Tuesday, November 26, 2013

Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 2)

Melanjutkan posting sebelumnya, kali ini masih di hari kedua tapi spesifik tentang Ramayana. Salah satu tujuan yang udah terpatri di benak saya waktu ke Jogja adalah : Harus Nonton Ramayana!!!
Kisah Ramayana pasti udah banyak yang tau yaa.. intinya tentang cerita Rama dan Shinta, saya mulai suka banget sama ceritanya pas beberapa bulan lalu baca versinya Tere Liye yang mengharu biru. Dan saya suka sekali kisah ini yang mengandung muatan pembelajaran tentang kepercayaan dan kesetiaan.

Turis Bule
Oke, awalnya cuma tau tari ini dipentaskan di Candi Prambanan. Tapi ternyata ada juga di Purawisata Jogjakarta. Kita sempat bingung mau di Prambanan atau Purawisata, sebenernya kalau di Candi Prambanan dapet yang outdoor dengan latar candi prambanan itu bakal oke banget, tapi sayangnya bulan-bulan segini yang rentan hujan katanya pertunjukan di Prambanan jadi indoor. Setelah dipikir-pikir ditimbang-timbang, kalo sama-sama indoor mah mending di Purawisata aja deh, lebih deket juga. Jadilah kita ke Purawisata Jogjakarta di Jl.Brigdjen Katamso. Pas sampai sana ternyata pertunjukannya bisa dibilang outdoor juga, karena “open air” begitu loh, ga ada atapnya. Menariknya, kita udah dateng dari jam 7 sementara pertunjukan mulai jam 8 malem, jadi masih sempat foto-foto dan duduk-duduk, bangku di depan ternyata udah reserved by tourist semua hahahahahha. Cool!

Turis China

Alhasil saya dan Muti milih duduk di barisan paling belakang aja, toh tetap kelihatan karena model bangkunya kaya bioskop gitu, malah bisa senderan =P.

Ki-ka : Rama, Shinta, Lesmana
Di sebelah saya ternyata seorang ibu dari Surabaya yang dateng ke Jogja bersama suaminya. Ibu itu nanya saya darimana, dan nanya “suka nonton wayang orang ya mbak?” :)) Saya bilang baru sekali itu, kebetulan suka sama Ramayana, jadi pengen nonton sendratarinya. Ternyata suami ibu itu suka wayang orang dan mereka sampe bisa membedakan mana gerakan wayang yang biasa nari atau enggak (wowww). Sepanjang nonton pun mereka suka ngebahas berdua tentang cerita atopun penarinya.

Inti cerita Ramayana adalah kisah cinta Rama dan Shinta yang diuji waktu Shinta diculik raksasa bernama Rahwana. Cerita pun berlanjut dengan perjuangan Rama menyelamatkan Shinta dibantu Hanoman. Adalah Lesmana, adik Rama, yang setia bangetttt sama kakaknya, menemani dia dan Shinta ketika mereka diasingkan di hutan, membantu Rama merebut Shinta
Shinta diculik Rahwana
 dalam perang. And I’m falling in love with this character instead of the main character (Rama). Hahaha~


Perang Rama & Rahwana
Setelah berhasil diselamatkan, Rama justru curiga dengan kesucian Shinta apakah dia bisa menjaga diri selama ditawan si Rahwana, sampai menyuruh Shinta membuktikan dengan loncat ke dalam api suci. Terbukti Shinta nggak terbakar, baru deh Rama percaya Shinta lagi. Kalau di sendratari cerita habis disitu, tapi yang versi Tere Liye masih ada lanjutannya kecurigaan Rama sampai Shinta yang melahirkan anak dari Rama diusir dan akhirnya tragis :’(

Sedikit membahas si tokoh Lesmana yang saya suka tadi, Lesmana ini dikisahkan adik bungsunya Rama dan dia setia banget sama kakaknya, bayangin aja “ngintilin” kakaknya kemana-mana walaupun kakaknya udah menikah. Terus juga digambarkan dia sosok yang baik hati dan lembut. Waktu di hutan, sebelum Shinta diculik Rahwana, Lesmana disuruh menjaga Shinta karena Rama lagi mengejar kijang untuk Shinta, dengan setia Lesmana menjaga Shinta. Waktu kijang yang dikejar Rama itu ternyata suruhan Rahwana dan teriak menirukan suara rama sampai Shinta terkecoh dan menyuruh Lesmana menyusul kakaknya, Lesmana pun awalnya enggan. Tapi Shinta yang curiga bilang Lesmana sengaja mau membiarkan kakaknya mati, biar kalau dia jadi janda lantas Lesmana bisa memperistri dia (aduh please deh Shinta… -.-) Lesmana akhirnya menuruti Shinta mencari Rama dan memberi lingkaran perlindungan untuk Shinta. Walaupun akhirnya Shinta terkecoh dan diculik Rahwana juga -.-“ Dalam membantu kakaknya perang dengan Rahwana, Lesmana berhasil memanah Indrajit, salah satu tangan kanannya Rahwana.
Lesmana
Waktu di sendratari ini, pemeran Lesmana nya juga cakep pake banget. Hahahah~ Cakepnya agak versi oriental-oriental gitu sih kayanya, nih kalo nggak percaya *kasih bukti foto*. Gimana TJAKEP KAN. =P Dibandingkan pemeran Rama, cakepan Mas Lesmana ini :D
Kata Muti konon si Lesmana ini memang kerap diperankan oleh laki-laki yang cakep, mungkin sesuai dengan karakter ceritanya juga.



Hanoman dikelilingi api
Dalam cerita juga yang mengagumkan adalah aksi Hanoman yang lolos dari api. Apinya pake api beneran loh, dan dia bener-bener atraksi guling-guling di api. Langsung mikir “wow… pemeran Hanomannya bisa debus!”
Shinta Obong
Waktu adegan Shinta obong (Shinta masuk ke api suci) kita becandaan bilang “jangan bilang si Shinta juga bisa debus.. AHahaha” ga lucu banget kalo dia bisa debus buat apa pake ada acara penyelamatan dan peperangan heboh ini.


Ki-ka: Rahwana,Rama,Shinta,Saya,Lesmana,Hanoman
Setelah nonton selama 1,5 jam, saya beruntung bisa foto bareng pemainnya.. dan posisinya di sebelah *uhuk* Lesmana dan Shinta. Hahahaha..
Overall saya sukaaaa sama cerita Ramayana ini. And I’m still willing to re-watch it next time I go to Jogja! Ternyata Muti pun berpikiran sama, masih mau nonton si Ramayana ini. I just love love love the story (and Lesmana) :))


Jam setengah sepuluh malam akhirnya kita langsung balik ke hotel dan berakhirlah ngebolang satu hari itu untuk lanjut besoknya ke Keraton.


Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 1)

Dan tibalah hari kami mau nge-bolang. Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke, jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.


Setelah dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang katanya itu jamu awet muda. Hehehe~

Secara singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha

Ada beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu, Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.

Kemudian ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.

Pakubuwono XII jaman muda
Kemudian ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya adalah BRM Suryo Guritno atau lebih dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan di internet ini.
Saya coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945, karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan” kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan, tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)

Selanjutnya Putri Tinneke yang merupakan saudara Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah  GRAj Koes Sapariyam. Di Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget (jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh.. menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang kalau itu dilakukan jaman sekarang.

Tokoh lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil dari internet yaa..
Dan beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul (gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum ada ruang khusus Putri Dambaan yang isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
Pintu Masuk Ullen Sentalu
Pintu Keluar Ullen Sentalu
Masih banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong disini. Hehehe


Dari Kalimilk tadinya kita mau ke Raminten ternyata penuh banget, apalagi malam minggu. Alhasil kita merubah haluan mampir ke Bakmi Jawa Kadin dulu sebelum siap-siap nonton Ramayana. Yeay!

Web Pendukung:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg
2. www.ullensentalu.com
3. http://fitri2boys2.blogspot.com/2013/08/museum-ullen-sentalu-kaliurang.html
4. http://primbondonit.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

Fall in Love with Jogja - Day 1

Assalamualaikum dan Haii...

Setelah sekian lama nggak nge-blog, saya coba nulis lagi. Well, menulis sebenernya adalah salah satu hobi saya. Oke, sekarang saya akan sharing weekend saya di Jogja kemarin. Basi ya? Mudah-mudahan enggak ya..hahaha. dan mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit menunjukkan keindahan Indonesia. Amin..

Weekend kemarin saya ke Jogja, tepatnya berangkat Jumat (22 November 13) sore, dan pulang ke Jakarta lagi hari Senin (25 November 13) pagi. Trip ke jogja kali ini juga jadi ajang nyobain maskapai yang belum pernah saya coba. Hahaha~

Dimulai hari jumat sore, saya berangkat naik Citilink yang sampai Jogja sekitar jam setengah enam sore. Alasan pertama karena citilink cuma satu itu doang jadwalnya, dan pas dengan jadwal teman (guide) saya di Jogja pulang kantor.
Si Pink


Setelah si pink terkemas rapi, I’m ready to gooooo!

Sampai di Jogja, kami langsung ke Hotel Dafam Fortuna di Jl.Dagen Malioboro. Kenapa saya pilih hotel ini? Karena waktu itu lagi liat diskon di booking.com, ada yang lebih murah sih kata temen saya, tapi pertimbangan kedua karena ayah saya belum lama nginep disini katanya hotel baru jadinya enak, okedeh saya ngikut (dasar ga mau ribet :p ). Dari bandara ke Malioboro kami putuskan naik taksi rajawali, si taksi bandara dengan tarif Rp.60.000,-


Setelah check in di hotel, selonjoran sebentar, kita langsung ke tempat tujuan pertama: makan dan karaoke (iya iya, karaoke mah gak harus jauh jauh ke Jogja, ini lebih kearah udah lama banget kita berdua gak karokean bareng). Karaoke di Happy Puppy nya Yogya Tronik yang ternyata sekarang udah touch screen, dan makan di Bakso sekitar Yogya Tronik (lupa nama baksonya, tapi enak deh, ada bakso keju, bakso ranjau, bakso puyuh).
Selesai makan dan karaoke, iseng saya kontak teman kantor saya yang ternyata lagi dinas di Jogja. Dasar random ya, bisa ketemu disana gak janjian dan untuk misi yang berbeda. Haha~

Tapi karena hari sudah malam dan bingung mau kemana jadi kami memutuskan besok aja janjian jalan-jalan, karena kita punya tempat yang sama-sama ingin dikunjungi: Museum Ullen Sentalu. Setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, saya dan teman saya (oh ya, namanya Muti), kami memutuskan untuk charter si taksi rajawali tadi untuk esok hari. Sebelumnya udah sempat tanya-tanya harga, ternyata bisa carter dengan tariff Rp.70.000 per jam atau Rp.500.000 per 12 jam. Karena mikir sekalian mau silaturahim ke tempat saudara saya (yang mana juga belum pernah saya sambangi sebelumnya jadi gak tau alamatnya), dan malamnya kami berencana nonton Ramayana, jadilah kami memutuskan carter 12 jam besok. Mahalkah hitungan tarifnya? Jujur karena soal carter mencarter ini agak dadakan dan dari hasil browsing kami sekilas kayanya kalo carter mobil biasa juga gak jauh beda, kami memutuskan yang pasti-pasti aja.

Jadilah malam itu kami pulang ke hotel nggak sabar menunggu esok hari…


Tuesday, November 26, 2013

Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 2)

Melanjutkan posting sebelumnya, kali ini masih di hari kedua tapi spesifik tentang Ramayana. Salah satu tujuan yang udah terpatri di benak saya waktu ke Jogja adalah : Harus Nonton Ramayana!!!
Kisah Ramayana pasti udah banyak yang tau yaa.. intinya tentang cerita Rama dan Shinta, saya mulai suka banget sama ceritanya pas beberapa bulan lalu baca versinya Tere Liye yang mengharu biru. Dan saya suka sekali kisah ini yang mengandung muatan pembelajaran tentang kepercayaan dan kesetiaan.

Turis Bule
Oke, awalnya cuma tau tari ini dipentaskan di Candi Prambanan. Tapi ternyata ada juga di Purawisata Jogjakarta. Kita sempat bingung mau di Prambanan atau Purawisata, sebenernya kalau di Candi Prambanan dapet yang outdoor dengan latar candi prambanan itu bakal oke banget, tapi sayangnya bulan-bulan segini yang rentan hujan katanya pertunjukan di Prambanan jadi indoor. Setelah dipikir-pikir ditimbang-timbang, kalo sama-sama indoor mah mending di Purawisata aja deh, lebih deket juga. Jadilah kita ke Purawisata Jogjakarta di Jl.Brigdjen Katamso. Pas sampai sana ternyata pertunjukannya bisa dibilang outdoor juga, karena “open air” begitu loh, ga ada atapnya. Menariknya, kita udah dateng dari jam 7 sementara pertunjukan mulai jam 8 malem, jadi masih sempat foto-foto dan duduk-duduk, bangku di depan ternyata udah reserved by tourist semua hahahahahha. Cool!

Turis China

Alhasil saya dan Muti milih duduk di barisan paling belakang aja, toh tetap kelihatan karena model bangkunya kaya bioskop gitu, malah bisa senderan =P.

Ki-ka : Rama, Shinta, Lesmana
Di sebelah saya ternyata seorang ibu dari Surabaya yang dateng ke Jogja bersama suaminya. Ibu itu nanya saya darimana, dan nanya “suka nonton wayang orang ya mbak?” :)) Saya bilang baru sekali itu, kebetulan suka sama Ramayana, jadi pengen nonton sendratarinya. Ternyata suami ibu itu suka wayang orang dan mereka sampe bisa membedakan mana gerakan wayang yang biasa nari atau enggak (wowww). Sepanjang nonton pun mereka suka ngebahas berdua tentang cerita atopun penarinya.

Inti cerita Ramayana adalah kisah cinta Rama dan Shinta yang diuji waktu Shinta diculik raksasa bernama Rahwana. Cerita pun berlanjut dengan perjuangan Rama menyelamatkan Shinta dibantu Hanoman. Adalah Lesmana, adik Rama, yang setia bangetttt sama kakaknya, menemani dia dan Shinta ketika mereka diasingkan di hutan, membantu Rama merebut Shinta
Shinta diculik Rahwana
 dalam perang. And I’m falling in love with this character instead of the main character (Rama). Hahaha~


Perang Rama & Rahwana
Setelah berhasil diselamatkan, Rama justru curiga dengan kesucian Shinta apakah dia bisa menjaga diri selama ditawan si Rahwana, sampai menyuruh Shinta membuktikan dengan loncat ke dalam api suci. Terbukti Shinta nggak terbakar, baru deh Rama percaya Shinta lagi. Kalau di sendratari cerita habis disitu, tapi yang versi Tere Liye masih ada lanjutannya kecurigaan Rama sampai Shinta yang melahirkan anak dari Rama diusir dan akhirnya tragis :’(

Sedikit membahas si tokoh Lesmana yang saya suka tadi, Lesmana ini dikisahkan adik bungsunya Rama dan dia setia banget sama kakaknya, bayangin aja “ngintilin” kakaknya kemana-mana walaupun kakaknya udah menikah. Terus juga digambarkan dia sosok yang baik hati dan lembut. Waktu di hutan, sebelum Shinta diculik Rahwana, Lesmana disuruh menjaga Shinta karena Rama lagi mengejar kijang untuk Shinta, dengan setia Lesmana menjaga Shinta. Waktu kijang yang dikejar Rama itu ternyata suruhan Rahwana dan teriak menirukan suara rama sampai Shinta terkecoh dan menyuruh Lesmana menyusul kakaknya, Lesmana pun awalnya enggan. Tapi Shinta yang curiga bilang Lesmana sengaja mau membiarkan kakaknya mati, biar kalau dia jadi janda lantas Lesmana bisa memperistri dia (aduh please deh Shinta… -.-) Lesmana akhirnya menuruti Shinta mencari Rama dan memberi lingkaran perlindungan untuk Shinta. Walaupun akhirnya Shinta terkecoh dan diculik Rahwana juga -.-“ Dalam membantu kakaknya perang dengan Rahwana, Lesmana berhasil memanah Indrajit, salah satu tangan kanannya Rahwana.
Lesmana
Waktu di sendratari ini, pemeran Lesmana nya juga cakep pake banget. Hahahah~ Cakepnya agak versi oriental-oriental gitu sih kayanya, nih kalo nggak percaya *kasih bukti foto*. Gimana TJAKEP KAN. =P Dibandingkan pemeran Rama, cakepan Mas Lesmana ini :D
Kata Muti konon si Lesmana ini memang kerap diperankan oleh laki-laki yang cakep, mungkin sesuai dengan karakter ceritanya juga.



Hanoman dikelilingi api
Dalam cerita juga yang mengagumkan adalah aksi Hanoman yang lolos dari api. Apinya pake api beneran loh, dan dia bener-bener atraksi guling-guling di api. Langsung mikir “wow… pemeran Hanomannya bisa debus!”
Shinta Obong
Waktu adegan Shinta obong (Shinta masuk ke api suci) kita becandaan bilang “jangan bilang si Shinta juga bisa debus.. AHahaha” ga lucu banget kalo dia bisa debus buat apa pake ada acara penyelamatan dan peperangan heboh ini.


Ki-ka: Rahwana,Rama,Shinta,Saya,Lesmana,Hanoman
Setelah nonton selama 1,5 jam, saya beruntung bisa foto bareng pemainnya.. dan posisinya di sebelah *uhuk* Lesmana dan Shinta. Hahahaha..
Overall saya sukaaaa sama cerita Ramayana ini. And I’m still willing to re-watch it next time I go to Jogja! Ternyata Muti pun berpikiran sama, masih mau nonton si Ramayana ini. I just love love love the story (and Lesmana) :))


Jam setengah sepuluh malam akhirnya kita langsung balik ke hotel dan berakhirlah ngebolang satu hari itu untuk lanjut besoknya ke Keraton.


Fall in Love with Jogja – Day 2 (part 1)

Dan tibalah hari kami mau nge-bolang. Plan kita hari ini adalah : Kosan Muti (nengokin si Afika, kucingnya) – Silaturahim ke rumah Saudara – Ullen Sentalu – Kalimilk – Nonton Ramayana.
Oke, jam 10.00 (bahkan kurang), si bapak driver taksi sudah siap di depan. Tujuan pertama adalah kosan si Muti nengokin kucingnya si Afika. Kucing itu peka loh, terbukti waktu kita dateng dan si Muti manggil, dengan sigap dia lari dan nongol di jendela. Si Afika ini konon katanya juga pernah menang juara 2 domestic cat show gitu. Ahaha..congrats yaa.. ini foto si Afika kucing cantik.


Setelah dari kosan Muti dan (akhirnya) berhasil menemukan alamat saudara saya, kita lanjut trip ke tempat yang sudah kita tunggu2: Museum Ullen Sentalu. Museum ini bagus banget, setidaknya menurut saya ya. Isi museum ini tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah Keraton Yogya dan Solo. Sayangnya nggak diperbolehkan ambil foto didalam museum, jadi yang penasaran silahkan kunjungi yaa.. atau bisa buka web nya www.ullensentalu.com. untuk wisatawan domestic kaya kita, harga tiket masuknya Rp.30.000. Harga tiket segitu menurut saya worth it banget dengan wawasan yang didapat, udah termasuk jasa guide yang sangat hapal dan pinter menjelaskan isi museum. Ohiya, plus minuman juga yang katanya itu jamu awet muda. Hehehe~

Secara singkat di Ullen Sentalu kita dijelasin silsilah keraton mulai dari Raja Mataram sampai terpecah jadi dua kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta (CMIIW, agak takut juga sih nih nulis sejarah secara pengetahuan masih cetek). Salah seorang Bapak di tim tur kami malah pengen minta silsilahnya itu ada yang bisa dibawa pulang nggak, kayanya buat anaknya ya. Dan si anak manggut-manggut waktu diceritain sejarah tsb sama si mbak guide nya. Mungkin inget pelajaran sejarah di sekolah ya Dek..haha

Ada beberapa hal yang menarik minat saya di museum ini, dan gara-gara kunjungan kesini saya jadi browsing sedikit banyak sejarah keraton. Yang pertama tentang Pakubuwono X yang konon katanya merupakan orang terkaya di Jawa pada masa itu, Dikisahkan dalam foto dan lukisan bahwa sang raja dulunya kurus dan sengaja menggemukkan badan agar bajunya mampu menampung semua lencana/badge kehormatan yang dimilikinya. Bener sih, di foto (yang lagi-lagi sayang nya nggak boleh ambil foto waktu disana) emang bener-bener keliatan bedanya.

Kemudian ada Ratu yang saya lupa namanya yang bisa main piano dan bahkan mengharuskan tiap cucunya untuk belajar piano. Konon katanya sang Ratu suka randomly nunjuk salah seorang cucunya untuk memainkan piano di acara tertentu.

Pakubuwono XII jaman muda
Kemudian ada Pangeran Bobby dan Putri Tinneke. Namanya nggak Indonesia banget ya? Hehe, iya, nama aslinya adalah BRM Suryo Guritno atau lebih dikenal dengan Pakubuwono XII. Beliau ini ganteng lhoo.. lihat aja salah satu dokumentasi yang berhasil saya temukan di internet ini.
Saya coba cari lagi nggak nemu, kalau di museum itu ada beberapa fotonya sang Pangeran jaman remaja yang mana gantengggg dan saya yakin kalo jaman sekarang itu mungkin kaya Pangeran William gitu ya :p
Pangeran ini dipanggil Bobby oleh teman-teman Belandanya. Sang pangeran diangkat jadi raja dalam usia yang masih sangat muda, sekitar 20-21 tahun pada tahun 1945, karena Bapaknya Pakubuwono XI meninggal dunia. Karena usianya yang masih sangat muda, dia sering didampingi ibunya dalam memerintah. Walaupun kadang di beberapa tulisan menyebutkan kekuasaan Raja ini bagai Kerajaan yang “kehilangan” kekuasaannya karena pada jaman itu Indonesia merdeka dan punya pemerintahan, tapi nggak mengurangi kiprah beliau dalam membangun Indonesia. Banyak yang sudah beliau sumbangkan untuk mendukung NKRI. Oke, kayanya kalo saya bahas kiprah beliau nanti satu postingan ini isinya Beliau semua. Jadi silakan browsing sendiri ya lebih lanjut kiprah Beliau :)

Selanjutnya Putri Tinneke yang merupakan saudara Pangeran Bobby, nama asli Beliau adalah  GRAj Koes Sapariyam. Di Museum ini sampai ada satu ruangan khusus yang bernama Bilik Syair Tineke. Isi ruangan tersebut adalah kumpulan Puisi-puisi yang ditulis oleh sahabat dan keluarga Putri Tineke untuk menghibur hati beliau yang konon katanya patah hati karena cintanya pada seorang pemuda tidak direstui Ibunya. Ada juga foto Putri Tineke di ruang tersebut. Kebanyakan puisi ditulis dalam Bahasa Belanda dan tulisan sambung halus yang bagus banget (jadi inget jaman saya kecil juga pernah diajar almh. Nenek saya menulis halus), ada juga yang menulis dalam Bahasa Indonesia, dan diterjemahkan dalam Bahasa Inggris dan Jepang. Kata-kata di puisi itu indah dan bagus bagus sih. Sekaligus menggambarkan juga gimana tutur bahasa orang jaman dulu. Bayangin loh.. menghibur orang aja pake puisi dan perumpamaan-perumpamaan! Nggak kebayang kalau itu dilakukan jaman sekarang.

Tokoh lain yang membuat saya berdecak kagum adalah Gusti Nurul Kamaril Ngasarati Kusumawardhani atau lebih dikenal Gusti Nurul. Saat ini beliau berusia sekitar 92 tahun dan kabarnya tinggal di Bandung. Apa istimewanya Gusti Nurul ini? Banyak! Beliau itu cantik dan anggun (bisa gampang dibrowsing), salah satu fotonya yang saya ambil dari internet yaa..
Dan beliau tidak hanya cantik anggun luar biasa, namun juga pintar dan berprinsip. Beliau pintar menari bahkan sampai menjadi tamu yang diundang Ratu Wilhelmina kala itu untuk menari di pernikahan putrinya, Putri Juliana dan Pangeran Bernard di Belanda. Kata mbak guide, Gusti Nurul menari srimpi di Belanda dengan musik dikirim lewat siaran live radio (mungkin sekarang semacam streaming atau video conference gitu kali ya) dari Jawa. Kebayang ya.. gimana sulitnya apalagi jaman itu kualitas radio pasti nggak sebaik saat ini. Tapi susah juga kalo bawa-bawa gamelan kesana. Hehehe. Beliau juga jago berkuda yang mana pada jaman itu merupakan hal tabu.
Kecantikan dan keanggunan Gusti Nurul banyak memikat pemuda-pemuda, bahkan mantan presiden Soekarno pun pernah meminangnya namun ditolak secara halus oleh Gusti Nurul (gileee). Kenapa? Karena Gusti Nurul berprinsip enggan dipoligami. Gusti Nurul menikah di usia 30 karena memegang teguh prinsipnya, dan beliau juga menikah dengan orang yang bukan pejabat atau orang kaya semacamnya. Pokoknya Gusti Nurul ini banyak menginspirasi dan tipikal perempuan modern di jamannya. Di museum ada ruang khusus Putri Dambaan yang isinya dokumentasi kehidupan Gusti Nurul.
Pintu Masuk Ullen Sentalu
Pintu Keluar Ullen Sentalu
Masih banyak lagi spot menarik, seperti kita diperkenalkan batik Jogja dan batik Solo beserta ciri-ciri dan perbedaannya. Diceritakan jaman dulu orang kalau mau membatik pake tapa dulu menunggu dapet ilham, dan konon katanya putri-putri jaman dulu membuat sendiri batik untuk dia dan suaminya pakai, makanya kenapa seorang putri harus bisa membatik. Dikatakan juga membatik merupakan latihan kesabaran karena orang ngebatik kan harus pelan-pelan, telaten, dan lama. Begitulah secara garis besar kunjungan ke Ullen Sentalu. Tidak semuanya bisa saya tuangkan karena bakal panjang banget, intinya museum ini recommended banget buat yang pergi ke Jogja. Kalau bukan kita yang mengenal sejarah kita sendiri, siapa lagi? :) *cie lagi bijak*

Dari Ullen Sentalu, kunjungan kami lanjutkan ke Kalimilk setelah sebelumnya mampir ke Mirota. Akhirnya nyobain juga Kalimilk yeayy! Rasanya…enak sih.. tapi kalau dibanding Cimory masih lebih berasa susunya Cimory (IMHO). Yah namanya juga buat pasar mahasiswa kali ya, karena banyak banget mahasiswa yang nongkrong disini. Hehehe


Dari Kalimilk tadinya kita mau ke Raminten ternyata penuh banget, apalagi malam minggu. Alhasil kita merubah haluan mampir ke Bakmi Jawa Kadin dulu sebelum siap-siap nonton Ramayana. Yeay!

Web Pendukung:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Pakoe_Boewono_XII_de_Susuhunan_van_Solo_in_de_kraton_TMnr_60052129.jpg
2. www.ullensentalu.com
3. http://fitri2boys2.blogspot.com/2013/08/museum-ullen-sentalu-kaliurang.html
4. http://primbondonit.blogspot.com/2012_03_01_archive.html

Fall in Love with Jogja - Day 1

Assalamualaikum dan Haii...

Setelah sekian lama nggak nge-blog, saya coba nulis lagi. Well, menulis sebenernya adalah salah satu hobi saya. Oke, sekarang saya akan sharing weekend saya di Jogja kemarin. Basi ya? Mudah-mudahan enggak ya..hahaha. dan mudah-mudahan tulisan saya ini bisa sedikit menunjukkan keindahan Indonesia. Amin..

Weekend kemarin saya ke Jogja, tepatnya berangkat Jumat (22 November 13) sore, dan pulang ke Jakarta lagi hari Senin (25 November 13) pagi. Trip ke jogja kali ini juga jadi ajang nyobain maskapai yang belum pernah saya coba. Hahaha~

Dimulai hari jumat sore, saya berangkat naik Citilink yang sampai Jogja sekitar jam setengah enam sore. Alasan pertama karena citilink cuma satu itu doang jadwalnya, dan pas dengan jadwal teman (guide) saya di Jogja pulang kantor.
Si Pink


Setelah si pink terkemas rapi, I’m ready to gooooo!

Sampai di Jogja, kami langsung ke Hotel Dafam Fortuna di Jl.Dagen Malioboro. Kenapa saya pilih hotel ini? Karena waktu itu lagi liat diskon di booking.com, ada yang lebih murah sih kata temen saya, tapi pertimbangan kedua karena ayah saya belum lama nginep disini katanya hotel baru jadinya enak, okedeh saya ngikut (dasar ga mau ribet :p ). Dari bandara ke Malioboro kami putuskan naik taksi rajawali, si taksi bandara dengan tarif Rp.60.000,-


Setelah check in di hotel, selonjoran sebentar, kita langsung ke tempat tujuan pertama: makan dan karaoke (iya iya, karaoke mah gak harus jauh jauh ke Jogja, ini lebih kearah udah lama banget kita berdua gak karokean bareng). Karaoke di Happy Puppy nya Yogya Tronik yang ternyata sekarang udah touch screen, dan makan di Bakso sekitar Yogya Tronik (lupa nama baksonya, tapi enak deh, ada bakso keju, bakso ranjau, bakso puyuh).
Selesai makan dan karaoke, iseng saya kontak teman kantor saya yang ternyata lagi dinas di Jogja. Dasar random ya, bisa ketemu disana gak janjian dan untuk misi yang berbeda. Haha~

Tapi karena hari sudah malam dan bingung mau kemana jadi kami memutuskan besok aja janjian jalan-jalan, karena kita punya tempat yang sama-sama ingin dikunjungi: Museum Ullen Sentalu. Setelah mempertimbangkan satu dan lain hal, saya dan teman saya (oh ya, namanya Muti), kami memutuskan untuk charter si taksi rajawali tadi untuk esok hari. Sebelumnya udah sempat tanya-tanya harga, ternyata bisa carter dengan tariff Rp.70.000 per jam atau Rp.500.000 per 12 jam. Karena mikir sekalian mau silaturahim ke tempat saudara saya (yang mana juga belum pernah saya sambangi sebelumnya jadi gak tau alamatnya), dan malamnya kami berencana nonton Ramayana, jadilah kami memutuskan carter 12 jam besok. Mahalkah hitungan tarifnya? Jujur karena soal carter mencarter ini agak dadakan dan dari hasil browsing kami sekilas kayanya kalo carter mobil biasa juga gak jauh beda, kami memutuskan yang pasti-pasti aja.

Jadilah malam itu kami pulang ke hotel nggak sabar menunggu esok hari…


 

Goresan Kalimatku Template by Ipietoon Cute Blog Design

Blogger Templates