Thursday, February 19, 2015

Trip to Beijing-Shanghai - Day 4

Previous: Trip to Beijing - Shanghai - Day 3

Nahhh… di hari ke 4 ini Saya dan Dewi berpindah dari Beijing ke Shanghai dengan menggunakan High Speed Train. Kami beli yang kelas 2 harganya sekitar 1 juta kalo di-kurs-kan waktu itu. Kali ini Yovie tidak ikut ke Shanghai, jadi bener-bener Cuma saya dan Dewi. Berdua aja! Nekat? Agak sih… Hahaha… tapi kami ada menghubungi seseorang yang akan meminta rekannya untuk menjemput kami, namanya sebut saja “kokoh Yang” *sengaja disamarkan.

Tiket High Speed Train Beijing - Shanghai

Subuh-subuh kami sudah cek out dari hostel tempat kami menginap di Beijing dan berangkat ke Beijing Southway Railway Station, atau sering disebut “Beijing Nan Zhan 北京南站” aja. Tibalah saat saya dan Dewi ngebolang berdua. Berbekal agak nekat dan bahasa mandarin kami yang belepotan. Iya sih, di Zhongguo udah banyak yang bisa bahasa Inggris juga, tapi tetep mereka prefer pake Zhongwen *yaiyalah*. Di stasiun kami nunggu agak lama sampai dengan naik kereta. Pas tiba waktunya kami naik kereta.. yeay! Akhirnya nyobain juga kereta super cepat itu. Walaupun yang kami naiki sepertinya bukan pas jam yang keretanya paling cepet (kecepatannya Cuma 280 sekian, sementara katanya ada yang diatas 300).
 



Kecepatan kereta yang tertera di layar dalam gerbong





Setelah melewati beberapa kota termasuk Nanjing *kota mudiknya Shu Huan di film Kabut Cinta! * dan menghabiskan perjalanan kurang lebih 5 jam, tibalah kami di Shanghai! Kesampean juga saya menjejakkan kaki di kota tempat syutingnya film kabut cinta. Hehehe….




Kami benar dijemput oleh Kokoh Yang. Awalnya bener-bener merasa nggak enak karena ternyata dia jemput pake mobil pribadinya, padahal kata teman saya tadinya si kokoh Yang keberatan kalo jemput pake mobil karena jauh dari stasiun. Orangnya juga agak kaku dan sudah berumur, jadi kami canggung juga. Kami mengarah ke Podd Inn di dekat Hongkou Footbal Stadion yang sudah kami book sebelum kami berangkat ke Zhongguo. Tapi apa yang terjadi??? Kami ditolak saat tiba di hotel! Jrengggg….Dengan kondisi baru datang dan petugas yang sama sekali enggan berbicara Inggris, dia Cuma menolak kami dengan alasan kami adalah waiguo ren (foreign people) dan mereka nggak terima waiguo ren. Dih! Aneh! Emang sih kami belum bayar, apa karena itu? Tapi di Beijing kami lancar-lancar aja, bahkan Hostel loh levelnya. Pokoknya udah sebel banget lah sama si Podd Inn ini. Blacklist.

Si kokoh Yang juga tidak terlalu berdiplomasi, jadi setuju-setuju aja dan minta kami cari hotel lain, yang kebetulan gak jauh dari Pod Inn itu ada hotel Jinjiang Inn. Terpaksalah kami kesana. Ternyata harganya 2x lipat dan Cuma ada kamar kosong untuk 1 malam saja. Lemes? Iya. Tapi saya dan Dewi pikir “yaudah deh, sore ini sambil coba cari-cari di sekitar Nanjing Road.” Plan sore itu memang kami mau main ke daerah Nanjing Road. Okedeh, akhirnya dengan terpaksa kami book hotel yang lebih mahal itu untuk semalam, mau gimana lagi… *sambil berharap duit nya cukup, kalo nggak ya cari ATM ato pake kartu kredit.

Setelah itu kokoh Yang mengantar kami ke Nanjing Road. Nanjing Road ini mirip Orchard Road nya Singapore, tapi panjaaaaang banget. Saking Panjang jadi ada jalan West Nanjing Road sampe East Nanjing Road. Sesampainya kami di sebuah perempatan, kokoh Yang bilang ke kami bahwa di depan itu sudah jalan Nanjing Road, nggak lama dia maju dan minggir. Kami agak bingung apa mau parkir disini? Ternyata….

“Ini Nanjing Road, silakan.. Nanti kalau ada perlu apa hubungi saya.” Kata kokoh Yang.
“Oh..oke..” sambil agak bingung kami turun mobil. Loh dia nggak ikut nemenin jalan ya? Atau seenggaknya nemenin cari hotel gitu?!

Dan benar saudara-saudara… mobilnya berjalan menjauhi kami. Saya dan Dewi bengong.
Baiklah… kita ditinggal. Jadi agak nggak respek sama si kokoh Yang. Yaudahlah kalo gitu, mungkin dia juga sibuk, dan *siapa tau* agak terpaksa juga jemput dan antar kami tadi. 
Nanjing Road!

Kami mulai menyusuri jalanan Nanjing Road dengan perasan agak campur aduk, ada shock, takut juga, tapi excited juga. Ayo dong udah sampe sini dinikmati! Tapi keoptimisan kami agak luntur ketika beberapa kali mendatangi hotel yang ditemui nyaris sama:
Pertama, begitu diajak ngomong bahasa Inggris mereka langsung geleng-geleng. Oke, ganti ngomong Chinese. Tanya ada kamar kosong nggak blablabla.
Kedua, mereka bilang kamarnya penuh, dan seringnya pakai alasan yang sama juga “nggak terima foreign people” Ini kan aneh!!! Hotel apa yang nolak orang asing?
Ekstrimnya ada yang ketika kami baru ngomong “ni keyi shuo yingwen ma? (Anda bisa berbahasa Inggris?)” orang itu langsung Cuma liat kami dan jawab “Waiguo ren? “ sambil geleng-geleng dan tangannya kasih isyarat supaya kami pergi. Idih….

Sementara hari mulai gelap. Sebal dan mulai khawatir. Kami nggak mungkin sampe tengah malem disini, kan harus  balik hotel juga. Tapi kalo belum dapet hotel untuk besok, mau tidur dimana besok dan besok lusa? Kenapa jadi kaya lost in shanghai gini….
Di tengah kebingungan itu dan saat kami berjalan menyusuri jalanan Nanjing Road….
Ada seorang cewe yang minta difotoin. Setelah selesai memfotokan, dia ngajak kami ngomong zhongwen, ya kami balas. Dan dia jadi antusias lalu manggil temen-temennya. Kira-kira mereka ber-5. Salah satu dari mereka hamil. Saya masih inget banget muka-muka mereka. Lalu mereka ngajak ngobrol dan ngomoooong terus. Sampe akhirnya waktu mereka tau kita lagi cari hotel, mereka bilang mereka turis lokal dari Suzhou, mereka pelajar dan lagi cari hotel juga. Mereka ngajak bareng. Kami bilang mau cari dimana? Mereka bilang ada di belakang. Sebenernya udah kepikir juga, di sebelah mana, tadi kami udah susurin hampir semua hotel yang ada dan ditolak semua. Tapi yaudahlah barangkali mereka lebih tau secara turis lokal.

Sepanjang jalan mereka ajak ngobrol kami terus dan dengan antusias ngobrolin soal muslim di China juga. Sampai….. kita berhenti di depan sebuah bangunan. Mereka masuk kesana dan ajak kami masuk. Saya sempat lihat tulisan hanzi di toko itu yang ada tulisan “cha “ nya. Dengan zhongwen kami yang belepotan, kami cukup tau itu tempat teh. Saya nengok ke Dewi, dia kasih isyarat supaya kita nggak ikut masuk. Kami bilang ke rombongan itu bahwa kami kan mau cari hotel, kok kesini? Mereka jawab iya nanti ada di depan, sekarang kesini dulu.

Feeling mulai nggak enak, saya toleh Dewi lagi, dan Dewi bisik-bisik ke saya “Yus,, inget nggak yang di blog”. Seketika saya langsung lemes dan takut *ini beneran* kenapa?
Jadi ya guyssss… kalo ada modus begini di china, terutama shanghai dan Beijing, kalo ada yang ngaku sebagai turis dan minta diajarin bahasa inggris dan diajak minum teh, JANGAN PERNAH MAU. Itu penipuan. Kami pernah baca ini di blog orang-orang juga yang share *thanks to them*. Tapi kami awalnya nggak curiga karena mereka awalnya ngakunya pelajar *walopun kemudian ngaku turis juga* dan mereka nggak minta ajarin bahasa inggris. Jadi kami nggak sadar.
Dengan deg-degan dan sebenernya kaki udah lemes, kami menolak bilang “bu yong.. bu yong.. zaijian.. (nggak usah… goodbye..)” dan untung banget Alhamdulillah Ya Alloh, mereka Cuma ketawa dan ngangguk!! Nggak kebayang kalo tiba-tiba mereka berubah ekspresinya jadi galak dan maksa kami! Hiiiiiii,…..

Sontak refleks saya sama Dewi langsung balik badan, pegangan tangan, jalan cepet, dan lariiiiii!! *ini bener-bener lari. Lari sekenceng-kencengnya* Padahal waktu itu kondisi kaki saya lagi sakit tapi udah nggak berasa lagi. Yang ada di pikiran kami Cuma sejauh-jauhnya meninggalkan rombongan itu. Jangan noleh ke belakang, pokoknya lari. Sejauh-jauhnya, kalo bisa cepetan ke stasiun naik MRT, biar mereka nggak ngejar. Untungnya mereka nggak ngejar……………

Asli rasanya itu udah kaya di film-film banget. Dengan dramatis nya kami pegangan tangan dan bilang “kita Cuma berdua disini. Kita nggak boleh pisah. Kemana-mana harus berdua. Sekarang kita lari. Astaghfirullah… kita saling ingetin ya. Kalo ada kejadian kaya tadi saling ingetin!” perasaan kami nggak bisa digambarkan waktu itu. Takut? Iya. Banget!!

Setelah kami meyakini bahwa kami nggak dikejar rombongan tadi, kami duduk sebentar di bangku pinggir jalan. Baru deh kaki saya kerasa sakit. Sambil mikir gimana nasibnya kami, mau cari hotel kemana lagi, akhirnya kami terpikir satu cara terakhir.

Jadi, sebelum saya berangkat ke Zhongguo, waktu saya minta ijin cuti ke bos saya, bos saya sempat bilang agar saya ngabarin cabang kantor saya yang di Shanghai, bilang saya mau kesana. Awalnya saya sempat nggak enak, kan saya perginya pribadi, bukan urusan kantor, nanti malah ngerepotin atau apa. Tapi bos saya bilang waktu itu nggak apa-apa, kalo ada apa-apa kan ada yang dihubungi. Semacam firasat gitu ya.. beneran ada apa-apa..hahaha…
Setelah itu saya akhirnya kontak dengan salah seorang Manager di kantor cabang Shanghai, cerita kalau saya mau ke Shanghai. Dan saya berencana mampir kesana di sela trip saya di Shanghai.

Tak disangka ternyata di Shanghai mengalami pengalaman tak terlupakan ini, akhirnya saya kontaklah Pak Manager ini, namanya Pak Ucok. Saya ceritakan bahwa saya sudah tiba di Shanghai dan saya ceritakan kejadian ditolak hotel tersebut. Kami mohon bantuan Beliau terkait alternatif penginapan yang bisa kami cari. Akhirnya dengan baik hati Pak Ucok bilang akan mengecek dan mengabari. Cukup lega, kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena hari itu sudah malam, kami lanjut jalan kaki ke stasiun MRT.

Nah, pas kami mau beli tiket MRT, ada keanehan lagi yang terjadi. Mesin tempat kami beli tiket nggak mau ambil uang dan mengeluarkan tiket. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kami dari belakang. Kami menoleh. Ada kokoh kokoh berusia mungkin 30an yang tiba-tiba tangannya menyuruh kami agak minggir dan mengintervensi mesin tiket itu. Dia ngapain?! Pikir kami.
Tanpa banyak bicara dan menggunakan bahasa isyarat, dia minta uang kertas yang kami pegang, agak takut kami kasih. Dan ternyata dia ganti dengan uang koinnya untuk ke mesin itu. *saya agak lupa detailnya tapi intinya ternyata dia bantuin kami untuk beli tiket MRT di mesin itu! Harusnya ada pecahan uang tertentu yang nggak bisa digunakan kalau beli tiket lewat mesin. Kami akhirnya sadar kalau dia bantuin kami. Tapi karena masih trauma dengan peristiwa barusan dimana hampir ditipu orang, saya dan Dewi saling lirik dan bilang “kok dia baik banget?! Orang ini siapa kok baik banget?! Dia komplotannya rombongan tadi bukan?!” karena curiga, akhirnya kami bilang bahwa kami udah ngerti cara beli tiketnya dan bisa melanjutkan sendiri sambil bilang terima kasih. Tapi si kokoh itu tetep kekeuh nungguin sampe tiketnya bener-bener kami pegang fisiknya. Setelah itu kami bilang terima kasih lagi sambil masih dengan pikiran curiga buru-buru pergi.
“Kita jangan naik MRT nya dulu. Siapa tau si orang itu mau ngikutin kita. Biarin dia pergi dulu. Gimana..?” / “ya..ya..”
Sampai akhirnya si kokoh ternyata beneran pergi dan kami sadar dia bukan orang jahat, beneran niatnya bantuin kami :DD Alhamdulillah.. Maaf Ya Alloh kami jadi suuzon…


Akhirnya kami naik MRT menuju hotel. Turun dari stasiun MRT kami sempat agak bingung menemukan hotel kami. Yaiya,tadi kan dari hotelnya dianter kokoh Yang. -.-“  Begitu di ujung jalan ada kantor yang tulisannya semacam English club gitu kami langsung bahagia, kami akhirnya kesana tanya arah hotel kami. Mungkin mas bule yang kami tanya dan beberapa bule disitu bingung liat kami, ini dua anak ilang dari mana sih…….

Setelah sampai hotel, kami berasa lega dan masih nggak habis pikir dengan kejadian menegangkan yang kami alami tadi. Nggak berapa lama, Pak Ucok menghubungi kami dan menawarkan untuk tinggal di rumah salah satu Manager untuk dua malam berikutnya. Subhanalloh.. Alhamdulillah… ya mau lah kalo nggak merepotkan. Terharu banget. Alhamdulillah akhirnya malah ditawarin tebengan nginep di apartemennya Ibu Manager itu. Thanks banget Pak Ucok dan Mbak Nola…
Akhirnya kami beneran akan ke cabang kantor saya di Shanghai keesokan harinya. Yang tadinya memang rencana mampir untuk berkunjung, eh jadi beneran mampir untuk berkunjung dan untuk merepotkan.. Hehehehe…


To be continued….




*special thanks untuk Pak Ucok, Mbak Nola, Pak Pohlam, Mas Denis, dan rekan-rekan di Cabang Shanghai yang sudah membantu dua anak hilang yang lost in Shanghai ini J

Trip to Beijing-Shanghai - Day 3

Nggak terasa udah tepat setahun lalu saya dan teman saya pergi ke Zhongguo. Kesulitan move on gara-gara tetiba inget momen pergi ke zhongguo ini kembali menyemangati saya melanjutkan tulisan di blog yang udah lama banget nggak update. Jam 11 malam.. oke nggak papa.. keburu hilang moodnya kalo nggak buru-buru ditulis..hahaha..~

Jadi hari ketiga ini saya dan Dewi pengalaman yang cukup seru. Plan kami adalah ke Yiheyuan (Summer Palace) dan apalagi kalo bukan Great Wall yang jadi mascot itu! Pagi-pagi kami telat bangun, begitu bangun langsung gradak gruduk dan ternyata si kokoh guide sudah menunggu di ruang tunggu hostel. Ohya, khusus untuk greatwall + summer palace ini kami memutuskan pakai tur lokal dengan pertimbangan efisiensi waktu dan biaya. Greatwall itu jauh bo..udah hampir di luar kota Beijing. Kami udah book dari jauh hari sebelum tiba di Zhongguo.

Nah, waktu saya dan Dewi bertemu dengan si kokoh yang memperkenalkan diri bernama Toni itu, kami langsung menuju ke kendaraan. Si kokoh Toni ini berbahasa Inggris yang…ya..gitu deh. Inggris saya emang nggak expert, tapi kalo denger si kokoh ini ngomong Inggris pokoknya harus extra konsentrasi.Hehehehe..
*sayangnya nggak ada foto bareng kokoh Toni*

Akhirnya kami sampai di ujung jalan. Celingukan cari bis turnya, ternyata yang nyamperin kita malah sedan. Loh..?? kita tur grup kan? Ternyata kokoh Toni menjelaskan kalo peserta tur hari itu Cuma kita berdua, jadi cukup pake mobil. Saya sempet lirik-lirikan sama Dewi, agak takut diculik…tapi..yaudahlahya, khusnudzon aja. Sepanjang perjalanan ke Greatwall, kokoh Toni banyak cerita *ya secara dia guide nya*, tapi dengan extra konsentrasi jadi agak capek juga dengerinnya *maaf koh*, dan dengan teganya Dewi membiarkan saya yang terus-terusan ngobrol dengan si kokoh. Diselingi tebakan-tebakan yang diberikan seputar neil amstrong yang garing..sungguh saya lelah. Kami sengaja nggak ngomong zhongwen apapun karena makin males kalo diajak ngobrol panjang lebar, kemampuan zhongwen kami belum selihai itu jadi daripada makin bikin capek. Hahaha..
Akhirnya kami sampai di Changcheng alias Greatwall! Yeay! Finally.

Kami masuk dari pintu Badaling *standar banget ya*. Dan saat itu suhu di greatwall adalah -6°C! untuk ukuran rakyat biasa yang belum pernah keluar negri pas winter cukup shock juga. Meler udah nggak usah ditanya. Saya sampai pake warm pad yang sehari sebelumnya saya beli. Penderitaan selanjutnya juga pas mau foto pake handphone dan touch screen nya nggak bisa kalo nggak pake lepas sarung tangan. Dan pas lepas sarung tangan itu rasanya kaya tangan mau mati rasa.


Senyum sambil nahan dingin


Ini asli dingin banget


Setelah puas foto-foto di greatwall, kami pergi ke summer palace. Summer palace adalah istana yang dibangun kaisar untuk Cixi, ratu yang terkenal itu. Bagusnya memang pas musim panas atau gugur dimana danaunya nggak beku. Kalau di musim winter danaunya kabarnya bisa dipakai ice skating. Nah pas kami kesana, menariknya danaunya setengah beku setengah air, seperti terihat di foto.

Danaunya setengah air setengah es

Ci Xi yang punya selera seni tinggi jaman dulu udah kepikir bikin kaca model gini yang langsung pemandangannya ke danau


Ada kakek-kakek yang tulis kaligrafi di jalanan Summer Palace. Keren



Setelah dari greatwall dan summer palace, agenda nya adalah kami akan dibawa ke toko giok dan teh. Ehm, udah tau sih pasti bakal ditawarin dan agak dipaksa untuk beli. Makanya kami udah sempet melobi si kokoh supaya balik pulang aja dengan alasan kami besok ke shanghai subuh dan belum siap-siap. Tapi si kokoh dengan kekeuh bilang mampir sebentar aja. *Yaiyalah pasti mereka udah kerjasama dan harus mampir kesana* yowes..

Pas kami di tempat giok, kami disambut Bapak usia 30 atau 40an mungkin, dan dengan sumringah menyambut serta mengajak “tour” keliling museum dan dijelasin panjang lebar tentang giok. Berdua aja sama dewi, iya, jadi berasa agak awkward, terlebih karena kami sudah tau nanti ujungnya disuruh beli jadi agak nggak terlalu antusias. Beberapa ruangan kami lewati sampai benarlah kami dibawa ke ruang pameran besar yang isinya banyak barang. Dan yang menyebalkan si bapak ini nggak pergi tapi mulai agresif nawarin untuk beli barang disitu. Saya dan Dewi menolak secara halus. Si Bapak ga menyerah, tetap membujuk beli dengan alasan ini untuk kesehatan keluarga lah, oleh oleh lah, bla blabla. Kami masih kekeuh menolak dengan bilang kami masih harus ke Shanghai besok jadi kami nggak punya uang untuk beli barang semahal itu (dan buat apaan juga). Si Bapak masih ngeyel bujuk bujuk bilang masa ngga ada sedikit aja. Karena kesal, saya ulangin lagi bahwa kami beneran nggak punya budget dan kami mau ke Shanghai, kami nggak bohong.

Puncak dari kekesalan saya, saya akhirnya bilang pake bahasa china “mei guan xi ba (nggak apa apa kan)?” dan manjur sodara-sodara! Si Bapak itu agak shock. Si Bapak langsung teralihkan dan bilang “ni keyi shuo zhongwen? (kamu bisa bahasa china?)” / “yi dian dian (sedikit2)”. Dan dia kemudian malah nanya-nanya apakah kami mahasiswa yang sekolah di Shanghai. Hahahhhaha..Jurus tadi cukup berhasil. Si bapak nggak lagi memaksa dan Cuma bilang ke kami silahkan kalo masih mau lihat lihat dan menunjukkan tempat makan siangnya nanti dimana, dia langsung pergi meninggalkan kami.

Setelah dari tempat giok, kami masih dibujuk ke tempat teh. Yaudahlahya kasihan dan ngikut aja deh. Si kokoh Toni tiba-tiba di mobil nanya kami “nimen hui shuo zhongwen ya (kalian bisa bahasa china ya)”.
Nah! Kenapa dia bisa tau? Kami bahkan sama sekali nggak ngomong zhongwen dari tadi pas sama dia. Kami langsung membayangkan mungkin si Bapak giok tadi lapor ke kokoh Toni apa yang terjadi. Dan mungkin jadi agak segan. Biarin aja.
Sampai di tempat teh, kami diantar kokoh Toni ke cici penjaga toko teh. Seperti sudah SOP nya, kami akan diajak mengikuti ritual minum teh secara singkat. Dan pas kokoh Toni mengantar kami, dia bilang ke cici itu kalo kami bisa zhongwen. Mhahahahha.. walopun kemampuan pas-pasan biarin deh biar nggak terlalu dimanfaatkan.

Singkat kata pas ritual minum teh diajarin bagaimana urutan minum teh yang anggun dan benar *sekarang sih udah lupa, Cuma inget sedikit* pokoknya dihirup dulu aroma nya sebelum diminum, dengan gerakan tangan membawa cangkir teh ke samping. Terus juga dikenalin macam-macam teh dan ngerasain beda nya. Yang aku inget banget salah satunya Pu Er Tea, yang bentuknya nggak cantik tapi ternyata itu teh yang disimpan paling lama.

Selesai dari ritual minum teh, dapat ditebak kami ditawarin beli teh. Setelah tawar-menawar *ini harus banget kalo di China* kami deal dan dikasih hadiah pee pee boy *pee pee boy ini semacam alat untuk mengukur suhu air yang pas untuk membuat teh. Konon katanya kesempurnaan teh (aroma dan rasanya) tergantung dari suhu air memasaknya, ada suhu yang pas. Nah pee pee boy ini bentuknya sinchan sedang pose *maaf* buang air kecil. Jadi kalau pee pee boy nya kita siram air, kalau suhunya pas dia akan buang air kecil, tapi kalau nggak pas ya nggak akan gitu. Lucu yaa… sayang punya saya pecah pas jatuh T_T

Pee Pee Boy
Oke, sekian bagian kali ini.


Comment welcome.

Next: Tripto Beijing-Shanghai - Day 4

















Thursday, February 19, 2015

Trip to Beijing-Shanghai - Day 4

Previous: Trip to Beijing - Shanghai - Day 3

Nahhh… di hari ke 4 ini Saya dan Dewi berpindah dari Beijing ke Shanghai dengan menggunakan High Speed Train. Kami beli yang kelas 2 harganya sekitar 1 juta kalo di-kurs-kan waktu itu. Kali ini Yovie tidak ikut ke Shanghai, jadi bener-bener Cuma saya dan Dewi. Berdua aja! Nekat? Agak sih… Hahaha… tapi kami ada menghubungi seseorang yang akan meminta rekannya untuk menjemput kami, namanya sebut saja “kokoh Yang” *sengaja disamarkan.

Tiket High Speed Train Beijing - Shanghai

Subuh-subuh kami sudah cek out dari hostel tempat kami menginap di Beijing dan berangkat ke Beijing Southway Railway Station, atau sering disebut “Beijing Nan Zhan 北京南站” aja. Tibalah saat saya dan Dewi ngebolang berdua. Berbekal agak nekat dan bahasa mandarin kami yang belepotan. Iya sih, di Zhongguo udah banyak yang bisa bahasa Inggris juga, tapi tetep mereka prefer pake Zhongwen *yaiyalah*. Di stasiun kami nunggu agak lama sampai dengan naik kereta. Pas tiba waktunya kami naik kereta.. yeay! Akhirnya nyobain juga kereta super cepat itu. Walaupun yang kami naiki sepertinya bukan pas jam yang keretanya paling cepet (kecepatannya Cuma 280 sekian, sementara katanya ada yang diatas 300).
 



Kecepatan kereta yang tertera di layar dalam gerbong





Setelah melewati beberapa kota termasuk Nanjing *kota mudiknya Shu Huan di film Kabut Cinta! * dan menghabiskan perjalanan kurang lebih 5 jam, tibalah kami di Shanghai! Kesampean juga saya menjejakkan kaki di kota tempat syutingnya film kabut cinta. Hehehe….




Kami benar dijemput oleh Kokoh Yang. Awalnya bener-bener merasa nggak enak karena ternyata dia jemput pake mobil pribadinya, padahal kata teman saya tadinya si kokoh Yang keberatan kalo jemput pake mobil karena jauh dari stasiun. Orangnya juga agak kaku dan sudah berumur, jadi kami canggung juga. Kami mengarah ke Podd Inn di dekat Hongkou Footbal Stadion yang sudah kami book sebelum kami berangkat ke Zhongguo. Tapi apa yang terjadi??? Kami ditolak saat tiba di hotel! Jrengggg….Dengan kondisi baru datang dan petugas yang sama sekali enggan berbicara Inggris, dia Cuma menolak kami dengan alasan kami adalah waiguo ren (foreign people) dan mereka nggak terima waiguo ren. Dih! Aneh! Emang sih kami belum bayar, apa karena itu? Tapi di Beijing kami lancar-lancar aja, bahkan Hostel loh levelnya. Pokoknya udah sebel banget lah sama si Podd Inn ini. Blacklist.

Si kokoh Yang juga tidak terlalu berdiplomasi, jadi setuju-setuju aja dan minta kami cari hotel lain, yang kebetulan gak jauh dari Pod Inn itu ada hotel Jinjiang Inn. Terpaksalah kami kesana. Ternyata harganya 2x lipat dan Cuma ada kamar kosong untuk 1 malam saja. Lemes? Iya. Tapi saya dan Dewi pikir “yaudah deh, sore ini sambil coba cari-cari di sekitar Nanjing Road.” Plan sore itu memang kami mau main ke daerah Nanjing Road. Okedeh, akhirnya dengan terpaksa kami book hotel yang lebih mahal itu untuk semalam, mau gimana lagi… *sambil berharap duit nya cukup, kalo nggak ya cari ATM ato pake kartu kredit.

Setelah itu kokoh Yang mengantar kami ke Nanjing Road. Nanjing Road ini mirip Orchard Road nya Singapore, tapi panjaaaaang banget. Saking Panjang jadi ada jalan West Nanjing Road sampe East Nanjing Road. Sesampainya kami di sebuah perempatan, kokoh Yang bilang ke kami bahwa di depan itu sudah jalan Nanjing Road, nggak lama dia maju dan minggir. Kami agak bingung apa mau parkir disini? Ternyata….

“Ini Nanjing Road, silakan.. Nanti kalau ada perlu apa hubungi saya.” Kata kokoh Yang.
“Oh..oke..” sambil agak bingung kami turun mobil. Loh dia nggak ikut nemenin jalan ya? Atau seenggaknya nemenin cari hotel gitu?!

Dan benar saudara-saudara… mobilnya berjalan menjauhi kami. Saya dan Dewi bengong.
Baiklah… kita ditinggal. Jadi agak nggak respek sama si kokoh Yang. Yaudahlah kalo gitu, mungkin dia juga sibuk, dan *siapa tau* agak terpaksa juga jemput dan antar kami tadi. 
Nanjing Road!

Kami mulai menyusuri jalanan Nanjing Road dengan perasan agak campur aduk, ada shock, takut juga, tapi excited juga. Ayo dong udah sampe sini dinikmati! Tapi keoptimisan kami agak luntur ketika beberapa kali mendatangi hotel yang ditemui nyaris sama:
Pertama, begitu diajak ngomong bahasa Inggris mereka langsung geleng-geleng. Oke, ganti ngomong Chinese. Tanya ada kamar kosong nggak blablabla.
Kedua, mereka bilang kamarnya penuh, dan seringnya pakai alasan yang sama juga “nggak terima foreign people” Ini kan aneh!!! Hotel apa yang nolak orang asing?
Ekstrimnya ada yang ketika kami baru ngomong “ni keyi shuo yingwen ma? (Anda bisa berbahasa Inggris?)” orang itu langsung Cuma liat kami dan jawab “Waiguo ren? “ sambil geleng-geleng dan tangannya kasih isyarat supaya kami pergi. Idih….

Sementara hari mulai gelap. Sebal dan mulai khawatir. Kami nggak mungkin sampe tengah malem disini, kan harus  balik hotel juga. Tapi kalo belum dapet hotel untuk besok, mau tidur dimana besok dan besok lusa? Kenapa jadi kaya lost in shanghai gini….
Di tengah kebingungan itu dan saat kami berjalan menyusuri jalanan Nanjing Road….
Ada seorang cewe yang minta difotoin. Setelah selesai memfotokan, dia ngajak kami ngomong zhongwen, ya kami balas. Dan dia jadi antusias lalu manggil temen-temennya. Kira-kira mereka ber-5. Salah satu dari mereka hamil. Saya masih inget banget muka-muka mereka. Lalu mereka ngajak ngobrol dan ngomoooong terus. Sampe akhirnya waktu mereka tau kita lagi cari hotel, mereka bilang mereka turis lokal dari Suzhou, mereka pelajar dan lagi cari hotel juga. Mereka ngajak bareng. Kami bilang mau cari dimana? Mereka bilang ada di belakang. Sebenernya udah kepikir juga, di sebelah mana, tadi kami udah susurin hampir semua hotel yang ada dan ditolak semua. Tapi yaudahlah barangkali mereka lebih tau secara turis lokal.

Sepanjang jalan mereka ajak ngobrol kami terus dan dengan antusias ngobrolin soal muslim di China juga. Sampai….. kita berhenti di depan sebuah bangunan. Mereka masuk kesana dan ajak kami masuk. Saya sempat lihat tulisan hanzi di toko itu yang ada tulisan “cha “ nya. Dengan zhongwen kami yang belepotan, kami cukup tau itu tempat teh. Saya nengok ke Dewi, dia kasih isyarat supaya kita nggak ikut masuk. Kami bilang ke rombongan itu bahwa kami kan mau cari hotel, kok kesini? Mereka jawab iya nanti ada di depan, sekarang kesini dulu.

Feeling mulai nggak enak, saya toleh Dewi lagi, dan Dewi bisik-bisik ke saya “Yus,, inget nggak yang di blog”. Seketika saya langsung lemes dan takut *ini beneran* kenapa?
Jadi ya guyssss… kalo ada modus begini di china, terutama shanghai dan Beijing, kalo ada yang ngaku sebagai turis dan minta diajarin bahasa inggris dan diajak minum teh, JANGAN PERNAH MAU. Itu penipuan. Kami pernah baca ini di blog orang-orang juga yang share *thanks to them*. Tapi kami awalnya nggak curiga karena mereka awalnya ngakunya pelajar *walopun kemudian ngaku turis juga* dan mereka nggak minta ajarin bahasa inggris. Jadi kami nggak sadar.
Dengan deg-degan dan sebenernya kaki udah lemes, kami menolak bilang “bu yong.. bu yong.. zaijian.. (nggak usah… goodbye..)” dan untung banget Alhamdulillah Ya Alloh, mereka Cuma ketawa dan ngangguk!! Nggak kebayang kalo tiba-tiba mereka berubah ekspresinya jadi galak dan maksa kami! Hiiiiiii,…..

Sontak refleks saya sama Dewi langsung balik badan, pegangan tangan, jalan cepet, dan lariiiiii!! *ini bener-bener lari. Lari sekenceng-kencengnya* Padahal waktu itu kondisi kaki saya lagi sakit tapi udah nggak berasa lagi. Yang ada di pikiran kami Cuma sejauh-jauhnya meninggalkan rombongan itu. Jangan noleh ke belakang, pokoknya lari. Sejauh-jauhnya, kalo bisa cepetan ke stasiun naik MRT, biar mereka nggak ngejar. Untungnya mereka nggak ngejar……………

Asli rasanya itu udah kaya di film-film banget. Dengan dramatis nya kami pegangan tangan dan bilang “kita Cuma berdua disini. Kita nggak boleh pisah. Kemana-mana harus berdua. Sekarang kita lari. Astaghfirullah… kita saling ingetin ya. Kalo ada kejadian kaya tadi saling ingetin!” perasaan kami nggak bisa digambarkan waktu itu. Takut? Iya. Banget!!

Setelah kami meyakini bahwa kami nggak dikejar rombongan tadi, kami duduk sebentar di bangku pinggir jalan. Baru deh kaki saya kerasa sakit. Sambil mikir gimana nasibnya kami, mau cari hotel kemana lagi, akhirnya kami terpikir satu cara terakhir.

Jadi, sebelum saya berangkat ke Zhongguo, waktu saya minta ijin cuti ke bos saya, bos saya sempat bilang agar saya ngabarin cabang kantor saya yang di Shanghai, bilang saya mau kesana. Awalnya saya sempat nggak enak, kan saya perginya pribadi, bukan urusan kantor, nanti malah ngerepotin atau apa. Tapi bos saya bilang waktu itu nggak apa-apa, kalo ada apa-apa kan ada yang dihubungi. Semacam firasat gitu ya.. beneran ada apa-apa..hahaha…
Setelah itu saya akhirnya kontak dengan salah seorang Manager di kantor cabang Shanghai, cerita kalau saya mau ke Shanghai. Dan saya berencana mampir kesana di sela trip saya di Shanghai.

Tak disangka ternyata di Shanghai mengalami pengalaman tak terlupakan ini, akhirnya saya kontaklah Pak Manager ini, namanya Pak Ucok. Saya ceritakan bahwa saya sudah tiba di Shanghai dan saya ceritakan kejadian ditolak hotel tersebut. Kami mohon bantuan Beliau terkait alternatif penginapan yang bisa kami cari. Akhirnya dengan baik hati Pak Ucok bilang akan mengecek dan mengabari. Cukup lega, kami memutuskan untuk kembali ke hotel karena hari itu sudah malam, kami lanjut jalan kaki ke stasiun MRT.

Nah, pas kami mau beli tiket MRT, ada keanehan lagi yang terjadi. Mesin tempat kami beli tiket nggak mau ambil uang dan mengeluarkan tiket. Tiba-tiba ada yang menepuk bahu kami dari belakang. Kami menoleh. Ada kokoh kokoh berusia mungkin 30an yang tiba-tiba tangannya menyuruh kami agak minggir dan mengintervensi mesin tiket itu. Dia ngapain?! Pikir kami.
Tanpa banyak bicara dan menggunakan bahasa isyarat, dia minta uang kertas yang kami pegang, agak takut kami kasih. Dan ternyata dia ganti dengan uang koinnya untuk ke mesin itu. *saya agak lupa detailnya tapi intinya ternyata dia bantuin kami untuk beli tiket MRT di mesin itu! Harusnya ada pecahan uang tertentu yang nggak bisa digunakan kalau beli tiket lewat mesin. Kami akhirnya sadar kalau dia bantuin kami. Tapi karena masih trauma dengan peristiwa barusan dimana hampir ditipu orang, saya dan Dewi saling lirik dan bilang “kok dia baik banget?! Orang ini siapa kok baik banget?! Dia komplotannya rombongan tadi bukan?!” karena curiga, akhirnya kami bilang bahwa kami udah ngerti cara beli tiketnya dan bisa melanjutkan sendiri sambil bilang terima kasih. Tapi si kokoh itu tetep kekeuh nungguin sampe tiketnya bener-bener kami pegang fisiknya. Setelah itu kami bilang terima kasih lagi sambil masih dengan pikiran curiga buru-buru pergi.
“Kita jangan naik MRT nya dulu. Siapa tau si orang itu mau ngikutin kita. Biarin dia pergi dulu. Gimana..?” / “ya..ya..”
Sampai akhirnya si kokoh ternyata beneran pergi dan kami sadar dia bukan orang jahat, beneran niatnya bantuin kami :DD Alhamdulillah.. Maaf Ya Alloh kami jadi suuzon…


Akhirnya kami naik MRT menuju hotel. Turun dari stasiun MRT kami sempat agak bingung menemukan hotel kami. Yaiya,tadi kan dari hotelnya dianter kokoh Yang. -.-“  Begitu di ujung jalan ada kantor yang tulisannya semacam English club gitu kami langsung bahagia, kami akhirnya kesana tanya arah hotel kami. Mungkin mas bule yang kami tanya dan beberapa bule disitu bingung liat kami, ini dua anak ilang dari mana sih…….

Setelah sampai hotel, kami berasa lega dan masih nggak habis pikir dengan kejadian menegangkan yang kami alami tadi. Nggak berapa lama, Pak Ucok menghubungi kami dan menawarkan untuk tinggal di rumah salah satu Manager untuk dua malam berikutnya. Subhanalloh.. Alhamdulillah… ya mau lah kalo nggak merepotkan. Terharu banget. Alhamdulillah akhirnya malah ditawarin tebengan nginep di apartemennya Ibu Manager itu. Thanks banget Pak Ucok dan Mbak Nola…
Akhirnya kami beneran akan ke cabang kantor saya di Shanghai keesokan harinya. Yang tadinya memang rencana mampir untuk berkunjung, eh jadi beneran mampir untuk berkunjung dan untuk merepotkan.. Hehehehe…


To be continued….




*special thanks untuk Pak Ucok, Mbak Nola, Pak Pohlam, Mas Denis, dan rekan-rekan di Cabang Shanghai yang sudah membantu dua anak hilang yang lost in Shanghai ini J

Trip to Beijing-Shanghai - Day 3

Nggak terasa udah tepat setahun lalu saya dan teman saya pergi ke Zhongguo. Kesulitan move on gara-gara tetiba inget momen pergi ke zhongguo ini kembali menyemangati saya melanjutkan tulisan di blog yang udah lama banget nggak update. Jam 11 malam.. oke nggak papa.. keburu hilang moodnya kalo nggak buru-buru ditulis..hahaha..~

Jadi hari ketiga ini saya dan Dewi pengalaman yang cukup seru. Plan kami adalah ke Yiheyuan (Summer Palace) dan apalagi kalo bukan Great Wall yang jadi mascot itu! Pagi-pagi kami telat bangun, begitu bangun langsung gradak gruduk dan ternyata si kokoh guide sudah menunggu di ruang tunggu hostel. Ohya, khusus untuk greatwall + summer palace ini kami memutuskan pakai tur lokal dengan pertimbangan efisiensi waktu dan biaya. Greatwall itu jauh bo..udah hampir di luar kota Beijing. Kami udah book dari jauh hari sebelum tiba di Zhongguo.

Nah, waktu saya dan Dewi bertemu dengan si kokoh yang memperkenalkan diri bernama Toni itu, kami langsung menuju ke kendaraan. Si kokoh Toni ini berbahasa Inggris yang…ya..gitu deh. Inggris saya emang nggak expert, tapi kalo denger si kokoh ini ngomong Inggris pokoknya harus extra konsentrasi.Hehehehe..
*sayangnya nggak ada foto bareng kokoh Toni*

Akhirnya kami sampai di ujung jalan. Celingukan cari bis turnya, ternyata yang nyamperin kita malah sedan. Loh..?? kita tur grup kan? Ternyata kokoh Toni menjelaskan kalo peserta tur hari itu Cuma kita berdua, jadi cukup pake mobil. Saya sempet lirik-lirikan sama Dewi, agak takut diculik…tapi..yaudahlahya, khusnudzon aja. Sepanjang perjalanan ke Greatwall, kokoh Toni banyak cerita *ya secara dia guide nya*, tapi dengan extra konsentrasi jadi agak capek juga dengerinnya *maaf koh*, dan dengan teganya Dewi membiarkan saya yang terus-terusan ngobrol dengan si kokoh. Diselingi tebakan-tebakan yang diberikan seputar neil amstrong yang garing..sungguh saya lelah. Kami sengaja nggak ngomong zhongwen apapun karena makin males kalo diajak ngobrol panjang lebar, kemampuan zhongwen kami belum selihai itu jadi daripada makin bikin capek. Hahaha..
Akhirnya kami sampai di Changcheng alias Greatwall! Yeay! Finally.

Kami masuk dari pintu Badaling *standar banget ya*. Dan saat itu suhu di greatwall adalah -6°C! untuk ukuran rakyat biasa yang belum pernah keluar negri pas winter cukup shock juga. Meler udah nggak usah ditanya. Saya sampai pake warm pad yang sehari sebelumnya saya beli. Penderitaan selanjutnya juga pas mau foto pake handphone dan touch screen nya nggak bisa kalo nggak pake lepas sarung tangan. Dan pas lepas sarung tangan itu rasanya kaya tangan mau mati rasa.


Senyum sambil nahan dingin


Ini asli dingin banget


Setelah puas foto-foto di greatwall, kami pergi ke summer palace. Summer palace adalah istana yang dibangun kaisar untuk Cixi, ratu yang terkenal itu. Bagusnya memang pas musim panas atau gugur dimana danaunya nggak beku. Kalau di musim winter danaunya kabarnya bisa dipakai ice skating. Nah pas kami kesana, menariknya danaunya setengah beku setengah air, seperti terihat di foto.

Danaunya setengah air setengah es

Ci Xi yang punya selera seni tinggi jaman dulu udah kepikir bikin kaca model gini yang langsung pemandangannya ke danau


Ada kakek-kakek yang tulis kaligrafi di jalanan Summer Palace. Keren



Setelah dari greatwall dan summer palace, agenda nya adalah kami akan dibawa ke toko giok dan teh. Ehm, udah tau sih pasti bakal ditawarin dan agak dipaksa untuk beli. Makanya kami udah sempet melobi si kokoh supaya balik pulang aja dengan alasan kami besok ke shanghai subuh dan belum siap-siap. Tapi si kokoh dengan kekeuh bilang mampir sebentar aja. *Yaiyalah pasti mereka udah kerjasama dan harus mampir kesana* yowes..

Pas kami di tempat giok, kami disambut Bapak usia 30 atau 40an mungkin, dan dengan sumringah menyambut serta mengajak “tour” keliling museum dan dijelasin panjang lebar tentang giok. Berdua aja sama dewi, iya, jadi berasa agak awkward, terlebih karena kami sudah tau nanti ujungnya disuruh beli jadi agak nggak terlalu antusias. Beberapa ruangan kami lewati sampai benarlah kami dibawa ke ruang pameran besar yang isinya banyak barang. Dan yang menyebalkan si bapak ini nggak pergi tapi mulai agresif nawarin untuk beli barang disitu. Saya dan Dewi menolak secara halus. Si Bapak ga menyerah, tetap membujuk beli dengan alasan ini untuk kesehatan keluarga lah, oleh oleh lah, bla blabla. Kami masih kekeuh menolak dengan bilang kami masih harus ke Shanghai besok jadi kami nggak punya uang untuk beli barang semahal itu (dan buat apaan juga). Si Bapak masih ngeyel bujuk bujuk bilang masa ngga ada sedikit aja. Karena kesal, saya ulangin lagi bahwa kami beneran nggak punya budget dan kami mau ke Shanghai, kami nggak bohong.

Puncak dari kekesalan saya, saya akhirnya bilang pake bahasa china “mei guan xi ba (nggak apa apa kan)?” dan manjur sodara-sodara! Si Bapak itu agak shock. Si Bapak langsung teralihkan dan bilang “ni keyi shuo zhongwen? (kamu bisa bahasa china?)” / “yi dian dian (sedikit2)”. Dan dia kemudian malah nanya-nanya apakah kami mahasiswa yang sekolah di Shanghai. Hahahhhaha..Jurus tadi cukup berhasil. Si bapak nggak lagi memaksa dan Cuma bilang ke kami silahkan kalo masih mau lihat lihat dan menunjukkan tempat makan siangnya nanti dimana, dia langsung pergi meninggalkan kami.

Setelah dari tempat giok, kami masih dibujuk ke tempat teh. Yaudahlahya kasihan dan ngikut aja deh. Si kokoh Toni tiba-tiba di mobil nanya kami “nimen hui shuo zhongwen ya (kalian bisa bahasa china ya)”.
Nah! Kenapa dia bisa tau? Kami bahkan sama sekali nggak ngomong zhongwen dari tadi pas sama dia. Kami langsung membayangkan mungkin si Bapak giok tadi lapor ke kokoh Toni apa yang terjadi. Dan mungkin jadi agak segan. Biarin aja.
Sampai di tempat teh, kami diantar kokoh Toni ke cici penjaga toko teh. Seperti sudah SOP nya, kami akan diajak mengikuti ritual minum teh secara singkat. Dan pas kokoh Toni mengantar kami, dia bilang ke cici itu kalo kami bisa zhongwen. Mhahahahha.. walopun kemampuan pas-pasan biarin deh biar nggak terlalu dimanfaatkan.

Singkat kata pas ritual minum teh diajarin bagaimana urutan minum teh yang anggun dan benar *sekarang sih udah lupa, Cuma inget sedikit* pokoknya dihirup dulu aroma nya sebelum diminum, dengan gerakan tangan membawa cangkir teh ke samping. Terus juga dikenalin macam-macam teh dan ngerasain beda nya. Yang aku inget banget salah satunya Pu Er Tea, yang bentuknya nggak cantik tapi ternyata itu teh yang disimpan paling lama.

Selesai dari ritual minum teh, dapat ditebak kami ditawarin beli teh. Setelah tawar-menawar *ini harus banget kalo di China* kami deal dan dikasih hadiah pee pee boy *pee pee boy ini semacam alat untuk mengukur suhu air yang pas untuk membuat teh. Konon katanya kesempurnaan teh (aroma dan rasanya) tergantung dari suhu air memasaknya, ada suhu yang pas. Nah pee pee boy ini bentuknya sinchan sedang pose *maaf* buang air kecil. Jadi kalau pee pee boy nya kita siram air, kalau suhunya pas dia akan buang air kecil, tapi kalau nggak pas ya nggak akan gitu. Lucu yaa… sayang punya saya pecah pas jatuh T_T

Pee Pee Boy
Oke, sekian bagian kali ini.


Comment welcome.

Next: Tripto Beijing-Shanghai - Day 4

















 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates