Saturday, April 05, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - The Preparation

Bismillah…
I’m back! Akhirnya menyempatkan waktu untuk share trip saya 1,5 bulan yang lalu ke salah satu tempat impian saya: Zhongguo! =)

Tulisan ini akan dibagi beberapa part dan mudah-mudahan saya konsisten menulisnya. Amin.
Didasari kesukaan saya pada hal-hal berbau oriental, saya akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Negeri Tirai Bambu. Alhamdulillah! Ini termasuk mimpi dan resolusi saya dari tahun ke tahun yang akhirnya baru kesampean tahun ini.Hehehe. 
Tersebutlah teman saya, panggil saja Dewi, yang juga sama-sama pribumi dan memiliki kesukaan yang sama dengan saya, kami kenal beberapa tahun lalu waktu jaman kuliah dan kenalnya darimana coba? Karena kita sesama pendengar radio mandarin di Bandung waktu itu dan dia add saya di friendster (sound like a long time ago hahaha). Jadi ini mimpi kami berdua, sesama pribumi yang nggak ada tampang orientalnya sama sekali dan ga ada putihnya sama sekali, yang mulai “diseriusi” untuk melanglang buana ke Negeri Tirai Bambu mulai tahun lalu. Mulailah kami pikir-pikir mau jalan sendiri atau pake tour, planning kami waktu itu “oke, kita ke zhongguo di bulan agustus aja pake tour” dengan pertimbangan pas musim fall Zhongguo lagi bagus-bagus nya. Pake tour karena takut hilang di negeri orang. Iya sih, kami bisa zhongwen dikit-dikit tapi tetep aja kalo berduaan kesana itu terlalu nekat, pikir kami.
Trip partner

Sampai beberapa bulan kemudian, Dewi dengan antusiasnya bilang ke saya “Yus, ke zhongguo bareng Yovie yuk. Pas libur sincia dia ke Indo, pas dia balik zhongguo kita bareng aja.” Jrengggg.. *jujur langsung ikut antusias tapi deg-degan juga* Gimana engga, tadinya mau bulan agustus pake tur, ini tiba-tiba mau ikut salah satu teman kami (yang juga dulunya pendengar radio mandarin dan sedang kuliah di zhongguo sekarang) dan pergi bulan februari! Dengan banyak pertimbangan bin galau-galau, singkat cerita kami memutuskan, yes.. ayo kita niatin pergi ke zhongguo tanpa tur bulan februari. Mulailah kami ambil langkah yang “tidak terlalu berisiko”, ikut beli tiket ke zhongguo bareng Yovie, yah sesial-sialnya kalo nggak jadi berangkat korban harga tiket itu. Tapi kata orang kalo kebanyakan mikir juga gak bakal jadi, so memang harus diawali dengan satu langkah konkrit yang nanti akan mendorong ke langkah-langkah berikutnya, akhirnya kami beli lah tiket tersebut : Air Asia JKT-Beijing 16 Februari. Walau terdengar agak norak tapi saat itu kami benar-benar deg2an nggak percaya sudah berani ambil langkah itu *yaa,,secara kami bukan orang kaya yang beberapa kali ke luar negeri juga, perjalanan keluar negeri saya cuma 2x doang seumur-umur, terakhir saya keluar negeri juga ke Singapore doang dan dibayarin orang =P. Lambat laun dengan segala perjuangan, tantangan dan bahkan udah pasrah nyaris batal ke zhongguo *halah* akhirnya kami berhasil mewujudkan rencana kami.
Karena kami nggak ikut tour, kami pun sudah merencanakan berbagai planning, misalnya:
  • Tujuan kami ke Beijing dan Shanghai dalam seminggu, tapi teman saya yang kuliah disana itu nggak bisa menemani di Shanghai, jadi dengan nekat juga saya dan Dewi memutuskan “gapapa deh” nanti pulang dari Shanghai ke Jakarta nya berdua aja.
  • Kami kontak teman saya (yang lain) di zhongguo, mengabari kami akan kesana dan apakah ada yang bisa menemani kami selama disana, terutama di Shanghai. Dan oke, sampai dengan beberapa hari sebelum keberangkatan akhirnya kami mendapat kepastian akan ada yang bisa jadi guide kami di Beijing dan Shanghai.
  • Eh kebetulan banget *rahasia Allah* pas saya minta ijin cuti ke bos saya, bos saya bilang ke saya untuk kasih tau ke cabang kantor kami di shanghai. Awalnya saya beralasan ini kan trip pribadi, nggak enak kan nanti kesannya malah memanfaatkan atau apa, dan saya nggak kenal juga dengan orang-orang disana, tapi okelah saya nurut akhirnya.

Dengan segala persiapan matang itu akhirnya berangkatlah kami ke Zhongguo! Transit di Kuala lumpur kurang lebih 3 jam dan dari Kuala Lumpur ke Beijing itulah kita mulai “berada di dunia lain”. Udah banyak yang ngomong zhongwen mulai di bandara dan di pesawat. Lucunya, karena Yovie berwajah sangat oriental banyak orang mengira dia orang zhongguo tulen, padahal dia Chinese Indonesian. Jadilah pas kita bertiga ngobrol dalam bahasa Indonesia, beberapa orang ngeliatin kami, terutama Yovie.

Dari Indonesia kami nggak menukarkan terlalu banyak ringgit, cuma nuker sekitar 50 ringgit buat makan di bandara dan di pesawat ke Beijing, secara nanti sampai Beijing dini hari jam 1 pagi. *nasib low cost flight* hahaha
Fried Mie Mamak @ LCCT Kuala Lumpur

Nasi Rendang ala Air Asia

2 comments:

Unknown said...

oh Tian na... finaly dream come true... :)

Anonymous said...

Hiiiks ogud sebagai oknum yang mendorong supaya mau ke zhongguo dari awalnya kaka yusi ragu2, kaga ditulis :'(

Hahahaha :p

Martinus

Saturday, April 05, 2014

Trip to Beijing-Shanghai - The Preparation

Bismillah…
I’m back! Akhirnya menyempatkan waktu untuk share trip saya 1,5 bulan yang lalu ke salah satu tempat impian saya: Zhongguo! =)

Tulisan ini akan dibagi beberapa part dan mudah-mudahan saya konsisten menulisnya. Amin.
Didasari kesukaan saya pada hal-hal berbau oriental, saya akhirnya berhasil menjejakkan kaki di Negeri Tirai Bambu. Alhamdulillah! Ini termasuk mimpi dan resolusi saya dari tahun ke tahun yang akhirnya baru kesampean tahun ini.Hehehe. 
Tersebutlah teman saya, panggil saja Dewi, yang juga sama-sama pribumi dan memiliki kesukaan yang sama dengan saya, kami kenal beberapa tahun lalu waktu jaman kuliah dan kenalnya darimana coba? Karena kita sesama pendengar radio mandarin di Bandung waktu itu dan dia add saya di friendster (sound like a long time ago hahaha). Jadi ini mimpi kami berdua, sesama pribumi yang nggak ada tampang orientalnya sama sekali dan ga ada putihnya sama sekali, yang mulai “diseriusi” untuk melanglang buana ke Negeri Tirai Bambu mulai tahun lalu. Mulailah kami pikir-pikir mau jalan sendiri atau pake tour, planning kami waktu itu “oke, kita ke zhongguo di bulan agustus aja pake tour” dengan pertimbangan pas musim fall Zhongguo lagi bagus-bagus nya. Pake tour karena takut hilang di negeri orang. Iya sih, kami bisa zhongwen dikit-dikit tapi tetep aja kalo berduaan kesana itu terlalu nekat, pikir kami.
Trip partner

Sampai beberapa bulan kemudian, Dewi dengan antusiasnya bilang ke saya “Yus, ke zhongguo bareng Yovie yuk. Pas libur sincia dia ke Indo, pas dia balik zhongguo kita bareng aja.” Jrengggg.. *jujur langsung ikut antusias tapi deg-degan juga* Gimana engga, tadinya mau bulan agustus pake tur, ini tiba-tiba mau ikut salah satu teman kami (yang juga dulunya pendengar radio mandarin dan sedang kuliah di zhongguo sekarang) dan pergi bulan februari! Dengan banyak pertimbangan bin galau-galau, singkat cerita kami memutuskan, yes.. ayo kita niatin pergi ke zhongguo tanpa tur bulan februari. Mulailah kami ambil langkah yang “tidak terlalu berisiko”, ikut beli tiket ke zhongguo bareng Yovie, yah sesial-sialnya kalo nggak jadi berangkat korban harga tiket itu. Tapi kata orang kalo kebanyakan mikir juga gak bakal jadi, so memang harus diawali dengan satu langkah konkrit yang nanti akan mendorong ke langkah-langkah berikutnya, akhirnya kami beli lah tiket tersebut : Air Asia JKT-Beijing 16 Februari. Walau terdengar agak norak tapi saat itu kami benar-benar deg2an nggak percaya sudah berani ambil langkah itu *yaa,,secara kami bukan orang kaya yang beberapa kali ke luar negeri juga, perjalanan keluar negeri saya cuma 2x doang seumur-umur, terakhir saya keluar negeri juga ke Singapore doang dan dibayarin orang =P. Lambat laun dengan segala perjuangan, tantangan dan bahkan udah pasrah nyaris batal ke zhongguo *halah* akhirnya kami berhasil mewujudkan rencana kami.
Karena kami nggak ikut tour, kami pun sudah merencanakan berbagai planning, misalnya:
  • Tujuan kami ke Beijing dan Shanghai dalam seminggu, tapi teman saya yang kuliah disana itu nggak bisa menemani di Shanghai, jadi dengan nekat juga saya dan Dewi memutuskan “gapapa deh” nanti pulang dari Shanghai ke Jakarta nya berdua aja.
  • Kami kontak teman saya (yang lain) di zhongguo, mengabari kami akan kesana dan apakah ada yang bisa menemani kami selama disana, terutama di Shanghai. Dan oke, sampai dengan beberapa hari sebelum keberangkatan akhirnya kami mendapat kepastian akan ada yang bisa jadi guide kami di Beijing dan Shanghai.
  • Eh kebetulan banget *rahasia Allah* pas saya minta ijin cuti ke bos saya, bos saya bilang ke saya untuk kasih tau ke cabang kantor kami di shanghai. Awalnya saya beralasan ini kan trip pribadi, nggak enak kan nanti kesannya malah memanfaatkan atau apa, dan saya nggak kenal juga dengan orang-orang disana, tapi okelah saya nurut akhirnya.

Dengan segala persiapan matang itu akhirnya berangkatlah kami ke Zhongguo! Transit di Kuala lumpur kurang lebih 3 jam dan dari Kuala Lumpur ke Beijing itulah kita mulai “berada di dunia lain”. Udah banyak yang ngomong zhongwen mulai di bandara dan di pesawat. Lucunya, karena Yovie berwajah sangat oriental banyak orang mengira dia orang zhongguo tulen, padahal dia Chinese Indonesian. Jadilah pas kita bertiga ngobrol dalam bahasa Indonesia, beberapa orang ngeliatin kami, terutama Yovie.

Dari Indonesia kami nggak menukarkan terlalu banyak ringgit, cuma nuker sekitar 50 ringgit buat makan di bandara dan di pesawat ke Beijing, secara nanti sampai Beijing dini hari jam 1 pagi. *nasib low cost flight* hahaha
Fried Mie Mamak @ LCCT Kuala Lumpur

Nasi Rendang ala Air Asia

2 comments:

Unknown said...

oh Tian na... finaly dream come true... :)

Anonymous said...

Hiiiks ogud sebagai oknum yang mendorong supaya mau ke zhongguo dari awalnya kaka yusi ragu2, kaga ditulis :'(

Hahahaha :p

Martinus

 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates