Dan
tibalah hari kami mau nge-bolang.
Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim
ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke,
jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama
adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti
waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di
jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat
show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.
Setelah
dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita
lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini
bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa,
khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil
foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka
web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic
kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya
worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang
sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang
katanya itu jamu awet muda. Hehehe~
Secara
singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja
Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan
Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara
pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen
minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya
ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide
nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha
Ada
beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan
kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu,
Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja
menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan
yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh
ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.
Kemudian
ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan
tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk
salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.
 |
| Pakubuwono XII jaman muda |
Kemudian
ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya
adalah BRM Suryo Guritno atau lebih
dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau
ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan
di internet ini.
Saya
coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang
Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang
itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran
ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi
raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945,
karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat
muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di
beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan”
kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan,
tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah
beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah
beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing
sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)
Selanjutnya
Putri Tinneke yang merupakan saudara
Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah GRAj Koes
Sapariyam. Di
Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan
Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur
hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda
tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan
puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget
(jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis
halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam
Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus
menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh..
menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang
kalau itu dilakukan jaman sekarang.
Tokoh
lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau
lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan
kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu
cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil
dari internet yaa..
Dan
beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau
pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari
srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin
sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari
Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti
nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau
juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan
dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden
Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul
(gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul
menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah
dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti
Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum
ada ruang khusus Putri Dambaan yang
isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
 |
| Pintu Masuk Ullen Sentalu |
 |
| Pintu Keluar Ullen Sentalu |
Masih
banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo
beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau
membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri
jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang
putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran
karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara
garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan
karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang
mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari
Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir
ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau
dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga
buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong
disini. Hehehe