Sunday, April 13, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - Day 1


Akhirnya kami menjejakkan kaki juga di Zhongguo! Ya, kami sampai di Beijing Capital International Airport jam 1 dini hari. Setelah melewati imigrasi dan ambil bagasi kami menunggu di ruang tunggu bandara, setelah sebelumnya ke mampir ke KFC beli dou jiang (susu kedelai).
@ Beijing Capital International Airport
Planning awal kami menunggu jam subway beroperasi sekitar jam 6, namun di tengah menunggu akhirnya galau. Dengan pertimbangan bawaan rempong dan pertama kali, Yovie usul supaya kita naik taksi aja ke hostel. Akhirnya kami pun memutuskan keluar bandara cari taksi, dan BRRRRR sumpah itu dingin BGT! *Ya secara ini pertama kalinya dalam hidup ngerasain suhu minus ya. Efeknya juga udah kaya di film, napas nya keluar embun putih. Hehehe.
Nunggu pagi di ruang makan hostel
Akhirnya kami dapat taksi dan langsung minta diantar ke Beijing Saga Youth Hostel di Shijia Hutong. FYI, kami sudah book jauh-jauh hari di booking.com. Pertimbangan kami pilih hostel itu selain review nya bagus, juga waktu check in nya cukup pagi. Sebenernya kami agak gambling juga memutuskan datang jam segitu, tapi kami pikir yang penting sampe hostel dulu deh, mudah-mudahan dibukain pintu. Di dalam taksi tentu saja Yovie yang jadi jubir kami..hahaha~ Kami sedikit-sedikit ngerti bagian dia cerita kalau ini pertama kali nya kami ke Zhongguo, lalu si supir taksi bilang Beijing ini gede banget, yang biasa dikunjungi wisatawan pasti Gugong (forbidden city), great wall, tiantan. Kata Yovie, sang supir juga bilang tadinya nggak mau mengangkut kami begitu lihat saya dan Dewi karena dia nggak bisa bahasa inggris, tapi begitu liat ada Yovie yang mukanya udah nyaru kaya orang zhongguo dia oke deh.

Walaupun Hostel tapi kamarnya bersih

Akhirnya kami tiba di hostel sekitar pukul 2 dini hari, untungnya kami dibukain pintu, dan akhirnya karena belum waktu nya check in, kami dikasih tebengan di ruang makan untuk menunggu pagi. Lumayan buat tidur dulu walopun di kursi. Jam 6 an kami baru check in dan ke kamar. Karena tepar, kami sempat tidur dulu sejam sebelum akhirnya janjian dengan teman yang juga akan menemani kami di Beijing.
Kami berkenalan dengan teman-beijing kami, namanya Hu Qiu Shi dan Yuna. Yuna lumayan bisa bahasa inggris katanya. Tujuan kami hari itu sebenarnya mau ke zoo liat panda dan jalan jalan sekitar Forbidden City, wangfujing, Tiananmen. Kami benar ke zoo, namun karena ternyata forbidde city hari itu tutup (entah karena ada event apa gitu waktu itu), kami mengalihkan ke Tiantan, dan tentunya tetap Wangfujing yang hits itu.
papan rute subway

Stasiun subway dekat hostel - Dengshikou St
petunjuk jalan di Beijing

Di Beijing zoo akhirnya kami lihat secara langsung Panda! Sayang tetap dikandangin jadi liatnya di balik kaca. Dari Beijing Zoo, kami ke Tiantan (Temple of Heaven). Disini banyak lansia yang sekedar duduk main mahjong, atau taici, atau kumpul-kumpul aja sesame mereka. So sweet deh liatnya. Tiantan itu konon tempat sembahyang para keluarga kaisar. Bentuk nya sendiri bulat dan ada filosofinya.


lansia yang kumpul di Tiantan
New Friend =)

Ada spot menarik di Tiantan ini:
1.       Tembok gaung (entah dinamain apa), tapi yang jelas tembok nya itu berbentuk kurang lebih setengah lingkaran. Konon katanya kalau kita teriak di satu sisi, orang yang ada di sisi seberang bisa dengar lewat tembok tersebut. Kami nyoba sih, tapi gak terlalu berhasil :p
 2.  

Ada batu yang konon katanya itu center , kalau kita ngomong dengan suara biasa disitu akan kedengeran lebih besar suaranya (seperti teriak). Dan orang-orang juga percaya kalo berharap disitu bisa jadi beneran, Yovie pernah berharap balik lagi ke Tiantan, dan bener dia balik lagi..Hahahah






Selanjutnya kami ke Wangfujing. Ini tempat lebih tepatnya jalan yang panjang begitu loh, nggak sebesar jalan biasa tapi juga nggak se-sempit gang. Yang paling terkenal disini adalah night market yang jual berbagai makanan/sate ekstrem, misalnya sate kalajengking, bintang laut, sampe yang paling yuckkkk banget adalah sate lava -.-“ Saya dan dewi sendiri
Sate binatang ekstrem di Wangfujing
 coba sate kambing khas zhongguo yang enak bangettt, nyoba sate cumi juga. kami dibeliin bing tang hulu juga ,persis kaya di film-film china klasik. Kami juga cicil cari-cari oleh-oleh. Satu hal yang harus selalu dilakukan selama belanja disini: Nawar! Kalo bisa pake zhongwen tapi kalo nggak juga gpp, mereka biasanya tawar menawar pake kalkulator. Karena penjual disini tega banget kalo kasih harga..

Pintu Masuk Wangfujing



Lucunya juga waktu kami naik subway ataupun bis kota, orang zhongguo pada kepo banget liat kami. Sempat ada yang liatin saya dan Dewi selama beberapa detik sengaja saya biarin aja sebelum akhirnya saya nengok tiba-tiba dan dia langsung mengalihkan muka. Berasa lucu aja diliatin penasaran gitu dan ketika kami ngomong Indonesia mereka ngeliatin. Berasa bule kalo di Indonesia.
Pengalaman menarik lainnya waktu kami lagi nungguin Yuna dan Qiu Shi ke toilet, ada seorang penjual topi menghampiri Yovie, saya dan Dewi. Dia nawarin topi ke kami, kami tolak secara halus pake bahasa Mandarin. Si Bapak tersebut tampak takjub lihat kami *terutama saya dan Dewi yang bermuka sangat non oriental* dan komen kalo zhongwen kami bagus *geer dikit..haha*, terus dia nebak kami ini pelajar. Kami jawab "bukan, kami turis". Dia  sambil senyum masih bilang "wah.. zhongwen kalian bagus.." dan sesaat jadi amaze juga sama reaksi nya yang tetiba ramah, mungkin seneng kali ya, kaya' kita aja kalo ada turis bisa Bahasa Indonesia kan jadi antusias :D


Next: Trip to Beijing-Shanghai - Day 2

Saturday, April 05, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - The Preparation

Bismillah…
I’m back! Akhirnya menyempatkan waktu untuk share trip saya 1,5 bulan yang lalu ke salah satu tempat impian saya: Zhongguo! =)

Tulisan ini akan dibagi beberapa part dan mudah-mudahan saya konsisten menulisnya. Amin.
Didasari kesukaan saya pada hal-hal berbau oriental, saya akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Negeri Tirai Bambu. Alhamdulillah! Ini termasuk mimpi dan resolusi saya dari tahun ke tahun yang akhirnya baru kesampean tahun ini.Hehehe. 
Tersebutlah teman saya, panggil saja Dewi, yang juga sama-sama pribumi dan memiliki kesukaan yang sama dengan saya, kami kenal beberapa tahun lalu waktu jaman kuliah dan kenalnya darimana coba? Karena kita sesama pendengar radio mandarin di Bandung waktu itu dan dia add saya di friendster (sound like a long time ago hahaha). Jadi ini mimpi kami berdua, sesama pribumi yang nggak ada tampang orientalnya sama sekali dan ga ada putihnya sama sekali, yang mulai “diseriusi” untuk melanglang buana ke Negeri Tirai Bambu mulai tahun lalu. Mulailah kami pikir-pikir mau jalan sendiri atau pake tour, planning kami waktu itu “oke, kita ke zhongguo di bulan agustus aja pake tour” dengan pertimbangan pas musim fall Zhongguo lagi bagus-bagus nya. Pake tour karena takut hilang di negeri orang. Iya sih, kami bisa zhongwen dikit-dikit tapi tetep aja kalo berduaan kesana itu terlalu nekat, pikir kami.
Trip partner

Sampai beberapa bulan kemudian, Dewi dengan antusiasnya bilang ke saya “Yus, ke zhongguo bareng Yovie yuk. Pas libur sincia dia ke Indo, pas dia balik zhongguo kita bareng aja.” Jrengggg.. *jujur langsung ikut antusias tapi deg-degan juga* Gimana engga, tadinya mau bulan agustus pake tur, ini tiba-tiba mau ikut salah satu teman kami (yang juga dulunya pendengar radio mandarin dan sedang kuliah di zhongguo sekarang) dan pergi bulan februari! Dengan banyak pertimbangan bin galau-galau, singkat cerita kami memutuskan, yes.. ayo kita niatin pergi ke zhongguo tanpa tur bulan februari. Mulailah kami ambil langkah yang “tidak terlalu berisiko”, ikut beli tiket ke zhongguo bareng Yovie, yah sesial-sialnya kalo nggak jadi berangkat korban harga tiket itu. Tapi kata orang kalo kebanyakan mikir juga gak bakal jadi, so memang harus diawali dengan satu langkah konkrit yang nanti akan mendorong ke langkah-langkah berikutnya, akhirnya kami beli lah tiket tersebut : Air Asia JKT-Beijing 16 Februari. Walau terdengar agak norak tapi saat itu kami benar-benar deg2an nggak percaya sudah berani ambil langkah itu *yaa,,secara kami bukan orang kaya yang beberapa kali ke luar negeri juga, perjalanan keluar negeri saya cuma 2x doang seumur-umur, terakhir saya keluar negeri juga ke Singapore doang dan dibayarin orang =P. Lambat laun dengan segala perjuangan, tantangan dan bahkan udah pasrah nyaris batal ke zhongguo *halah* akhirnya kami berhasil mewujudkan rencana kami.
Karena kami nggak ikut tour, kami pun sudah merencanakan berbagai planning, misalnya:
  • Tujuan kami ke Beijing dan Shanghai dalam seminggu, tapi teman saya yang kuliah disana itu nggak bisa menemani di Shanghai, jadi dengan nekat juga saya dan Dewi memutuskan “gapapa deh” nanti pulang dari Shanghai ke Jakarta nya berdua aja.
  • Kami kontak teman saya (yang lain) di zhongguo, mengabari kami akan kesana dan apakah ada yang bisa menemani kami selama disana, terutama di Shanghai. Dan oke, sampai dengan beberapa hari sebelum keberangkatan akhirnya kami mendapat kepastian akan ada yang bisa jadi guide kami di Beijing dan Shanghai.
  • Eh kebetulan banget *rahasia Allah* pas saya minta ijin cuti ke bos saya, bos saya bilang ke saya untuk kasih tau ke cabang kantor kami di shanghai. Awalnya saya beralasan ini kan trip pribadi, nggak enak kan nanti kesannya malah memanfaatkan atau apa, dan saya nggak kenal juga dengan orang-orang disana, tapi okelah saya nurut akhirnya.

Dengan segala persiapan matang itu akhirnya berangkatlah kami ke Zhongguo! Transit di Kuala lumpur kurang lebih 3 jam dan dari Kuala Lumpur ke Beijing itulah kita mulai “berada di dunia lain”. Udah banyak yang ngomong zhongwen mulai di bandara dan di pesawat. Lucunya, karena Yovie berwajah sangat oriental banyak orang mengira dia orang zhongguo tulen, padahal dia Chinese Indonesian. Jadilah pas kita bertiga ngobrol dalam bahasa Indonesia, beberapa orang ngeliatin kami, terutama Yovie.

Dari Indonesia kami nggak menukarkan terlalu banyak ringgit, cuma nuker sekitar 50 ringgit buat makan di bandara dan di pesawat ke Beijing, secara nanti sampai Beijing dini hari jam 1 pagi. *nasib low cost flight* hahaha
Fried Mie Mamak @ LCCT Kuala Lumpur

Nasi Rendang ala Air Asia

Sunday, April 13, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - Day 1


Akhirnya kami menjejakkan kaki juga di Zhongguo! Ya, kami sampai di Beijing Capital International Airport jam 1 dini hari. Setelah melewati imigrasi dan ambil bagasi kami menunggu di ruang tunggu bandara, setelah sebelumnya ke mampir ke KFC beli dou jiang (susu kedelai).
@ Beijing Capital International Airport
Planning awal kami menunggu jam subway beroperasi sekitar jam 6, namun di tengah menunggu akhirnya galau. Dengan pertimbangan bawaan rempong dan pertama kali, Yovie usul supaya kita naik taksi aja ke hostel. Akhirnya kami pun memutuskan keluar bandara cari taksi, dan BRRRRR sumpah itu dingin BGT! *Ya secara ini pertama kalinya dalam hidup ngerasain suhu minus ya. Efeknya juga udah kaya di film, napas nya keluar embun putih. Hehehe.
Nunggu pagi di ruang makan hostel
Akhirnya kami dapat taksi dan langsung minta diantar ke Beijing Saga Youth Hostel di Shijia Hutong. FYI, kami sudah book jauh-jauh hari di booking.com. Pertimbangan kami pilih hostel itu selain review nya bagus, juga waktu check in nya cukup pagi. Sebenernya kami agak gambling juga memutuskan datang jam segitu, tapi kami pikir yang penting sampe hostel dulu deh, mudah-mudahan dibukain pintu. Di dalam taksi tentu saja Yovie yang jadi jubir kami..hahaha~ Kami sedikit-sedikit ngerti bagian dia cerita kalau ini pertama kali nya kami ke Zhongguo, lalu si supir taksi bilang Beijing ini gede banget, yang biasa dikunjungi wisatawan pasti Gugong (forbidden city), great wall, tiantan. Kata Yovie, sang supir juga bilang tadinya nggak mau mengangkut kami begitu lihat saya dan Dewi karena dia nggak bisa bahasa inggris, tapi begitu liat ada Yovie yang mukanya udah nyaru kaya orang zhongguo dia oke deh.

Walaupun Hostel tapi kamarnya bersih

Akhirnya kami tiba di hostel sekitar pukul 2 dini hari, untungnya kami dibukain pintu, dan akhirnya karena belum waktu nya check in, kami dikasih tebengan di ruang makan untuk menunggu pagi. Lumayan buat tidur dulu walopun di kursi. Jam 6 an kami baru check in dan ke kamar. Karena tepar, kami sempat tidur dulu sejam sebelum akhirnya janjian dengan teman yang juga akan menemani kami di Beijing.
Kami berkenalan dengan teman-beijing kami, namanya Hu Qiu Shi dan Yuna. Yuna lumayan bisa bahasa inggris katanya. Tujuan kami hari itu sebenarnya mau ke zoo liat panda dan jalan jalan sekitar Forbidden City, wangfujing, Tiananmen. Kami benar ke zoo, namun karena ternyata forbidde city hari itu tutup (entah karena ada event apa gitu waktu itu), kami mengalihkan ke Tiantan, dan tentunya tetap Wangfujing yang hits itu.
papan rute subway

Stasiun subway dekat hostel - Dengshikou St
petunjuk jalan di Beijing

Di Beijing zoo akhirnya kami lihat secara langsung Panda! Sayang tetap dikandangin jadi liatnya di balik kaca. Dari Beijing Zoo, kami ke Tiantan (Temple of Heaven). Disini banyak lansia yang sekedar duduk main mahjong, atau taici, atau kumpul-kumpul aja sesame mereka. So sweet deh liatnya. Tiantan itu konon tempat sembahyang para keluarga kaisar. Bentuk nya sendiri bulat dan ada filosofinya.


lansia yang kumpul di Tiantan
New Friend =)

Ada spot menarik di Tiantan ini:
1.       Tembok gaung (entah dinamain apa), tapi yang jelas tembok nya itu berbentuk kurang lebih setengah lingkaran. Konon katanya kalau kita teriak di satu sisi, orang yang ada di sisi seberang bisa dengar lewat tembok tersebut. Kami nyoba sih, tapi gak terlalu berhasil :p
 2.  

Ada batu yang konon katanya itu center , kalau kita ngomong dengan suara biasa disitu akan kedengeran lebih besar suaranya (seperti teriak). Dan orang-orang juga percaya kalo berharap disitu bisa jadi beneran, Yovie pernah berharap balik lagi ke Tiantan, dan bener dia balik lagi..Hahahah






Selanjutnya kami ke Wangfujing. Ini tempat lebih tepatnya jalan yang panjang begitu loh, nggak sebesar jalan biasa tapi juga nggak se-sempit gang. Yang paling terkenal disini adalah night market yang jual berbagai makanan/sate ekstrem, misalnya sate kalajengking, bintang laut, sampe yang paling yuckkkk banget adalah sate lava -.-“ Saya dan dewi sendiri
Sate binatang ekstrem di Wangfujing
 coba sate kambing khas zhongguo yang enak bangettt, nyoba sate cumi juga. kami dibeliin bing tang hulu juga ,persis kaya di film-film china klasik. Kami juga cicil cari-cari oleh-oleh. Satu hal yang harus selalu dilakukan selama belanja disini: Nawar! Kalo bisa pake zhongwen tapi kalo nggak juga gpp, mereka biasanya tawar menawar pake kalkulator. Karena penjual disini tega banget kalo kasih harga..

Pintu Masuk Wangfujing



Lucunya juga waktu kami naik subway ataupun bis kota, orang zhongguo pada kepo banget liat kami. Sempat ada yang liatin saya dan Dewi selama beberapa detik sengaja saya biarin aja sebelum akhirnya saya nengok tiba-tiba dan dia langsung mengalihkan muka. Berasa lucu aja diliatin penasaran gitu dan ketika kami ngomong Indonesia mereka ngeliatin. Berasa bule kalo di Indonesia.
Pengalaman menarik lainnya waktu kami lagi nungguin Yuna dan Qiu Shi ke toilet, ada seorang penjual topi menghampiri Yovie, saya dan Dewi. Dia nawarin topi ke kami, kami tolak secara halus pake bahasa Mandarin. Si Bapak tersebut tampak takjub lihat kami *terutama saya dan Dewi yang bermuka sangat non oriental* dan komen kalo zhongwen kami bagus *geer dikit..haha*, terus dia nebak kami ini pelajar. Kami jawab "bukan, kami turis". Dia  sambil senyum masih bilang "wah.. zhongwen kalian bagus.." dan sesaat jadi amaze juga sama reaksi nya yang tetiba ramah, mungkin seneng kali ya, kaya' kita aja kalo ada turis bisa Bahasa Indonesia kan jadi antusias :D


Next: Trip to Beijing-Shanghai - Day 2

Saturday, April 05, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - The Preparation

Bismillah…
I’m back! Akhirnya menyempatkan waktu untuk share trip saya 1,5 bulan yang lalu ke salah satu tempat impian saya: Zhongguo! =)

Tulisan ini akan dibagi beberapa part dan mudah-mudahan saya konsisten menulisnya. Amin.
Didasari kesukaan saya pada hal-hal berbau oriental, saya akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Negeri Tirai Bambu. Alhamdulillah! Ini termasuk mimpi dan resolusi saya dari tahun ke tahun yang akhirnya baru kesampean tahun ini.Hehehe. 
Tersebutlah teman saya, panggil saja Dewi, yang juga sama-sama pribumi dan memiliki kesukaan yang sama dengan saya, kami kenal beberapa tahun lalu waktu jaman kuliah dan kenalnya darimana coba? Karena kita sesama pendengar radio mandarin di Bandung waktu itu dan dia add saya di friendster (sound like a long time ago hahaha). Jadi ini mimpi kami berdua, sesama pribumi yang nggak ada tampang orientalnya sama sekali dan ga ada putihnya sama sekali, yang mulai “diseriusi” untuk melanglang buana ke Negeri Tirai Bambu mulai tahun lalu. Mulailah kami pikir-pikir mau jalan sendiri atau pake tour, planning kami waktu itu “oke, kita ke zhongguo di bulan agustus aja pake tour” dengan pertimbangan pas musim fall Zhongguo lagi bagus-bagus nya. Pake tour karena takut hilang di negeri orang. Iya sih, kami bisa zhongwen dikit-dikit tapi tetep aja kalo berduaan kesana itu terlalu nekat, pikir kami.
Trip partner

Sampai beberapa bulan kemudian, Dewi dengan antusiasnya bilang ke saya “Yus, ke zhongguo bareng Yovie yuk. Pas libur sincia dia ke Indo, pas dia balik zhongguo kita bareng aja.” Jrengggg.. *jujur langsung ikut antusias tapi deg-degan juga* Gimana engga, tadinya mau bulan agustus pake tur, ini tiba-tiba mau ikut salah satu teman kami (yang juga dulunya pendengar radio mandarin dan sedang kuliah di zhongguo sekarang) dan pergi bulan februari! Dengan banyak pertimbangan bin galau-galau, singkat cerita kami memutuskan, yes.. ayo kita niatin pergi ke zhongguo tanpa tur bulan februari. Mulailah kami ambil langkah yang “tidak terlalu berisiko”, ikut beli tiket ke zhongguo bareng Yovie, yah sesial-sialnya kalo nggak jadi berangkat korban harga tiket itu. Tapi kata orang kalo kebanyakan mikir juga gak bakal jadi, so memang harus diawali dengan satu langkah konkrit yang nanti akan mendorong ke langkah-langkah berikutnya, akhirnya kami beli lah tiket tersebut : Air Asia JKT-Beijing 16 Februari. Walau terdengar agak norak tapi saat itu kami benar-benar deg2an nggak percaya sudah berani ambil langkah itu *yaa,,secara kami bukan orang kaya yang beberapa kali ke luar negeri juga, perjalanan keluar negeri saya cuma 2x doang seumur-umur, terakhir saya keluar negeri juga ke Singapore doang dan dibayarin orang =P. Lambat laun dengan segala perjuangan, tantangan dan bahkan udah pasrah nyaris batal ke zhongguo *halah* akhirnya kami berhasil mewujudkan rencana kami.
Karena kami nggak ikut tour, kami pun sudah merencanakan berbagai planning, misalnya:
  • Tujuan kami ke Beijing dan Shanghai dalam seminggu, tapi teman saya yang kuliah disana itu nggak bisa menemani di Shanghai, jadi dengan nekat juga saya dan Dewi memutuskan “gapapa deh” nanti pulang dari Shanghai ke Jakarta nya berdua aja.
  • Kami kontak teman saya (yang lain) di zhongguo, mengabari kami akan kesana dan apakah ada yang bisa menemani kami selama disana, terutama di Shanghai. Dan oke, sampai dengan beberapa hari sebelum keberangkatan akhirnya kami mendapat kepastian akan ada yang bisa jadi guide kami di Beijing dan Shanghai.
  • Eh kebetulan banget *rahasia Allah* pas saya minta ijin cuti ke bos saya, bos saya bilang ke saya untuk kasih tau ke cabang kantor kami di shanghai. Awalnya saya beralasan ini kan trip pribadi, nggak enak kan nanti kesannya malah memanfaatkan atau apa, dan saya nggak kenal juga dengan orang-orang disana, tapi okelah saya nurut akhirnya.

Dengan segala persiapan matang itu akhirnya berangkatlah kami ke Zhongguo! Transit di Kuala lumpur kurang lebih 3 jam dan dari Kuala Lumpur ke Beijing itulah kita mulai “berada di dunia lain”. Udah banyak yang ngomong zhongwen mulai di bandara dan di pesawat. Lucunya, karena Yovie berwajah sangat oriental banyak orang mengira dia orang zhongguo tulen, padahal dia Chinese Indonesian. Jadilah pas kita bertiga ngobrol dalam bahasa Indonesia, beberapa orang ngeliatin kami, terutama Yovie.

Dari Indonesia kami nggak menukarkan terlalu banyak ringgit, cuma nuker sekitar 50 ringgit buat makan di bandara dan di pesawat ke Beijing, secara nanti sampai Beijing dini hari jam 1 pagi. *nasib low cost flight* hahaha
Fried Mie Mamak @ LCCT Kuala Lumpur

Nasi Rendang ala Air Asia

 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates