambil koper lalu ke stasiun kereta. Cari makan sebentar sambil nunggu kereta dateng dan akhirnya kami pun berpisah. Kami berdua melanjutkan perjalanan ke Liverpool. Kami nantinya harus ganti kereta di Preston dengan waktu kurang lebih 15 menit. Agak deg-degan juga secara kami harus cari platform nya, plus cari tahu harus ganti tiket apa nggak. Tapi subhanallah deh stasiun di sana informatif banget (dan lagi-lagi teknologi internet memudahkan banget, kami udah bisa tau platform yang harus kami cari ketika kami googling selama di kereta menuju Preston). Begitu turun dari kereta kami nggak lihat kiri-kanan langsung cari platform yang dituju. Pas lihat petugas kereta setelah masuk platform, kami langsung Tanya harus tuker tiket nggak (untungnya nggak). Masuklah kami ke dalam kereta dan di kereta kedua modelnya lebih kaya KRL gitu, nggak ada nomor tempat duduk khusus.  Total waktu perjalanan Edinburgh-Liverpool kurang lebih 5 jam.

Papan informasi Stasiun Edinburgh Waverley

Sampai di Stasiun Liverpool Lime Street, kami sok-sok an nggak mau pakai uber ceritanya, dan menurut google map nggak jauh kok jalan kaki. Oke akhirnya kami jalan kaki dari stasiun ke penginapan kami sambil geret koper dan tas. Ternyata lumayan jauh juga..😪 tapi berhubung daerahnya kaya orchard di Singapore jadi sedikit terhibur bisa sambil lihat kanan-kiri.
Hotel tempat kami menginap katanya konsepnya lebih seperti apartemen dan papan penunjuknya tidak besar, yang jadi tanda hanya Donut Krispy Kreme. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga (dan benar, kalau nggak baca info dulu di internet bahwa penunjuknya adalah Krispy Kreme pasti kami bingung). Terima kasih deh buat traveler yang kasih info itu di salah satu website yang kami baca (lupa apakah di trip advisor atau pas random googling).
Suasana sekitar penginapan di Liverpool

Menjejakkan kaki juga di Liverpool!


Monday, May 01, 2017

UK Trip – Day 5 – Scottish Highland



Melanjutkan postingan sebelumnya tentang UK Trip kami, di hari ke-5 ini kami ke Scottish Highland. Sesuai postingan sebelumnya, rencana kami yang semula akan ke Highland pakai mobil jadi batal gara-gara insiden rental car yang menolak kami. Setelah browsing apa aja tour yang menyediakan paket ke Highland akhirnya kami dapat dengan Haggis Tour. Tour nya termasuk makan siang berupa sandwich.

Kira-kira jam 8 pagi kami udah sampai di tempat tour nya untuk konfirmasi keikutsertaan dan menuju bis yang akan kami naiki.Persiapan pakaian hari itu sengaja pakai jaket yang lebih tebal kaya waktu saya ke Great Wall Beijing, takut lebih dingin karena di gunung.
Singkat kata, berangkatlah kami dengan bis berwarna kuning terang dengan driver yang merangkap pemandu bernama Dave. Sepanjang perjalanan dia menerangkan tempat-tempat yang dilewati plus kadang-kadang ngelawak. Tapi saya banyak kelewatan nyimaknya *gara-gara kemampuan Bahasa Inggris belum tingkat dewa dan logat orang Scotland yang beda, yaudahlah ya..😌

Di jalan menuju Highland kami menemukan papan penunjuk jalan selalu ditulis menggunakan dua bahasa: versi bahasa inggris dan bahasa lama Scotland (gak yakin nama bahasanya apa). Menarik. Kaya kalau di daerah Jawa biasanya juga ada ejaan jawa dan ejaan Bahasa Indonesia nya gitu.
Bahasa Inggris vs Bahasa lama Scotland
Selama tour nggak banyak perhentian yang disambangi (berhubung saya juga belum sempet banyak googling soal Scottish Highland jadi seneng-seneng aja). Seinget saya cuma sempat mampir di Glencoe, terus ke Monumen dan taman  tempat mengenang pahlawan Scotland dan tentara yang gugur demi negara, dan pastinya mampir ke Loch Ness. Beberapa loch sempat kami lewati tapi kami nggak berhenti. Lalu apa istimewa nya Loch Ness ini? Legenda nya!

Glencoe
Pemandangan ke Highland
Pemandangan ke Highland
Monumen pahlawan Scotland



Karangan bunga di sekitar monumen pahlawan Scotland
Ya, jadi di Loch Ness ini terkenal ada hewan raksasa yang tinggal di dasarnya, namanya Nessie (atau sering disebut monster Loch Ness). Nessie digambarkan awalnya mirip kuda tapi kemudian seiring berjalannya waktu wujud Nessie digambarkan reptil mirip dinosaurus. Sampai saat ini keberadaan Nessie sendiri masih belum bisa dibuktikan secara ilmiah, tapi legenda tentang dia menjadi daya tarik wisatawan ke Loch Ness. Di Loch Ness kami naik kapal mengitari loch selama kurang lebih 1 jam. Selama 1 jam itu sebenernya kegiatannya ya cuma lihat pemandangan di kanan kiri loch yang berupa tebing-tebing, dan sisanya dengerin penjelasan guide nya soal Nessie.

Again, seperti kata guide nya juga, loch ini bukan yang terbesar, bukan yang terdalam, tapi terbanyak volume air nya, dan lihat! Mungkin ada Nessie di dalamnya. Terlepas dari kisahnya yang cuma legenda, yang penting udah nggak penasaran lagi karena udah pernah tau yang namanya Loch Ness.Haha..

Loch Ness
Loch Ness
Sepanjang perjalanan balik ke Edinburgh kami melewati kota kecil cantik bernama Inverness. Sayangnyaaa bis tur nggak berhenti disitu dan Dave cuma bilang ‘kalau lain kali ke Highland pastikan kalian mampir ke Inverness guys..’ 😐


Kami sampai di Edinburgh sekitar jam 8, pas matahari terbenam dan kami langsung ke airbnb tempat kami menginap di hari kedua di Edinburgh. Airbnb di hari kedua nggak selengkap hari sebelumnya tapi lumayan lah buat nginep semalem aja.

That’s all for Day 5.

Next: Day 6

 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates