Sunday, December 08, 2013

Fall in Love with Jogja - Day 3 (part 2)

Melanjutkan posting sebelumnya, setelah kemarin nyobain Kalimilk dan Bakmi Kadin, kali ini kami makan di tempat yang namanya “Rumah Pohon”. Alhamdulillah ditraktir beginian,hahaha~.
Rumah Pohon
Tempatnya cukup unik karena desainnya dari bamboo yang dibikin bertingkat-tingkat. Jadi kalo mau makan disini pastikan tidak memakai baju atau sandal yang ribet karena bakal naik-naik tangga, dan tidak disarankan membawa orang yang sudah cukup sepuh kesini. Di tingkat paling atas tempat makan ini adalah “Gardu Pandang” yang katanya bisa melihat pemandangan kota Jogja dan Merapi. Sayang waktu kesana lagi agak berkabut jadi Merapinya nggak kelihatan. Disini juga ada tempat meditasi, kata saudara saya kalau tempat meditasi nya itu lagi dipake orang, akses ke Gardu Pandang ditutup. Dari segi makanan, Rumah Pohon ini lumayan, saya coba makan Nasi Gendheng sama icip-icip lauk lainnya. Yaa.. biasa sih, cukup enak.
Sehabis makan siang, tadinya kami mau diajak ke taman buah *tapi nggak jadi karena konon katanya belum berbuah*, jadilah kami melanjutkan agenda kami dan agak disesuaikan. Setelah mampir dulu ke Mirota, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Pintar. Tadinya sih mau masuk tapi ternyata nggak keburu, jadilah kita foto-foto saja. Spot yang menarik adalah adanya cap tangan dan kaki dari Presiden RI, plus ada quote masing-masing. Dari enam quote, satu yang paling saya suka adalah dari Alm.Gus Dur: “Jadilah dirimu sendiri.”  Singkat, padat, nggak ada kalimat berbunga-bunga dengan bahasa dewa tapi bermakna . :D
Selain itu disini ada Gong perdamaian dunia, tertulis katanya disitu tertanam tanah dari 33 Propinsi. Filosofinya supaya Indonesia rukun selalu ya.. kaya slogan Bhinneka Tunggal Ika.

Menjelang malam kami akhirnya mampir ke Raminten yang sebelumnya batal kami kunjungi. Ternyata masih antri juga walaupun antriannya lebih manusiawi dibanding hari sebelumnya kami kesana. Disana kami memesan Nasi Kucing dan tambahan lauk *jauh-jauh mesennya Nasi Kucing, gapapa lah yaa*

Selanjutnya kami nyobain Armani Gelato – yang kata Muti satu-satunya gelato di Jogja-
Setelah menghabiskan waktu yang singkat di Jogja, keesokan harinya harus kembali menghadapi kesibukan ibu kota. Kali ini saya nyobain flight nya Batik Air. Cukup enak kaya Garuda, Cuma satu sayangnya: headset nya mesti beli. Agak lucu sih, disediain layar hiburan tapi headsetnya suruh beli =P.


Dengan ini selesailah postingan saya edisi Jogja kali ini. Lain kali tentu saya masih mau explore Jogja lagi dan daerah Indonesia lainnya :)

Fall in Love with Jogja – Day 3

Hari ketiga di Jogja saya dan Muti berencana keliling sekitaran Keraton aja, yaa yang masih bisa terjangkau dengan Trans Jogja. Dimulai di pagi hari yang sebenernya masih belum bisa sepenuhnya move on dari nonton Ramayana semalem :p , dengan agak malas kita siap-siap dan singkat kata jam 8 kita sudah siap untuk sarapan lalu mulai jalan lagi.

Begitu keluar Hotel, seperti sudah bisa ditebak ada tukang becak nyamperin kami. Ohya, ada perihal tukang becak yang perlu diwaspadai (halah bahasanya). Jauh-jauh hari memang sudah diwanti-wanti “kalo naik becak di Jogja dan ditawarin kemana-mana bilang aja enggak, karena nanti biasanya diajak ke toko langganannya dia”. Ya, kalo memang pas kita mau beli oleh-oleh dan belum ada preferensi sih nggak apa apa ya, tapi kalo kita udah punya preferensi sendiri terus dipaksa-paksa ikut pilihan dia kan menyebalkan.
Suasana Jogja yang bikin jatuh hati
Oke, lanjut. Begitu kami disamperin tukang becak, terjadilah tawar menawar ongkos ke Keraton. Sang tukang becak menawarkan jasa bentor (becak motor) seharga Rp.50.000 untuk Malioboro-Keraton-Tamansari-Malioboro (jadi bentornya nungguin kita). Muti bisik-bisik ke saya bilang, “emang harganya segituan sih. Tadi udah browsing” Ahaha~. Nah, persis seperti yang tadi saya katakan, sang tukang becak mulai proaktif menawarkan “Kalo sekalian mau beli oleh-oleh mbak, kaos, bla bla.” Dengan halus kami menolak dan bilang bahwa kami buru-buru (emang nggak bohong juga sih karena jam setengah dua belas rencana nya mau diajak makan sama om saya yang baru saya sambangi hari kemarin.hehehe)
Tiket Masuk

Gerbang menuju kompleks Keraton
Pintu Masuk



Bangsal Kencana

Akhirnya sampailah kami di keraton yang lewat pintu samping. Dengan tiket + ijin bawa kamera seharga Rp.6.000,- kami pun masuk keraton. Untung kami sampai disitu belum terlalu siang jadi masih nggak terlalu ramai. Begitu masuk pintu keraton, ada satu bangsal gedeee banget dan ada peringatan wisatawan nggak boleh naik/masuk kesitu. Ternyata itu Bangsal Kencana yang biasa dipakai untuk acara-acara penting. Katanya acara pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro kemarin juga memakai bangsal ini. Ohiya waktu kami masuk pandangan saya menangkap siluet seorang abdi dalem yang sedang duduk bersila di pekarangan yang beralaskan pasir itu, seperti sedang melakukan ritual doa. Agak kepo mau foto tapi rasanya nggak sopan ya. Dan untung aja belum ambil foto, karena nggak lama saya jug abaca tulisan dilarang ambil foto dengan latar abdi dalem yang sedang berdoa.
Meja Kerja HB IX
 Berhubung di keraton saya dan Muti jalan sendiri (nggak ada guide), jadi agak menebak-nebak juga sih spot yang bisa diceritakan. Tapi ada satu spot yang ternyata itu museum barang-barang Sultan Hamengkubuwono IX. Dari mulai baju, perlengkapan Beliau, kursi, meja kerja,sampai kamera dan peralatan masak masih disimpan disini. HB IX menjabat di periode Kemerdekaan Indonesia. Kiprah Beliau sangat banyak dan Beliau dikenal sangat aktif. Beliau juga dikenal senang olahraga, sampai ada timbangan Beliau yang disimpan di museum ini.


Salah satu Peralatan Jamuan Makan
Bumbu&Peralatan Masak HB IX

Ohya yang menarik juga, banyak koleksi peralatan makan yang dipakai raja-raja ataupun pangeran untuk menjamu tamunya. Tiap Raja/Pangeran punya koleksinya sendiri. Pun dengan tulisan yang sempat saya baca di salah satu sudut bangunan, bertuliskan Hamengkubuwono VIII. Kayaknya tiap karya/peninggalan Sultan itu di”tandai” begitu ya.

Ada satu pahatan tulisan Sultan HB IX yang saya suka, bunyinya begini “Al Heb Ik Een Uitgesproken Westerse Opvoeding Gehad, Toch Ben En Blijf Ik In De Allereerste Plaats Javaan” (Walaupun Saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah Orang Jawa). Jadi nggak seperti kacang lupa kulitnya gitu :D

Setelah dari Keraton kami yang mengejar waktu memutuskan untuk ke Tamansari. Tamansari itu konon tempat pemandian Putri Keraton jaman dahulu dan tempat rekreasinya Keluarga Sultan 
. Kami menghampiri bentor yang kami naiki tadi. Sepintas kami mendengar si bapak bentor ngobrol dengan teman sesama penarik bentor. Mungkin maksudnya bercanda ya (atau entah karena mereka menganggap kami nggak ngerti bahasa jawa), dibilang nya kami bintitan mau ke tempat pemandian, padahal di rumah juga ada tempat pemandian. Agak kesal tapi yasudahlah, kami naik ke bentor. Ternyata ke-kekeuh-an Bapak Bentor masih berlanjut. Di tengah jalan kami merasakan laju bentor yang mulai melambat dan sedikit berhenti. Saya baru aja nanya Muti “emang ini udah sampe ya?” pas Bapak Bentor bilang “Kalau mau sekalian liat-liat cari oleh-oleh” dan baru sadar di sekitar tempat kami berhenti memang berjejer toko oleh-oleh. *Duh!* Dengan sabar dan nggak kalah kekeuh kami bilang enggak, kami lagi ngejar waktu ada janji. Oke, abis itu bentor jalan lagi.
Sampai di Tamansari kami sempat galau mau ikut guide apa enggak, karena katanya bagusnya kalau di Tamansari pake guide, mengingat tempatnya yang berliku dan beririsan dengan perumahan penduduk. Semacam banyak jalan tikus gitu kayanya. Tapi karena waktu mepet jadinya kami masuk sendiri (setelah tadinya berniat ngintilin salah satu rombongan tur dan ternyata rombongan itu udah mau pulang).
Di Tamansari nggak banyak spot yang kami datangi, tapi yang cukup menarik adalah sebuah bilik yang katanya itu merupakan tempat ganti baju/kamar. Pintunya yang kecil membuat kita harus menundukkan kepala kalo mau masuk. Ternyata ini memang disengaja. Katanya filosofinya adalah kita harus sopan santun (menunduk), yang sampai sekarang masih nyata prakteknya misalnya kita lewat didepan orang yang lebih tua, pasti kita bilang “permisi” nya sambil agak merunduk gitu kan.Hehe


perlu merunduk untuk keluar
Setelah dari Tamansari, kami bersiap pulang ke hotel karena janjian makan siang dengan Saudara saya. Agak susah juga lho cari jalan keluarnya (pantes perlu pake guide ya), tapi kami berpedoman nanya penduduk situ aja *gak mau rugi*. Pas kami sampai di tempat bapak bentor yang sudah menunggu, ke-kekeuh-an si Bapak bentor mulai lagi. Sebelum kami sempat naik ke atas becak, si Bapak mohon maaf sebelumnya lantas berkata bahwa dia baru saja ditelpon oleh salah satu tempat (merk) terkenal di Jogja, katanya disuruh ambil zakat yang belum diambil. Jadi si Bapak minta izin untuk mampir kesana untuk ambil zakat,dan *again* dia bilang “Kalau mau sekalian liat-liat cari oleh-oleh”. Okesip. Bukannya nggak punya hati nurani, bukannya bermaksud nggak berbagi rezeki. Kita juga tau lah niatnya baik juga, cari rezeki halal, sekali – dua kali okelah, tapi kalo kesannya jadi maksa banget kan bikin orang nggak nyaman. Padahal kalo memang kita butuh dan tertarik pasti mau juga diajak ke tempat referensinya, tapi ini jadi menyebalkan aja gitu lho jatuhnya. Terlebih lagi kan dari awal kita bilang waktu kita mepet jadi bukannya nggak ada alasan untuk menolak. Yah sudahlah~ akhirnya kita mengiyakan dan bilang lagi bahwa kita nggak bisa lama-lama karena ada janji. Pas sampai di tempat yang dimaksud, dengan nggak kalah kekeuh kita bilang nunggu di becak aja, jadi nggak turun untuk liat-liat atau apalah itu. Sampai di hotel untungnya Saudara saya belum datang jadi bisa leha-leha sebentar di lobi. Waktu saudara saya dateng dan kita pergi makan, sepintas saya lihat si Bapak bentor sigap mau nawarin becak tapi urung karena kita bawa kendaraan. *Nah kan Pak, saya nggak bohong kan..

Next: "Fall In Love With Jogja - Day 3 (part 2)"

Tuesday, November 26, 2013

Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 2)

Melanjutkan posting sebelumnya, kali ini masih di hari kedua tapi spesifik tentang Ramayana. Salah satu tujuan yang udah terpatri di benak saya waktu ke Jogja adalah : Harus Nonton Ramayana!!!
Kisah Ramayana pasti udah banyak yang tau yaa.. intinya tentang cerita Rama dan Shinta, saya mulai suka banget sama ceritanya pas beberapa bulan lalu baca versinya Tere Liye yang mengharu biru. Dan saya suka sekali kisah ini yang mengandung muatan pembelajaran tentang kepercayaan dan kesetiaan.

Turis Bule
Oke, awalnya cuma tau tari ini dipentaskan di Candi Prambanan. Tapi ternyata ada juga di Purawisata Jogjakarta. Kita sempat bingung mau di Prambanan atau Purawisata, sebenernya kalau di Candi Prambanan dapet yang outdoor dengan latar candi prambanan itu bakal oke banget, tapi sayangnya bulan-bulan segini yang rentan hujan katanya pertunjukan di Prambanan jadi indoor. Setelah dipikir-pikir ditimbang-timbang, kalo sama-sama indoor mah mending di Purawisata aja deh, lebih deket juga. Jadilah kita ke Purawisata Jogjakarta di Jl.Brigdjen Katamso. Pas sampai sana ternyata pertunjukannya bisa dibilang outdoor juga, karena “open air” begitu loh, ga ada atapnya. Menariknya, kita udah dateng dari jam 7 sementara pertunjukan mulai jam 8 malem, jadi masih sempat foto-foto dan duduk-duduk, bangku di depan ternyata udah reserved by tourist semua hahahahahha. Cool!

Turis China

Alhasil saya dan Muti milih duduk di barisan paling belakang aja, toh tetap kelihatan karena model bangkunya kaya bioskop gitu, malah bisa senderan =P.

Ki-ka : Rama, Shinta, Lesmana
Di sebelah saya ternyata seorang ibu dari Surabaya yang dateng ke Jogja bersama suaminya. Ibu itu nanya saya darimana, dan nanya “suka nonton wayang orang ya mbak?” :)) Saya bilang baru sekali itu, kebetulan suka sama Ramayana, jadi pengen nonton sendratarinya. Ternyata suami ibu itu suka wayang orang dan mereka sampe bisa membedakan mana gerakan wayang yang biasa nari atau enggak (wowww). Sepanjang nonton pun mereka suka ngebahas berdua tentang cerita atopun penarinya.

Inti cerita Ramayana adalah kisah cinta Rama dan Shinta yang diuji waktu Shinta diculik raksasa bernama Rahwana. Cerita pun berlanjut dengan perjuangan Rama menyelamatkan Shinta dibantu Hanoman. Adalah Lesmana, adik Rama, yang setia bangetttt sama kakaknya, menemani dia dan Shinta ketika mereka diasingkan di hutan, membantu Rama merebut Shinta
Shinta diculik Rahwana
 dalam perang. And I’m falling in love with this character instead of the main character (Rama). Hahaha~


Perang Rama & Rahwana
Setelah berhasil diselamatkan, Rama justru curiga dengan kesucian Shinta apakah dia bisa menjaga diri selama ditawan si Rahwana, sampai menyuruh Shinta membuktikan dengan loncat ke dalam api suci. Terbukti Shinta nggak terbakar, baru deh Rama percaya Shinta lagi. Kalau di sendratari cerita habis disitu, tapi yang versi Tere Liye masih ada lanjutannya kecurigaan Rama sampai Shinta yang melahirkan anak dari Rama diusir dan akhirnya tragis :’(

Sedikit membahas si tokoh Lesmana yang saya suka tadi, Lesmana ini dikisahkan adik bungsunya Rama dan dia setia banget sama kakaknya, bayangin aja “ngintilin” kakaknya kemana-mana walaupun kakaknya udah menikah. Terus juga digambarkan dia sosok yang baik hati dan lembut. Waktu di hutan, sebelum Shinta diculik Rahwana, Lesmana disuruh menjaga Shinta karena Rama lagi mengejar kijang untuk Shinta, dengan setia Lesmana menjaga Shinta. Waktu kijang yang dikejar Rama itu ternyata suruhan Rahwana dan teriak menirukan suara rama sampai Shinta terkecoh dan menyuruh Lesmana menyusul kakaknya, Lesmana pun awalnya enggan. Tapi Shinta yang curiga bilang Lesmana sengaja mau membiarkan kakaknya mati, biar kalau dia jadi janda lantas Lesmana bisa memperistri dia (aduh please deh Shinta… -.-) Lesmana akhirnya menuruti Shinta mencari Rama dan memberi lingkaran perlindungan untuk Shinta. Walaupun akhirnya Shinta terkecoh dan diculik Rahwana juga -.-“ Dalam membantu kakaknya perang dengan Rahwana, Lesmana berhasil memanah Indrajit, salah satu tangan kanannya Rahwana.
Lesmana
Waktu di sendratari ini, pemeran Lesmana nya juga cakep pake banget. Hahahah~ Cakepnya agak versi oriental-oriental gitu sih kayanya, nih kalo nggak percaya *kasih bukti foto*. Gimana TJAKEP KAN. =P Dibandingkan pemeran Rama, cakepan Mas Lesmana ini :D
Kata Muti konon si Lesmana ini memang kerap diperankan oleh laki-laki yang cakep, mungkin sesuai dengan karakter ceritanya juga.



Hanoman dikelilingi api
Dalam cerita juga yang mengagumkan adalah aksi Hanoman yang lolos dari api. Apinya pake api beneran loh, dan dia bener-bener atraksi guling-guling di api. Langsung mikir “wow… pemeran Hanomannya bisa debus!”
Shinta Obong
Waktu adegan Shinta obong (Shinta masuk ke api suci) kita becandaan bilang “jangan bilang si Shinta juga bisa debus.. AHahaha” ga lucu banget kalo dia bisa debus buat apa pake ada acara penyelamatan dan peperangan heboh ini.


Ki-ka: Rahwana,Rama,Shinta,Saya,Lesmana,Hanoman
Setelah nonton selama 1,5 jam, saya beruntung bisa foto bareng pemainnya.. dan posisinya di sebelah *uhuk* Lesmana dan Shinta. Hahahaha..
Overall saya sukaaaa sama cerita Ramayana ini. And I’m still willing to re-watch it next time I go to Jogja! Ternyata Muti pun berpikiran sama, masih mau nonton si Ramayana ini. I just love love love the story (and Lesmana) :))


Jam setengah sepuluh malam akhirnya kita langsung balik ke hotel dan berakhirlah ngebolang satu hari itu untuk lanjut besoknya ke Keraton.


Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 1)

Dan tibalah hari kami mau nge-bolang. Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke, jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.


Setelah dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang katanya itu jamu awet muda. Hehehe~

Secara singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha

Ada beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu, Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.

Kemudian ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.

Pakubuwono XII jaman muda
Kemudian ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya adalah BRM Suryo Guritno atau lebih dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan di internet ini.
Saya coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945, karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan” kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan, tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)

Selanjutnya Putri Tinneke yang merupakan saudara Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah  GRAj Koes Sapariyam. Di Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget (jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh.. menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang kalau itu dilakukan jaman sekarang.

Tokoh lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil dari internet yaa..
Dan beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul (gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum ada ruang khusus Putri Dambaan yang isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
Pintu Masuk Ullen Sentalu
Pintu Keluar Ullen Sentalu
Masih banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong disini. Hehehe


Dari Kalimilk tadinya kita mau ke Raminten ternyata penuh banget, apalagi malam minggu. Alhasil kita merubah haluan mampir ke Bakmi Jawa Kadin dulu sebelum siap-siap nonton Ramayana. Yeay!

Web Pendukung:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg
2. www.ullensentalu.com
3. http://fitri2boys2.blogspot.com/2013/08/museum-ullen-sentalu-kaliurang.html
4. http://primbondonit.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

Fall in Love with Jogja - Day 1

Assalamualaikum dan Haii...

Setelah sekian lama nggak nge-blog, saya coba nulis lagi. Well, menulis sebenernya adalah salah satu hobi saya. Oke, sekarang saya akan sharing weekend saya di Jogja kemarin. Basi ya? Mudah-mudahan enggak ya..hahaha. dan mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit menunjukkan keindahan Indonesia. Amin..

Weekend kemarin saya ke Jogja, tepatnya berangkat Jumat (22 November 13) sore, dan pulang ke Jakarta lagi hari Senin (25 November 13) pagi. Trip ke jogja kali ini juga jadi ajang nyobain maskapai yang belum pernah saya coba. Hahaha~

Dimulai hari jumat sore, saya berangkat naik Citilink yang sampai Jogja sekitar jam setengah enam sore. Alasan pertama karena citilink cuma satu itu doang jadwalnya, dan pas dengan jadwal teman (guide) saya di Jogja pulang kantor.
Si Pink


Setelah si pink terkemas rapi, I’m ready to gooooo!

Sampai di Jogja, kami langsung ke Hotel Dafam Fortuna di Jl.Dagen Malioboro. Kenapa saya pilih hotel ini? Karena waktu itu lagi liat diskon di booking.com, ada yang lebih murah sih kata temen saya, tapi pertimbangan kedua karena ayah saya belum lama nginep disini katanya hotel baru jadinya enak, okedeh saya ngikut (dasar ga mau ribet :p ). Dari bandara ke Malioboro kami putuskan naik taksi rajawali, si taksi bandara dengan tarif Rp.60.000,-


Setelah check in di hotel, selonjoran sebentar, kita langsung ke tempat tujuan pertama: makan dan karaoke (iya iya, karaoke mah gak harus jauh jauh ke Jogja, ini lebih kearah udah lama banget kita berdua gak karokean bareng). Karaoke di Happy Puppy nya Yogya Tronik yang ternyata sekarang udah touch screen, dan makan di Bakso sekitar Yogya Tronik (lupa nama baksonya, tapi enak deh, ada bakso keju, bakso ranjau, bakso puyuh).
Selesai makan dan karaoke, iseng saya kontak teman kantor saya yang ternyata lagi dinas di Jogja. Dasar random ya, bisa ketemu disana gak janjian dan untuk misi yang berbeda. Haha~

Tapi karena hari sudah malam dan bingung mau kemana jadi kami memutuskan besok aja janjian jalan-jalan, karena kita punya tempat yang sama-sama ingin dikunjungi: Museum Ullen Sentalu. Setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, saya dan teman saya (oh ya, namanya Muti), kami memutuskan untuk charter si taksi rajawali tadi untuk esok hari. Sebelumnya udah sempat tanya-tanya harga, ternyata bisa carter dengan tariff Rp.70.000 per jam atau Rp.500.000 per 12 jam. Karena mikir sekalian mau silaturahim ke tempat saudara saya (yang mana juga belum pernah saya sambangi sebelumnya jadi gak tau alamatnya), dan malamnya kami berencana nonton Ramayana, jadilah kami memutuskan carter 12 jam besok. Mahalkah hitungan tarifnya? Jujur karena soal carter mencarter ini agak dadakan dan dari hasil browsing kami sekilas kayanya kalo carter mobil biasa juga gak jauh beda, kami memutuskan yang pasti-pasti aja.

Jadilah malam itu kami pulang ke hotel nggak sabar menunggu esok hari…


Sunday, July 14, 2013

Grinded to be shine, Amin..


I’m backt to my old blog! :)

Ini adalah blog pertama saya yang saya punya jaman kuliah, lalu pindah ke domain lain dan akhirnya balik lagi kesini waktu blog terakhir saya di M*ltiply ditutup.

Fakta yang pasti juga dirasakan semua orang pas buka tulisannya dulu adalah “ih gue alay juga ya dulu” :))

At least that’s my opinion seeing my old blog. Hahaha

Anyway, tulisan pertama saya di blog baru saya ini sayangnya agak berbau curcol. (Mungkin) sedikit galau, tapi intinya saya nulis Cuma ingin menyalurkan hobi, pikiran, perasaan, dan mudah-mudahan bisa diarahkan kepada hikmahnya. Yaiya jadi ga semata-mata curcol sampah. Hehe

Trust…

That’s the most important thing in relationship…

Calling back few months ago when ‘Yin’ and ‘Yang’ broke their relationship, cause of some trouble. At that time, Yang told her that he will still struggle for her, for their relationship. But at the same time, they face another problem that Yin hadn’t seen before. Yang became very jealous (if Yin can’t say very very jealous) with Yin and her friend, just call him “X”. Yin should easily ignore Yang ‘s jealous right? Since they weren’t couple anymore. But Yin always think to give Yang chances since Yang always promise he will change. Ok, Yin and X are partner in their work. So their job often require them to work together. Even X’s girlfriend is Yin’s best friend, so they often go for lunch together. But what do Yang afraid of? Many times Yin said that X is just her friend, he has a girlfriend already. Even he said he love Yin and Yin said “no”.. then so what???

Did Yin never feel jealous to Yang? ever. When they were still a couple, Yin ever jealous to Yang and his friend, just call her “Y” cause Yin ever see Yang was being teased by his friend when there was Y around them. Did Yin get jealous? Yes! But then she can control her feeling since Yang told her it was nothing. Until when Yin know Y message Yang, Yin get jealous, but still, she can trust Yang, seeing the message didn’t contain any romance.

Two months passed, after Yang asked Yin to be together again. Yin refused since she look Yang never truly change. He even get more and more jealous. Yin even said “I can control my feeling, I don’t get jealous with you and Y, why you can’t also do the same thing? Don’t get jealous with me and X”. Yang replied “It’s different, Y and I are nothing, we don’t have any special relationship. But X is too much often with you”. Two months after Yang suddenly act like he never knew Yin, pretend he didn’t look Yin if they meet. What’s wrong?

But after few days later Yin see Yang slowly act nice towards her, Yin heard that Yang is now approaching another girl.. it’s fine since they are both single, but what make Yin so hurt is.. Yang is pursuing “Y”.

See? What the hell did Yang said before: replied “It’s different, Y and I are nothing, we don’t have any special relationship. But X is too much often with you” ???

The fact is now,, Yin and X still be friend cause they truly friend! Even Yang never trust Yin about it. But Yang and Y ????

Ok, Yin won’t prejudice too much badly. She thought maybe Yang and Y become closer in the past two months, after Yang really stop fight for Yin. But it means he directly change his heart into another girl? Not long after he just asked Yin to be his girlfriend again? Yes, Yin just can think maybe this what is called ‘man behaviour’, easily forget and switch to another girl. Sigh!

And, again, why he must choose Y? (Oh, I forgot to state that Yin, Yang, X, and Y are all coworker and in the same floor). Did he get amnesia with his statement “It’s different, Y and I are nothing, we don’t have any special relationship. But X is too much often with you”??

Did he ever consider about Yin heart? They are all in the same environment! Yah.. you can imagine how Yin will see them frequently.

The dark side of Yin even speculate, or did Yang was lying to Yin all this time? How long did they get closer? Y’s friend said that Yang has been approached Y many times intensely. Did Yang just feel pity to Yin so he said they were nothing?

Or let say if Yang really get closer with Y after he broke up with Yin (in this condition Yang has a right), but why did he still struggle for Yin? (ok, maybe he still love Yin), but then why did he dare to ask Yin to avoid from X????? doesn’t it sounds so SELFISH??

Yin has no idea, really no idea. It’s hurt. Yes, it’s better to know now rather than if she already get more serious with Yang. Yin only can think God is so much so much love her, still love her so much so that He shows Yin all these things.

But yes, it’s a deep hurt.

Yin knows that God already has a more more beautiful plan for her. He is now preparing Yin, train Yin to be a better woman and will give her that rewards.
Jewelry shine after being grinded…

“I know You have beautiful plan for me God, but this hurt me deeply.. You are, the heart owner..please heal my heart, take this pain away, take this ‘hate feeling’ away” Yin whispers, “Even if Yang was lying to me, You never sleep.. You know and will reply exactly for what people did.. I trust you..” :'(



Saya berharap tulisan ini bisa terus saya simpan kelak sampai saya punya anak nanti..hehe.. jadi kalau nanti saya punya anak dan dia sudah besar saya bukan hanya bilang ‘boleh atau tidak’, tapi ada alasan atau pertimbangan buat dia (udah kejauhan aja mikir nya,, gpp lah ya segala sesuatu kan harus di prepare..Hahaha)

Sunday, December 08, 2013

Fall in Love with Jogja - Day 3 (part 2)

Melanjutkan posting sebelumnya, setelah kemarin nyobain Kalimilk dan Bakmi Kadin, kali ini kami makan di tempat yang namanya “Rumah Pohon”. Alhamdulillah ditraktir beginian,hahaha~.
Rumah Pohon
Tempatnya cukup unik karena desainnya dari bamboo yang dibikin bertingkat-tingkat. Jadi kalo mau makan disini pastikan tidak memakai baju atau sandal yang ribet karena bakal naik-naik tangga, dan tidak disarankan membawa orang yang sudah cukup sepuh kesini. Di tingkat paling atas tempat makan ini adalah “Gardu Pandang” yang katanya bisa melihat pemandangan kota Jogja dan Merapi. Sayang waktu kesana lagi agak berkabut jadi Merapinya nggak kelihatan. Disini juga ada tempat meditasi, kata saudara saya kalau tempat meditasi nya itu lagi dipake orang, akses ke Gardu Pandang ditutup. Dari segi makanan, Rumah Pohon ini lumayan, saya coba makan Nasi Gendheng sama icip-icip lauk lainnya. Yaa.. biasa sih, cukup enak.
Sehabis makan siang, tadinya kami mau diajak ke taman buah *tapi nggak jadi karena konon katanya belum berbuah*, jadilah kami melanjutkan agenda kami dan agak disesuaikan. Setelah mampir dulu ke Mirota, kami melanjutkan perjalanan ke Taman Pintar. Tadinya sih mau masuk tapi ternyata nggak keburu, jadilah kita foto-foto saja. Spot yang menarik adalah adanya cap tangan dan kaki dari Presiden RI, plus ada quote masing-masing. Dari enam quote, satu yang paling saya suka adalah dari Alm.Gus Dur: “Jadilah dirimu sendiri.”  Singkat, padat, nggak ada kalimat berbunga-bunga dengan bahasa dewa tapi bermakna . :D
Selain itu disini ada Gong perdamaian dunia, tertulis katanya disitu tertanam tanah dari 33 Propinsi. Filosofinya supaya Indonesia rukun selalu ya.. kaya slogan Bhinneka Tunggal Ika.

Menjelang malam kami akhirnya mampir ke Raminten yang sebelumnya batal kami kunjungi. Ternyata masih antri juga walaupun antriannya lebih manusiawi dibanding hari sebelumnya kami kesana. Disana kami memesan Nasi Kucing dan tambahan lauk *jauh-jauh mesennya Nasi Kucing, gapapa lah yaa*

Selanjutnya kami nyobain Armani Gelato – yang kata Muti satu-satunya gelato di Jogja-
Setelah menghabiskan waktu yang singkat di Jogja, keesokan harinya harus kembali menghadapi kesibukan ibu kota. Kali ini saya nyobain flight nya Batik Air. Cukup enak kaya Garuda, Cuma satu sayangnya: headset nya mesti beli. Agak lucu sih, disediain layar hiburan tapi headsetnya suruh beli =P.


Dengan ini selesailah postingan saya edisi Jogja kali ini. Lain kali tentu saya masih mau explore Jogja lagi dan daerah Indonesia lainnya :)

Fall in Love with Jogja – Day 3

Hari ketiga di Jogja saya dan Muti berencana keliling sekitaran Keraton aja, yaa yang masih bisa terjangkau dengan Trans Jogja. Dimulai di pagi hari yang sebenernya masih belum bisa sepenuhnya move on dari nonton Ramayana semalem :p , dengan agak malas kita siap-siap dan singkat kata jam 8 kita sudah siap untuk sarapan lalu mulai jalan lagi.

Begitu keluar Hotel, seperti sudah bisa ditebak ada tukang becak nyamperin kami. Ohya, ada perihal tukang becak yang perlu diwaspadai (halah bahasanya). Jauh-jauh hari memang sudah diwanti-wanti “kalo naik becak di Jogja dan ditawarin kemana-mana bilang aja enggak, karena nanti biasanya diajak ke toko langganannya dia”. Ya, kalo memang pas kita mau beli oleh-oleh dan belum ada preferensi sih nggak apa apa ya, tapi kalo kita udah punya preferensi sendiri terus dipaksa-paksa ikut pilihan dia kan menyebalkan.
Suasana Jogja yang bikin jatuh hati
Oke, lanjut. Begitu kami disamperin tukang becak, terjadilah tawar menawar ongkos ke Keraton. Sang tukang becak menawarkan jasa bentor (becak motor) seharga Rp.50.000 untuk Malioboro-Keraton-Tamansari-Malioboro (jadi bentornya nungguin kita). Muti bisik-bisik ke saya bilang, “emang harganya segituan sih. Tadi udah browsing” Ahaha~. Nah, persis seperti yang tadi saya katakan, sang tukang becak mulai proaktif menawarkan “Kalo sekalian mau beli oleh-oleh mbak, kaos, bla bla.” Dengan halus kami menolak dan bilang bahwa kami buru-buru (emang nggak bohong juga sih karena jam setengah dua belas rencana nya mau diajak makan sama om saya yang baru saya sambangi hari kemarin.hehehe)
Tiket Masuk

Gerbang menuju kompleks Keraton
Pintu Masuk



Bangsal Kencana

Akhirnya sampailah kami di keraton yang lewat pintu samping. Dengan tiket + ijin bawa kamera seharga Rp.6.000,- kami pun masuk keraton. Untung kami sampai disitu belum terlalu siang jadi masih nggak terlalu ramai. Begitu masuk pintu keraton, ada satu bangsal gedeee banget dan ada peringatan wisatawan nggak boleh naik/masuk kesitu. Ternyata itu Bangsal Kencana yang biasa dipakai untuk acara-acara penting. Katanya acara pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro kemarin juga memakai bangsal ini. Ohiya waktu kami masuk pandangan saya menangkap siluet seorang abdi dalem yang sedang duduk bersila di pekarangan yang beralaskan pasir itu, seperti sedang melakukan ritual doa. Agak kepo mau foto tapi rasanya nggak sopan ya. Dan untung aja belum ambil foto, karena nggak lama saya jug abaca tulisan dilarang ambil foto dengan latar abdi dalem yang sedang berdoa.
Meja Kerja HB IX
 Berhubung di keraton saya dan Muti jalan sendiri (nggak ada guide), jadi agak menebak-nebak juga sih spot yang bisa diceritakan. Tapi ada satu spot yang ternyata itu museum barang-barang Sultan Hamengkubuwono IX. Dari mulai baju, perlengkapan Beliau, kursi, meja kerja,sampai kamera dan peralatan masak masih disimpan disini. HB IX menjabat di periode Kemerdekaan Indonesia. Kiprah Beliau sangat banyak dan Beliau dikenal sangat aktif. Beliau juga dikenal senang olahraga, sampai ada timbangan Beliau yang disimpan di museum ini.


Salah satu Peralatan Jamuan Makan
Bumbu&Peralatan Masak HB IX

Ohya yang menarik juga, banyak koleksi peralatan makan yang dipakai raja-raja ataupun pangeran untuk menjamu tamunya. Tiap Raja/Pangeran punya koleksinya sendiri. Pun dengan tulisan yang sempat saya baca di salah satu sudut bangunan, bertuliskan Hamengkubuwono VIII. Kayaknya tiap karya/peninggalan Sultan itu di”tandai” begitu ya.

Ada satu pahatan tulisan Sultan HB IX yang saya suka, bunyinya begini “Al Heb Ik Een Uitgesproken Westerse Opvoeding Gehad, Toch Ben En Blijf Ik In De Allereerste Plaats Javaan” (Walaupun Saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, namun pertama-tama saya adalah dan tetap adalah Orang Jawa). Jadi nggak seperti kacang lupa kulitnya gitu :D

Setelah dari Keraton kami yang mengejar waktu memutuskan untuk ke Tamansari. Tamansari itu konon tempat pemandian Putri Keraton jaman dahulu dan tempat rekreasinya Keluarga Sultan 
. Kami menghampiri bentor yang kami naiki tadi. Sepintas kami mendengar si bapak bentor ngobrol dengan teman sesama penarik bentor. Mungkin maksudnya bercanda ya (atau entah karena mereka menganggap kami nggak ngerti bahasa jawa), dibilang nya kami bintitan mau ke tempat pemandian, padahal di rumah juga ada tempat pemandian. Agak kesal tapi yasudahlah, kami naik ke bentor. Ternyata ke-kekeuh-an Bapak Bentor masih berlanjut. Di tengah jalan kami merasakan laju bentor yang mulai melambat dan sedikit berhenti. Saya baru aja nanya Muti “emang ini udah sampe ya?” pas Bapak Bentor bilang “Kalau mau sekalian liat-liat cari oleh-oleh” dan baru sadar di sekitar tempat kami berhenti memang berjejer toko oleh-oleh. *Duh!* Dengan sabar dan nggak kalah kekeuh kami bilang enggak, kami lagi ngejar waktu ada janji. Oke, abis itu bentor jalan lagi.
Sampai di Tamansari kami sempat galau mau ikut guide apa enggak, karena katanya bagusnya kalau di Tamansari pake guide, mengingat tempatnya yang berliku dan beririsan dengan perumahan penduduk. Semacam banyak jalan tikus gitu kayanya. Tapi karena waktu mepet jadinya kami masuk sendiri (setelah tadinya berniat ngintilin salah satu rombongan tur dan ternyata rombongan itu udah mau pulang).
Di Tamansari nggak banyak spot yang kami datangi, tapi yang cukup menarik adalah sebuah bilik yang katanya itu merupakan tempat ganti baju/kamar. Pintunya yang kecil membuat kita harus menundukkan kepala kalo mau masuk. Ternyata ini memang disengaja. Katanya filosofinya adalah kita harus sopan santun (menunduk), yang sampai sekarang masih nyata prakteknya misalnya kita lewat didepan orang yang lebih tua, pasti kita bilang “permisi” nya sambil agak merunduk gitu kan.Hehe


perlu merunduk untuk keluar
Setelah dari Tamansari, kami bersiap pulang ke hotel karena janjian makan siang dengan Saudara saya. Agak susah juga lho cari jalan keluarnya (pantes perlu pake guide ya), tapi kami berpedoman nanya penduduk situ aja *gak mau rugi*. Pas kami sampai di tempat bapak bentor yang sudah menunggu, ke-kekeuh-an si Bapak bentor mulai lagi. Sebelum kami sempat naik ke atas becak, si Bapak mohon maaf sebelumnya lantas berkata bahwa dia baru saja ditelpon oleh salah satu tempat (merk) terkenal di Jogja, katanya disuruh ambil zakat yang belum diambil. Jadi si Bapak minta izin untuk mampir kesana untuk ambil zakat,dan *again* dia bilang “Kalau mau sekalian liat-liat cari oleh-oleh”. Okesip. Bukannya nggak punya hati nurani, bukannya bermaksud nggak berbagi rezeki. Kita juga tau lah niatnya baik juga, cari rezeki halal, sekali – dua kali okelah, tapi kalo kesannya jadi maksa banget kan bikin orang nggak nyaman. Padahal kalo memang kita butuh dan tertarik pasti mau juga diajak ke tempat referensinya, tapi ini jadi menyebalkan aja gitu lho jatuhnya. Terlebih lagi kan dari awal kita bilang waktu kita mepet jadi bukannya nggak ada alasan untuk menolak. Yah sudahlah~ akhirnya kita mengiyakan dan bilang lagi bahwa kita nggak bisa lama-lama karena ada janji. Pas sampai di tempat yang dimaksud, dengan nggak kalah kekeuh kita bilang nunggu di becak aja, jadi nggak turun untuk liat-liat atau apalah itu. Sampai di hotel untungnya Saudara saya belum datang jadi bisa leha-leha sebentar di lobi. Waktu saudara saya dateng dan kita pergi makan, sepintas saya lihat si Bapak bentor sigap mau nawarin becak tapi urung karena kita bawa kendaraan. *Nah kan Pak, saya nggak bohong kan..

Next: "Fall In Love With Jogja - Day 3 (part 2)"

Tuesday, November 26, 2013

Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 2)

Melanjutkan posting sebelumnya, kali ini masih di hari kedua tapi spesifik tentang Ramayana. Salah satu tujuan yang udah terpatri di benak saya waktu ke Jogja adalah : Harus Nonton Ramayana!!!
Kisah Ramayana pasti udah banyak yang tau yaa.. intinya tentang cerita Rama dan Shinta, saya mulai suka banget sama ceritanya pas beberapa bulan lalu baca versinya Tere Liye yang mengharu biru. Dan saya suka sekali kisah ini yang mengandung muatan pembelajaran tentang kepercayaan dan kesetiaan.

Turis Bule
Oke, awalnya cuma tau tari ini dipentaskan di Candi Prambanan. Tapi ternyata ada juga di Purawisata Jogjakarta. Kita sempat bingung mau di Prambanan atau Purawisata, sebenernya kalau di Candi Prambanan dapet yang outdoor dengan latar candi prambanan itu bakal oke banget, tapi sayangnya bulan-bulan segini yang rentan hujan katanya pertunjukan di Prambanan jadi indoor. Setelah dipikir-pikir ditimbang-timbang, kalo sama-sama indoor mah mending di Purawisata aja deh, lebih deket juga. Jadilah kita ke Purawisata Jogjakarta di Jl.Brigdjen Katamso. Pas sampai sana ternyata pertunjukannya bisa dibilang outdoor juga, karena “open air” begitu loh, ga ada atapnya. Menariknya, kita udah dateng dari jam 7 sementara pertunjukan mulai jam 8 malem, jadi masih sempat foto-foto dan duduk-duduk, bangku di depan ternyata udah reserved by tourist semua hahahahahha. Cool!

Turis China

Alhasil saya dan Muti milih duduk di barisan paling belakang aja, toh tetap kelihatan karena model bangkunya kaya bioskop gitu, malah bisa senderan =P.

Ki-ka : Rama, Shinta, Lesmana
Di sebelah saya ternyata seorang ibu dari Surabaya yang dateng ke Jogja bersama suaminya. Ibu itu nanya saya darimana, dan nanya “suka nonton wayang orang ya mbak?” :)) Saya bilang baru sekali itu, kebetulan suka sama Ramayana, jadi pengen nonton sendratarinya. Ternyata suami ibu itu suka wayang orang dan mereka sampe bisa membedakan mana gerakan wayang yang biasa nari atau enggak (wowww). Sepanjang nonton pun mereka suka ngebahas berdua tentang cerita atopun penarinya.

Inti cerita Ramayana adalah kisah cinta Rama dan Shinta yang diuji waktu Shinta diculik raksasa bernama Rahwana. Cerita pun berlanjut dengan perjuangan Rama menyelamatkan Shinta dibantu Hanoman. Adalah Lesmana, adik Rama, yang setia bangetttt sama kakaknya, menemani dia dan Shinta ketika mereka diasingkan di hutan, membantu Rama merebut Shinta
Shinta diculik Rahwana
 dalam perang. And I’m falling in love with this character instead of the main character (Rama). Hahaha~


Perang Rama & Rahwana
Setelah berhasil diselamatkan, Rama justru curiga dengan kesucian Shinta apakah dia bisa menjaga diri selama ditawan si Rahwana, sampai menyuruh Shinta membuktikan dengan loncat ke dalam api suci. Terbukti Shinta nggak terbakar, baru deh Rama percaya Shinta lagi. Kalau di sendratari cerita habis disitu, tapi yang versi Tere Liye masih ada lanjutannya kecurigaan Rama sampai Shinta yang melahirkan anak dari Rama diusir dan akhirnya tragis :’(

Sedikit membahas si tokoh Lesmana yang saya suka tadi, Lesmana ini dikisahkan adik bungsunya Rama dan dia setia banget sama kakaknya, bayangin aja “ngintilin” kakaknya kemana-mana walaupun kakaknya udah menikah. Terus juga digambarkan dia sosok yang baik hati dan lembut. Waktu di hutan, sebelum Shinta diculik Rahwana, Lesmana disuruh menjaga Shinta karena Rama lagi mengejar kijang untuk Shinta, dengan setia Lesmana menjaga Shinta. Waktu kijang yang dikejar Rama itu ternyata suruhan Rahwana dan teriak menirukan suara rama sampai Shinta terkecoh dan menyuruh Lesmana menyusul kakaknya, Lesmana pun awalnya enggan. Tapi Shinta yang curiga bilang Lesmana sengaja mau membiarkan kakaknya mati, biar kalau dia jadi janda lantas Lesmana bisa memperistri dia (aduh please deh Shinta… -.-) Lesmana akhirnya menuruti Shinta mencari Rama dan memberi lingkaran perlindungan untuk Shinta. Walaupun akhirnya Shinta terkecoh dan diculik Rahwana juga -.-“ Dalam membantu kakaknya perang dengan Rahwana, Lesmana berhasil memanah Indrajit, salah satu tangan kanannya Rahwana.
Lesmana
Waktu di sendratari ini, pemeran Lesmana nya juga cakep pake banget. Hahahah~ Cakepnya agak versi oriental-oriental gitu sih kayanya, nih kalo nggak percaya *kasih bukti foto*. Gimana TJAKEP KAN. =P Dibandingkan pemeran Rama, cakepan Mas Lesmana ini :D
Kata Muti konon si Lesmana ini memang kerap diperankan oleh laki-laki yang cakep, mungkin sesuai dengan karakter ceritanya juga.



Hanoman dikelilingi api
Dalam cerita juga yang mengagumkan adalah aksi Hanoman yang lolos dari api. Apinya pake api beneran loh, dan dia bener-bener atraksi guling-guling di api. Langsung mikir “wow… pemeran Hanomannya bisa debus!”
Shinta Obong
Waktu adegan Shinta obong (Shinta masuk ke api suci) kita becandaan bilang “jangan bilang si Shinta juga bisa debus.. AHahaha” ga lucu banget kalo dia bisa debus buat apa pake ada acara penyelamatan dan peperangan heboh ini.


Ki-ka: Rahwana,Rama,Shinta,Saya,Lesmana,Hanoman
Setelah nonton selama 1,5 jam, saya beruntung bisa foto bareng pemainnya.. dan posisinya di sebelah *uhuk* Lesmana dan Shinta. Hahahaha..
Overall saya sukaaaa sama cerita Ramayana ini. And I’m still willing to re-watch it next time I go to Jogja! Ternyata Muti pun berpikiran sama, masih mau nonton si Ramayana ini. I just love love love the story (and Lesmana) :))


Jam setengah sepuluh malam akhirnya kita langsung balik ke hotel dan berakhirlah ngebolang satu hari itu untuk lanjut besoknya ke Keraton.


Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 1)

Dan tibalah hari kami mau nge-bolang. Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke, jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.


Setelah dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang katanya itu jamu awet muda. Hehehe~

Secara singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha

Ada beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu, Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.

Kemudian ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.

Pakubuwono XII jaman muda
Kemudian ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya adalah BRM Suryo Guritno atau lebih dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan di internet ini.
Saya coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945, karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan” kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan, tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)

Selanjutnya Putri Tinneke yang merupakan saudara Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah  GRAj Koes Sapariyam. Di Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget (jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh.. menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang kalau itu dilakukan jaman sekarang.

Tokoh lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil dari internet yaa..
Dan beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul (gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum ada ruang khusus Putri Dambaan yang isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
Pintu Masuk Ullen Sentalu
Pintu Keluar Ullen Sentalu
Masih banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong disini. Hehehe


Dari Kalimilk tadinya kita mau ke Raminten ternyata penuh banget, apalagi malam minggu. Alhasil kita merubah haluan mampir ke Bakmi Jawa Kadin dulu sebelum siap-siap nonton Ramayana. Yeay!

Web Pendukung:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg
2. www.ullensentalu.com
3. http://fitri2boys2.blogspot.com/2013/08/museum-ullen-sentalu-kaliurang.html
4. http://primbondonit.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

Fall in Love with Jogja - Day 1

Assalamualaikum dan Haii...

Setelah sekian lama nggak nge-blog, saya coba nulis lagi. Well, menulis sebenernya adalah salah satu hobi saya. Oke, sekarang saya akan sharing weekend saya di Jogja kemarin. Basi ya? Mudah-mudahan enggak ya..hahaha. dan mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit menunjukkan keindahan Indonesia. Amin..

Weekend kemarin saya ke Jogja, tepatnya berangkat Jumat (22 November 13) sore, dan pulang ke Jakarta lagi hari Senin (25 November 13) pagi. Trip ke jogja kali ini juga jadi ajang nyobain maskapai yang belum pernah saya coba. Hahaha~

Dimulai hari jumat sore, saya berangkat naik Citilink yang sampai Jogja sekitar jam setengah enam sore. Alasan pertama karena citilink cuma satu itu doang jadwalnya, dan pas dengan jadwal teman (guide) saya di Jogja pulang kantor.
Si Pink


Setelah si pink terkemas rapi, I’m ready to gooooo!

Sampai di Jogja, kami langsung ke Hotel Dafam Fortuna di Jl.Dagen Malioboro. Kenapa saya pilih hotel ini? Karena waktu itu lagi liat diskon di booking.com, ada yang lebih murah sih kata temen saya, tapi pertimbangan kedua karena ayah saya belum lama nginep disini katanya hotel baru jadinya enak, okedeh saya ngikut (dasar ga mau ribet :p ). Dari bandara ke Malioboro kami putuskan naik taksi rajawali, si taksi bandara dengan tarif Rp.60.000,-


Setelah check in di hotel, selonjoran sebentar, kita langsung ke tempat tujuan pertama: makan dan karaoke (iya iya, karaoke mah gak harus jauh jauh ke Jogja, ini lebih kearah udah lama banget kita berdua gak karokean bareng). Karaoke di Happy Puppy nya Yogya Tronik yang ternyata sekarang udah touch screen, dan makan di Bakso sekitar Yogya Tronik (lupa nama baksonya, tapi enak deh, ada bakso keju, bakso ranjau, bakso puyuh).
Selesai makan dan karaoke, iseng saya kontak teman kantor saya yang ternyata lagi dinas di Jogja. Dasar random ya, bisa ketemu disana gak janjian dan untuk misi yang berbeda. Haha~

Tapi karena hari sudah malam dan bingung mau kemana jadi kami memutuskan besok aja janjian jalan-jalan, karena kita punya tempat yang sama-sama ingin dikunjungi: Museum Ullen Sentalu. Setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, saya dan teman saya (oh ya, namanya Muti), kami memutuskan untuk charter si taksi rajawali tadi untuk esok hari. Sebelumnya udah sempat tanya-tanya harga, ternyata bisa carter dengan tariff Rp.70.000 per jam atau Rp.500.000 per 12 jam. Karena mikir sekalian mau silaturahim ke tempat saudara saya (yang mana juga belum pernah saya sambangi sebelumnya jadi gak tau alamatnya), dan malamnya kami berencana nonton Ramayana, jadilah kami memutuskan carter 12 jam besok. Mahalkah hitungan tarifnya? Jujur karena soal carter mencarter ini agak dadakan dan dari hasil browsing kami sekilas kayanya kalo carter mobil biasa juga gak jauh beda, kami memutuskan yang pasti-pasti aja.

Jadilah malam itu kami pulang ke hotel nggak sabar menunggu esok hari…


Sunday, July 14, 2013

Grinded to be shine, Amin..


I’m backt to my old blog! :)

Ini adalah blog pertama saya yang saya punya jaman kuliah, lalu pindah ke domain lain dan akhirnya balik lagi kesini waktu blog terakhir saya di M*ltiply ditutup.

Fakta yang pasti juga dirasakan semua orang pas buka tulisannya dulu adalah “ih gue alay juga ya dulu” :))

At least that’s my opinion seeing my old blog. Hahaha

Anyway, tulisan pertama saya di blog baru saya ini sayangnya agak berbau curcol. (Mungkin) sedikit galau, tapi intinya saya nulis Cuma ingin menyalurkan hobi, pikiran, perasaan, dan mudah-mudahan bisa diarahkan kepada hikmahnya. Yaiya jadi ga semata-mata curcol sampah. Hehe

Trust…

That’s the most important thing in relationship…

Calling back few months ago when ‘Yin’ and ‘Yang’ broke their relationship, cause of some trouble. At that time, Yang told her that he will still struggle for her, for their relationship. But at the same time, they face another problem that Yin hadn’t seen before. Yang became very jealous (if Yin can’t say very very jealous) with Yin and her friend, just call him “X”. Yin should easily ignore Yang ‘s jealous right? Since they weren’t couple anymore. But Yin always think to give Yang chances since Yang always promise he will change. Ok, Yin and X are partner in their work. So their job often require them to work together. Even X’s girlfriend is Yin’s best friend, so they often go for lunch together. But what do Yang afraid of? Many times Yin said that X is just her friend, he has a girlfriend already. Even he said he love Yin and Yin said “no”.. then so what???

Did Yin never feel jealous to Yang? ever. When they were still a couple, Yin ever jealous to Yang and his friend, just call her “Y” cause Yin ever see Yang was being teased by his friend when there was Y around them. Did Yin get jealous? Yes! But then she can control her feeling since Yang told her it was nothing. Until when Yin know Y message Yang, Yin get jealous, but still, she can trust Yang, seeing the message didn’t contain any romance.

Two months passed, after Yang asked Yin to be together again. Yin refused since she look Yang never truly change. He even get more and more jealous. Yin even said “I can control my feeling, I don’t get jealous with you and Y, why you can’t also do the same thing? Don’t get jealous with me and X”. Yang replied “It’s different, Y and I are nothing, we don’t have any special relationship. But X is too much often with you”. Two months after Yang suddenly act like he never knew Yin, pretend he didn’t look Yin if they meet. What’s wrong?

But after few days later Yin see Yang slowly act nice towards her, Yin heard that Yang is now approaching another girl.. it’s fine since they are both single, but what make Yin so hurt is.. Yang is pursuing “Y”.

See? What the hell did Yang said before: replied “It’s different, Y and I are nothing, we don’t have any special relationship. But X is too much often with you” ???

The fact is now,, Yin and X still be friend cause they truly friend! Even Yang never trust Yin about it. But Yang and Y ????

Ok, Yin won’t prejudice too much badly. She thought maybe Yang and Y become closer in the past two months, after Yang really stop fight for Yin. But it means he directly change his heart into another girl? Not long after he just asked Yin to be his girlfriend again? Yes, Yin just can think maybe this what is called ‘man behaviour’, easily forget and switch to another girl. Sigh!

And, again, why he must choose Y? (Oh, I forgot to state that Yin, Yang, X, and Y are all coworker and in the same floor). Did he get amnesia with his statement “It’s different, Y and I are nothing, we don’t have any special relationship. But X is too much often with you”??

Did he ever consider about Yin heart? They are all in the same environment! Yah.. you can imagine how Yin will see them frequently.

The dark side of Yin even speculate, or did Yang was lying to Yin all this time? How long did they get closer? Y’s friend said that Yang has been approached Y many times intensely. Did Yang just feel pity to Yin so he said they were nothing?

Or let say if Yang really get closer with Y after he broke up with Yin (in this condition Yang has a right), but why did he still struggle for Yin? (ok, maybe he still love Yin), but then why did he dare to ask Yin to avoid from X????? doesn’t it sounds so SELFISH??

Yin has no idea, really no idea. It’s hurt. Yes, it’s better to know now rather than if she already get more serious with Yang. Yin only can think God is so much so much love her, still love her so much so that He shows Yin all these things.

But yes, it’s a deep hurt.

Yin knows that God already has a more more beautiful plan for her. He is now preparing Yin, train Yin to be a better woman and will give her that rewards.
Jewelry shine after being grinded…

“I know You have beautiful plan for me God, but this hurt me deeply.. You are, the heart owner..please heal my heart, take this pain away, take this ‘hate feeling’ away” Yin whispers, “Even if Yang was lying to me, You never sleep.. You know and will reply exactly for what people did.. I trust you..” :'(



Saya berharap tulisan ini bisa terus saya simpan kelak sampai saya punya anak nanti..hehe.. jadi kalau nanti saya punya anak dan dia sudah besar saya bukan hanya bilang ‘boleh atau tidak’, tapi ada alasan atau pertimbangan buat dia (udah kejauhan aja mikir nya,, gpp lah ya segala sesuatu kan harus di prepare..Hahaha)
 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates